web analytics

Potensi Pertanian Harta tak Ternilai di Era Industri 4.0

Potensi Pertanian Harta tak Ternilai di Era Industri 4.0
Lahan perkebunan sayuran Desa Rurukan Tomohon

Manado, SulutReview,com

Image miskin yang melekat pada petani, menjadi momok yang menakutkan bagi kaum milenial untuk berkutat di sektor pertanian.

Generasi zaman now lebih tertarik untuk menggeluti profesi kantoran yang mapan, yang dalam pandangan fisik mata terlihat mewah.

Padahal di tengah kemajuan dan kecanggihan teknologi dalam siklus kehidupan, sejatinya manusia tetap menempatkan pangan sebagai kebutuhan pokok yang tak tergantikan oleh apa pun.

Lantas mengapa generasi muda di era milenial saat ini enggan menggeluti sektor yang menjanjikan tersebut, yang sesungguhnya adalah harta terpendam yang tak ternilai di era revolusi industri 4.0.

Akankah ada harapan untuk menggali dan memulihkan potensi tersebut, yang terganjal oleh pandangan keliru. Di mana kaum milenial mengira, sektor pertanian tidak memiliki peluang dan prospek yang menjanjikan.

Faktanya, perguruan tinggi yang mencetak lulusan sarjana pertanian, tidak begitu dilirik. Calon mahasiswa justru memilih fakultas mentereng, seperti Fakultas Kedokteran, Fakultas Ekonomi dan Fakultas Hukum.

Sesuai catatan dari Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, jumlah calon mahasiswa yang mendaftar dari tahun ke tahun mengalami penurunan. Praktis, kuota atau daya tampung yang disediakan, tidak terpenuhi.

Dekan Fakultas Pertanian Unsrat Prof Ir Robert Molenaar MS PhD, menyebutkan kuota untuk penerimaan mahasiswa sebanyak 600 kursi tetapi hanya terisi 400-an kursi atau terjadi kekosongan 200-an kursi.

Dekan Fakultas Pertanian Unsrat Prof Ir Robert Molenaar MS PhD.

“Meski ada kursi yang tidak terisi, namun jumlah mahasiswa mengalami peningkatan cukup signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” kata Molenaar kepada wartawan, Kamis (12/9/2018).

Dijelaskan Molenaar ada delapan program Studi di Fakultas Pertanian Unsrat, yakni Teknik Pertanian, Ilmu dan Teknologi Pangan, Agribisnis, Agroekoteknologi, Kehutanan, Ilmu Tanah, Agronomi dan Proteksi Tanaman. Uniknya, yang paling diminati justru jurusan Agribisnis. Asumsinya, jurusan Agribisnis memberikan kesempatan kerja yang prospektif.

“Jumlah mahasiswa terbanyak ada di Agribisnis. Pertimbangan mahasiswa karena memiliki prospek kerja yang luas,” tukasnya.

Tak dapat dipungkiri, lulusan Fakultas Pertanian dewasa ini banyak yang memilih untuk bekerja di perkantoran dan perbankan. Alasannya, karena dunia kerja di sektor lain lebih terbuka, sedangkan bidang pertanian sangat minim.

“Minimnya lapangan pekerjaan banyak membuat lulusan Fakultas Pertanian mencoba peruntungan di sektor lainnya. Saya pun jika lulus nanti, jika mendapatkan tawaran bekerja di bank misalnya, yah pasti akan saya terima,” ungkap mahasiswa semester VII jurusan Teknologi Pangan Fakultas Pertanian Unsrat, Isky Tontik.

Mahasiswa Fakultas Pertanian Unsrat, Isky Tontik dan Andryano Alow.

Senada diungkapkan Andryano Alow yang juga mahasiswa semester VII Fakultas Pertanian Unsrat. Dia berharap pemerintah dapat menambah peluang kerja di sektor pertanian. Dengan demikian lulusan Fakultas Pertanian dapat memberikan kontribusi bagi kemajuan pangan. “Perlu ada terobosan dari pemerintah untuk membuka kran pekerjaan yang orientasinya ke sektor pertanian. Dengan begitu lulusan pertanian dapat memberikan kontribusi,” tandasnya.

Baik Isky maupun Andryano, perlu mendapatkan wawasan bahwa profesi petani itu bukan identik dengan kemiskinan, bahkan suram tanpa masa depan. Sebab, di Sulawesi Utara (Sulut) ada begitu banyak lahan yang dapat digarap secara maksimal.

Seorang profesional Daniel Pangemanan, saat ini sangat serius mengembangkan usaha agribisnis, dengan fokus pada tanaman jagung, cabai dan tomat.

Menurutnya, dalam periode tertentu secara berkesinambungan dapat menghasilkan pendapatan yang cukup fantastis. Terutama ketika komoditas, seperti tomat yang kerap memicu inflasi, karena harga di pasaran cukup tinggi. Dalam kondisi demikian, petani akan diuntungkan.

“Sangat lumayan sekali, ini menjadi kesempatan untuk meraup keuntungan berlipat. Untuk itu, fase tanamnya perlu diatur sedemikian rupa, sehingga pada saat panen raya harga jualnya di pasar bagus,” ungkapnya.

Terkait hal tersebut, Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey juga meletakkan harapan pada kemajuan sektor pertanian, yang secara langsung ikut mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Sehingga diharapkan ada passion dari generasi muda untuk meletakkan perhatian pada pertanian.

“Bayangkan gubernur pun harus mengurusi cabai. Makanya waktu harga cabai sempat tinggi, yang harganya sampai menyentuh ratusan ribu, salah satu upaya untuk menstabilkan harga adalah mendatangkannya dari Surabaya dengan pesawat Hercules,” tukasnya sembari menambahkan komoditas pertanian cabai sangat rentan terhadap hama dan penyakit.

Gubernur Sulut Olly Dondokambey saat memberikan kuliah umum.

“Untuk itu perlu dicarikan solusinya sehingga cabai tidak menjadi penyebab inflasi,” kata Olly saat menyampaikan kuliah umum di Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT) baru-baru ini.

Sementara itu, Dekan Fakultas Pertanian Prof Ir Robert Molenaar MS PhD mengajak para sarjana pertanian tidak perlu khawatir untuk menjadi petani seiring dengan perkembangan teknologi saat ini.

Ada begitu banyak orang-orang sukses yang dapat menginspirasi, yang berhasil mengentaskan perekonomian dengan memanfaatkan aplikasi pertanian yang dilakukan oleh perusahaan rintisan atau start-up lokal.

“Lakukan terobosan dan lompatan untuk memajukan pertanian dengan kualitas terbaik. Manfaatkan teknologi, karena saat ini kita ada di era revolusi industri 4.0. Kita dapat melihat petani-petani hebat di negara-negara maju. Mereka bekerja secara profesional, bagaimana merencanakan fase tanam, tahapan produksi hingga distribusi. Mereka dapat menguasainya dengan baik. Hal seperti inilah yang diharapkan dapat dilakukan generasi muda, mampu tampil menggali potensi pertanian,” beber Molenaar.

Molenaar juga menambahkan pertanian di Sulawesi Utara bahkan juga di daerah lainnya di Indonesia, umumnya didominasi sumber daya manusia dengan pendidikan rendah. “Makanya kondisi pertanian kita tidak maju. Harusnya pertanian sebagai sumber pangan kita diisi oleh tenaga profesional.  Dengan demikian dapat mendongkrak bertumbuhnya petani milenial yang modern yang sesuai dengan kejiwaan mereka yang berpola pada digital teknologi,” tandasnya.

Di sisi lain, terkait keberadaan petani di Sulawesi Utara yang masih belum sejahtera. Hal itu diperkuat oleh angka Badan Pusat Statistik (BPS) yang diketahui masih di bawah level 100. “Mengapa dapat seperti itu?. Karena pendekatan yang diterapkan masih sederhana tidak dibarengi dengan teknologi. Inilah kesempatan bagi petani milenial untuk mengembangkan pertanian dengan metode yang lebih modern, yang dapat meningkatkan kesejahteraan,” kata Molenaar.

Molenaar juga mengingatkan pemangku kepentingan untuk memperhatikan infrastruktur pertanian. Pasalnya, akibat minimnya infrastruktur menjadi penyebab lemahnya distribusi. “Kalau pun sampai di tingkat pembeli kualitas pertanian pangan sudah berkurang. Contohnya saja jagung manis, akan berkurang kualitasnya karena rantai pasok yang panjang. Untuk itu, petani juga harus difasilitasi sehingga hasil pertanian sampai ke konsumen tepat waktu,” ujarnya.

“Generasi muda milenial, ciptakanlah lapangan pekerjaan dengan ilmu yang kalian miliki. Jangan pernah ragu untuk melangkah. Sebab masa depan sungguh ada, dan jalan itu akan terbuka bagi mereka yang berani untuk berinovasi,” kuncinya.(hilda)

 

 

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply