Hadiri Festival Anak Sulut, Bunda Paud Ellen Honandar Sondakh Dukung Perlindungan Anak dari Kekerasan Dunia Maya

Bitung, Sulutreview.com– Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (Paud) Kota Bitung Ny Ellen Honandar Sondakh SE, menghadiri Festival Anak Sulawesi Utara (Sulut) dalam rangka Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) yang digelar di Aula Mapalus, Kantor Gubernur Sulawesi Utara, Senin (03/08/2026).

Pada kegiatan Festival ini diikuti peserta se-Sulut dengan mengusung tema “Sayangi Anak, Lindungi, dan Bangun Masa Depan.” Tema tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan yang berfokus pada pemenuhan hak dan perlindungan anak seperti Imunisasi Bias (Bulan Imunisasi Anak Sekolah).

Kegiatan ini dihadiri langsung Gubernur Sulut Yulius Selvanus Komaling (YSK) yang juga menjadi Ayahanda Paud Sulut didampingi Bunda Paud Provinsi Sulut Ny Anik Selvanus Komaling.

Ayahanda Paud Sulut, Bapak Yulius Selvanus Komaling sangat mengapresiasi kreativitas anak-anak di Sulut dalam memperingati HAN ini.

Sementara itu Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Daerah (P3AD) Sulawesi Utara Ny Tienneke Adam bahwa salah satu pokok dalam Festival ini adalah untuk memberikan literasi dan pemahaman untuk memerangi dan melindungi anak-anak dari kekerasan digital di dunia maya saat ini.

Menyikapi hal tersebut, Bunda Paud Bitung Ny Ellen Honandar Sondakh SE mengatakan sangat mendukung kegiatan Festival ini, serta merespons positif akan perlindungan anak dalam memerangi dari kekerasan dunia maya.

Kita menyadari bahwa saat ini sudah eranya Digital. Namun bukan berarti pengawasan orangtua terhadap anak dikesampingkan. Melainkan dapat selalu ditingkatkan dengan mengontrol ponsel dan juga wadah digital lainya.

Selain itu, perlindungan terhadap anak yaitu menghentikan kekerasan fisik, psikis dan pornografi. Langkah utama untuk melawan masalah ini mencakup penguatan peran keluarga, penegakan hukum yang tegas, serta penyediaan layanan pengaduan yang cepat.

“Untuk itu saya mengajak kepada seluruh Orangtua untuk terus mengawasi anak-anak kita, ambil waktu untuk kembali ke permainan traditional serta mendongeng kepada anak-anak yang mulai tergerus namun sangat briliant untuk kembali dirajut,” paparnya.(zet)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *