Economics Journalist dan BI Sulut Perkuat Sinergi Komunikasi dan Literasi

Direktur Departemen Komunikasi, Fadjar Majardi bersama Kepala KPw BI Sulut Andry Prasmuko. Foto : istimewa

Jakarta, Sulutreview.com – Kemitraan antara Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) dan Economics Journalist senantiasa terjaga dengan penyampaian informasi yang tepat dan efektif.

BI memfokuskan strategi komunikasinya pada produk kebijakan yang selaras dengan ekspektasi dan kebutuhan publik.

Diharapkan kebijakan komunikasi tersebut dapat membentuk ekspektasi masyarakat sesuai dengan arah kebijakan Bank Indonesia.

Dikatakan Direktur Departemen Komunikasi, Fadjar Majardi, ​pemahaman transparansi dan komunikasi bank sentral telah mengalami banyak perubahan.

Hal itu didorong oleh pesatnya inovasi dan digitalisasi maupun heterogenitas penduduk Indonesia yang mana hampir 60% merupakan milenial yang paham teknologi digital, sehingga berdampak pada strategi komunikasi di Indonesia.

“Terkait komunikasi, BI turut mengambil langkah transformasi yang mencakup kerangka kerja komunikasi yang berlandaskan pada 3 hal strategi thinking, yakni, mengelola stakeholdersexpectation, meningkatkan literasi publik dan mengelola transparansi maupun responsibilitas untuk mendukung efektivitas komunikasi kebijakan BI,” ungkap Fadjar pada kunjungan wartawan BI Sulut 2023 di Jakarta, Rabu (18/10/2023).

Melalui tema ‘Perkuat Sinergi Tingkatkan Komunikasi dan Literasi’ Fadjar kembali menjelaskan fungsi komunikasi BI yang dilandaskan pada tiga pilar.

“Kami merumuskan fungsi komunikasi BI yang dilandaskan pada tiga pilar, saat ini sampai ke depan itu seperti apa. Pertama, apa yang disampaikan secara jelas sehingga masyarakat merasa secure ke mana arahnya,” ujarnya sembari mencontohkan tentang inflasi, di mana masyarakat sudah lebih jelas untuk mengelola ekspektasinya.

Pilar kedua, lanjut Fadjar adalah edukasi yang disampaikan BI bukan hanya moneter dan makro ekonomi, tetapi juga peluncuran QRIS yang berkembang terus.

Pilar tiga adalah transparansi mengikut UU dan informasi publik yang dilakukan secara transparan, yang disampaikan BI.

“Keterbukaan itu tidak dari dulu, tetapi masih tetap di internal masih mengecualikan berbagai informasi. Sambil jalan, kita bangun mindset kita, hingga keterbukaan informasi itu memunculkan pemahaman tersendiri,” tukasnya.

Ia berharap komunikasi BI dapat disampaikan ke publik dengan baik, terutama di tengah perkembangan digital.

“Di tengah perkembangan digital, media massa masih menjadi sumber informasi terpercaya dan kredible. Tantangannya adalah faktor loaded information. “Saat ini, ada begitu banyak beredar berbagai informasi muncul semua. Bahkan siapa saja bisa jadi komunikator. Saya berharap bantuan media, sehingga persepsi dan ekspektasi masyarakat dibawa ke arah yang benar, jadi tidak buyers atau panic buying,” pungkasnya.

Kepala KPw BI Sulut, Andry Prasmuko menjelaskan bahwa tingkat kepercayaan masyarakat kepada media itu masih tinggi.

“Masyarakat masih percaya kepada informasi yang disampaikan media. Untuk itulah kami selalu bersinergi dengan media,” tutur Prasmuko.

Untuk sinergitas informasi, media juga diberikan keluasan terkoneksi dengan website BI. “Pemberitaan yang didampaikan dapat dikoneksikan dengan website Bank Indonesia,” tukasnya.

Kehadiran Economic Journalist Sulut ke Jakarta, sambung Prasmuko agar dapat mengenal lebih dekat kantor pusat BI.

“Kami ingin media di Sulut lebih mengenal BI. Makanya dibawa ke kantor pusat. Karena sumber informasinya kan dari sini,” ujarnya.

Untuk lebih mengasah keterampilan jurnalis, BI menghadirkan Redaktur Ekonomi Tempo,
Efri Ritonga yang membagikan ilmu tentang pembagian berita ekonomi yang relevan hingga disrupsi.

Klickbait adalah musuh kita yang harus terus diperbaiki. Ini menjadi tugas media sebagai penyebaran informasi,” tandasnya.(hilda)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *