Gorontalo, Sulutreview.com – Bagi sekitar 1.400 jiwa yang mendiami Pulau Dudepo di Kecamatan Anggrek, Kabupaten Gorontalo Utara, malam hari selama ini identik dengan kesunyian dan temaramnya pelita.
Namun, keadaan tersebut, tidak lama lagi, kegelapan yang bertahun-tahun menemani malam mereka akan segera sirna berganti benderangnya cahaya.
Harapan baru itu kini sedang dirajut di bawah biru dalam laut Gorontalo. PT PLN (Persero) melalui Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Gorontalo tengah memacu pembangunan Saluran Kabel Laut Tegangan Menengah (SKLTM) 20 kV—sebuah proyek kelistrikan yang bukan sekadar tentang tiang dan kabel, melainkan tentang menghadirkan keadilan dan senyuman di wajah warga kepulauan.
Pada Selasa (7/7/2026), General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Sulawesi Utara, Tengah, dan Gorontalo (Suluttenggo), Usman Bangun, turun langsung meninjau proyek bersejarah ini di Desa Ilangata, titik awal di mana kabel bawah laut sepanjang 1,95 kilometer sirkuit (kms) mulai dibentangkan menuju Pulau Dudepo.
Jaringan Listrik Bawah Laut Pertama
Membelah arus lautan demi mengalirkan energi bukanlah perkara mudah. Ini adalah proyek jaringan listrik bawah laut pertama yang pernah dibangun di seluruh sistem kelistrikan Suluttenggo. Sebuah pembuktian bahwa jarak dan kedalaman laut tidak boleh menjadi penghalang bagi hak masyarakat untuk merdeka dari kegelapan.
”Semoga hal ini menjadi langkah awal untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat Pulau Dudepo, mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, serta memperkuat pemerataan pembangunan,” ungkap Usman Bangun dengan penuh optimisme.
Saat ini, detak pengerjaan fisik telah menyentuh angka 65,68 persen. Para penyelam tangguh dari konsorsium PT Persada Energy and Contracting, PT Bangun Prima Semesta, dan Lumintuna Marine Service, di bawah pengawasan ketat PLN Pusat Manajemen Proyek (Pusmanpro), terus bertaruh waktu di bawah air demi menggelar kabel-kabel kehidupan tersebut.
PLN menargetkan, pada Agustus 2026 nanti, bertepatan dengan bulan kemerdekaan, masyarakat Pulau Dudepo sudah bisa menikmati pasokan listrik yang andal, aman, dan berkelanjutan.
Apresiasi mendalam dan rasa haru datang dari Wakil Gubernur Gorontalo, Dra. Hj. Idah Syahidah Rusli Habibie, M.H. Baginya, setiap jengkal kabel yang terbentang di dasar laut adalah urat nadi yang akan menghidupkan mimpi-mimpi anak-anak di Pulau Dudepo.
Anak-anak yang esok hari bisa belajar di bawah terang lampu, bukan lagi di bawah riak kecil api minyak tanah.
”Listrik merupakan urat nadi kehidupan masyarakat. Karena itu kami berharap pekerjaan ini dapat berjalan lancar sehingga mampu melistriki sekitar 390 kepala keluarga dengan jumlah penduduk sekitar 1.400 jiwa di Pulau Dudepo,” ujar Idah penuh harap.
Secara khusus, ia memberikan penghormatan kepada para pekerja di lapangan.
”Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh jajaran PLN dan para penyelam yang bekerja di lapangan. Semoga seluruh proses berjalan lancar, para pekerja selalu diberikan kesehatan dan keselamatan.”
Keberhasilan menyambung aliran listrik ke Pulau Dudepo nantinya bukan sekadar angka statistik di atas kertas. Suksesnya proyek ini akan membawa Provinsi Gorontalo mencetak sejarah baru, yakni Rasio Desa Berlistrik (RDB) mencapai 100 persen.
Itu artinya, tidak ada lagi desa yang terisolasi dari energi di tanah Gorontalo.
Ketika sakelar pertama dinyalakan di Pulau Dudepo bulan depan, ia tidak hanya akan menerangi rumah-rumah warga.
Cahaya itu akan menyalakan mesin-mesin nelayan, menghidupkan fasilitas kesehatan, membuka jendela informasi bagi sekolah-sekolah, dan yang terpenting: membuktikan bahwa mereka yang tinggal di pulau terluar pun, tidak pernah dilupakan.(hilda)












