Manado, Sulutreview.com – Sektor pariwisata menjadi salah satu penggerak penting pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Utara (Sulut). Selain menghadirkan keindahan alam dan destinasi wisata, industri ini juga menciptakan efek berganda atau multiplier effect yang memberikan manfaat luas bagi berbagai sektor usaha dan masyarakat.
Dikatakan Kepala Dinas Pariwisata Daerah (Dispar) Sulut, dr. Kartika Devi Tanos, MARS, bahwa kontribusi pariwisata terhadap perekonomian daerah sangat besar. Menurutnya, dampak pariwisata tidak hanya dirasakan oleh pengelola destinasi wisata, tetapi juga menjangkau seluruh sektor. Mulai dari transportasi, kuliner, kerajinan hingga usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang menyasar pada penyerapan tenaga kerja.
“Pariwisata memiliki multiplier effect yang sangat besar. Ketika wisatawan datang, bukan hanya destinasi yang mendapatkan manfaat, tetapi juga sektor transportasi seperti sopir dan penyedia jasa sewa kendaraan. Demikian pula sektor kuliner, mulai dari tukang masak hingga pemasok bahan makanan ikut merasakan dampaknya,” ujar Kartika saat Ngobrol Pintar Bareng Jurnalis Independen Pemprov Sulut di Museum Negeri Sulut, pada Jumat (19/06/2026).
Ia menambahkan, sektor ekonomi kreatif juga memperoleh keuntungan dari meningkatnya aktivitas wisata. Produk kerajinan tangan, suvenir, kriya, wastra hingga berbagai produk khas daerah menjadi bagian dari rantai ekonomi yang tumbuh bersama sektor pariwisata.
“Jadi yang dijual bukan sekadar pemandangan yang indah. Ada banyak mata rantai ekonomi yang bergerak di dalamnya. Karena itu, pariwisata memiliki dampak yang sangat besar terhadap pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara,” katanya.
Untuk mendukung pertumbuhan sektor pariwisata, Pemerintah Provinsi Sulut terus mendorong revitalisasi destinasi serta peningkatan konektivitas, baik melalui jalur udara maupun laut.
Kartika mengatakan Sulut memiliki peluang besar dengan semakin banyaknya kapal pesiar (cruise ship) yang menjadikan daerah ini sebagai salah satu tujuan kunjungan wisata.
“Kami terus melakukan revitalisasi destinasi dan memperkuat konektivitas. Baik konektivitas udara maupun laut sangat penting karena akses menjadi salah satu faktor utama dalam pengembangan pariwisata,” ujarnya.
Saat ini, berdasarkan profil pariwisata Sulut, khususnya di tengah berbagai tantangan, Sulut mencatat peningkatan signifikan kunjungan wisatawan mancanegara, khususnya dari Tiongkok.
“Jika dibandingkan tahun sebelumnya atau year on year 2025, kunjungan wisatawan asal Tiongkok meningkat sekitar 120 persen. Ini menunjukkan pasar internasional masih memiliki minat yang besar terhadap Sulawesi Utara,” ungkap Kartika.
Namun demikian, jumlah wisatawan nusantara (wisnus) mengalami penurunan. Kondisi tersebut dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari situasi ekonomi hingga meningkatnya biaya transportasi.
“Kami melihat ada penurunan wisatawan nusantara yang dipengaruhi situasi saat ini, termasuk faktor geopolitik dan kenaikan harga avtur yang berdampak pada harga tiket pesawat,” jelasnya.
Menghadapi kondisi tersebut, pemerintah daerah terus berkoordinasi dengan berbagai asosiasi pelaku usaha pariwisata untuk mencari solusi bersama.
Kartika menyebut Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) turut mengambil langkah promosi dengan memberikan berbagai penawaran menarik bagi wisatawan.
“Bersama asosiasi yang ada, kami terus mencari solusi. PHRI misalnya melakukan promosi dengan menawarkan harga kamar yang lebih terjangkau. Sejumlah destinasi wisata juga memberikan potongan harga agar minat kunjungan tetap terjaga,” katanya.
Ia juga menyoroti berkurangnya frekuensi penerbangan akibat menurunnya permintaan pasar.
“Kalau sebelumnya dalam satu minggu ada tujuh kali penerbangan, sejak April frekuensinya menjadi empat kali. Demand menurun karena faktor ekonomi dan harga tiket yang relatif mahal. Ini menjadi tantangan yang harus disikapi bersama dengan maskapai penerbangan,” ujarnya.
Kegiatan yang bertema Pariwisata dan Kebudayaan sebagai Mesin Pertumbuhan Ekonomi Sulawesi Utara ini, diharapkan dapat menjalin kolaborasi dengan semua pihak, termasuk media.
“Kami berharap pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan terus memperkuat sektor pariwisata Sulawesi Utara melalui peningkatan konektivitas, pengembangan destinasi, serta promosi yang berkelanjutan. Karena potensi wisata Sulut sangat besar dan perlu didukung dengan akses transportasi yang lebih baik agar semakin mudah dijangkau wisatawan,” ucap koordinator JIPS Ronald Rompas.
Selain itu, pengembangan desa wisata, pelestarian budaya lokal, dan pemberdayaan UMKM di sekitar destinasi diharapkan menjadi prioritas sehingga manfaat ekonomi pariwisata dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.(hilda)













