Minut, Sulutreview.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Minahasa Utara (Minut) melalui Dinas Pariwisata menggelar Dialog Budaya “Sumengor” yang berlangsung di Casa de Fada, Desa Warukapas, Kecamatan Dimembe, Minahasa Utara. Kamis, (15/5/2025).
Bupati Minahasa Utara Joune Ganda yang diwakili oleh Kepala Dinas Pariwisata Minut Dra. Femmy Pangkerego M.Pd., M.E. membuka dialog budaya ini.
Dialog Budaya “Sumengor” bertujuan untuk mempromosikan dan mengembangkan potensi budaya daerah yang ada di Minahasa Utara.

Dalam konteks Dialog Budaya “Sumengor”, diambil dari bahasa tonsea yang berarti “Ba uap” atau “Ba asap, hal ini dikaitkan dengan salah satu kegiatan yang merupakan tradisi dari daerah Tonsea, seperti ba’ Kure atau ba’ kera yang dalam bahasa moderen saat ini disebut steam bath.
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XVII Sulawesi Utara dan Gorontalo (SulutGo) Bapak Sri Sugiharta ,S.S.,M.PA dalam sambutannya mengapresiasi kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam terlaksananya acara ini.
“Kita semua menyadari bahwa pelestarian kebudayaan merupakan tugas yang penting dan harus kita lakukan bersama. Acara dialog budaya ini tidak hanya sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan budaya yang ada, tetapi juga sebagai momen untuk berbagi pencerahan dan pemahaman,” ucap Sugiharta.
Kabalai Sri Sugiharta pun menekankan pentingnya kolaborasi antara berbagai pihak, termasuk komunitas kesehatan dan sektor pariwisata, dalam upaya pelestarian budaya. Dimana banyak aspek pariwisata yang sangat dipengaruhi oleh budaya setempat. Oleh karena itu, kegiatan ini juga menjadi wadah untuk mendiskusikan berbagai isu dan usulan yang mungkin muncul dari para peserta dialog, agar bisa menemukan solusi yang tepat dalam mengembangkan dan melindungi kebudayaan.
Sementara itu, Bupati Minahasa Utara, Joune Ganda dalam sambutannya yang dibacakan oleh Kadis Pariwisata Minut Dra. Femmy Pangkerego M.Pd., M.E. mengatakan, Atas nama pribadi, Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara, Bupati dan
Wakil Bupati, menyampaikan apresiasi dan salut, atas penyelenggaraan kegiatan
ini, dalam rangka mendukung wahana pelestarian, dan pengembangan
kebudayaan bangsa dan daerah kita Minahasa, khususnya Minahasa Utara.
“Budaya secara umum merujuk pada cara hidup yang berkembang dan dimiliki
bersama oleh sebuah kelompok manusia, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ini mencakup berbagai aspek, termasuk pengetahuan,
kepercayaan, seni, moral, hukum adat, dan kemampuan yang diperoleh manusia. Dengan kata lain, budaya adalah hasil karya, rasa, dan
cipta manusia yang membentuk tatanan kehidupan kompleks.
Oleh karena itu, pada kesempatan ini, saya mengajak seluruh elemen
masyarakat dan pemangku kebijakan, untuk terus menjaga dan melestarikan budaya adat masyarakat, untuk perkembangan dan kemajuan budaya di masyarakat khususnya kebudayaan di Minahasa Utara. Hal ini perlu saya ingatkan kepada kita semua, ditengah kemajuan ilmu, pengetahuan dan teknologi informasi.
Dialog Kebudayaan ini, menjadi momentum untuk memelihara atau
mengembangkan nilai-nilai tradisi yang ada di masyarakat Kabupaten Minahasa Utara. Memelihara dan mengembangkan nilai-nilai tradisi daerah, yang merupakan jati diri, dan sebagai lambang kebanggaan masyarakat daerah yang multikultural,” Kata Kadis Femmy.
Acara dilanjutkan dengan penjelasan mengenai kolaborasi steam bath yang berhubungan dengan budaya kure secara tradisional, di mana praktik kedokteran ditambahkan ke dalamnya. Ibu Elisabeth M.F. Lalita, SKM.,M.Kes. menjelaskan penelitian mengenai manfaat penggunaan bahan-bahan herbal seperti daun Turi dan cengkih.
Salah satu sorotan dari dialog ini adalah pemaparan mengenai budaya kure Minahasa, yang berfokus pada praktik kesehatan pasca melahirkan, termasuk Bakera (mandi uap) dan perawatan di Rompon (kamar khusus). Kedua praktik ini memiliki banyak manfaat bagi perempuan setelah melahirkan, maupun pada orang yang ingin memelihara kesehatan.
Acara ini juga disuguhkan dengan penampilan Tari Tumatenden dari SDN 36 Kaima, lalu dilanjutkan dengan diskusi mendalam mengenai budaya kure “Sumengor” oleh Prof. Benny Pinontoan, MSc.
Dikesempatan yang sama, Sekretaris Umum Paimpuluan Nuwu ne Tonsea (PNNT) Maxi Pinontoan M.Pd., kepada media mengungkapkan, kegiatan seperti ini sudah jarang dilaksanakan, oleh sebab itu pihaknya ingin mengangkat kembali kegiatan yang melestarikan budaya. Ia pun berharap pemerintah memperhatikan adat istiadat dan budaya, khususnya di Tanah Tonsea.
“Kami dalam waktu dekat akan mengadakan dialog yang akan dibantu oleh BPK17, yaitu tentang Sumokso, tentang rumaris dan lumelek,” ucap Maxi.
Lanjutnya, “Saya adalah Sekum paimpuluan nuwu ne tonsea tetapi kami tidak monopoli budaya Tonsea, namun kami melaksanakan di bulan Januari yaitu acara Tulude di Desa Darunu Kecamatan Wori dan di Sarongsong II Kecamatan Airmadidi. Kemudian di bulan Februari menggelar lomba masamper,” tambahnya.
Maxi juga menekankan perlunya dukungan dari semua pihak, termasuk pemerintah dan dinas terkait, untuk memastikan pelestarian budaya tradisional.
Partisipasi berbagai suku, termasuk suku Sanger, mencerminkan keanekaragaman budaya dan semangat kolaborasi. Respons positif dari komunitas menunjukkan pentingnya partisipasi mereka dalam mempertahankan identitas budaya.
Dengan inisiatif yang inklusif, PNNT berkomitmen untuk memajukan seni dan budaya daerah, menciptakan kesempatan bagi generasi muda untuk berkontribusi. (**)













