Manado, Sulutreview.com – Mewujudkan kualitas udara yang bersih demi lingkungan yang sehat, intens digencarkan Pertamina. Salah satunya dengan mendorong penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) ramah lingkungan.
Sales Branch Manager Rayon III Pertamina Area Sulawesi Utara dan Gorontalo, Sandi Saryanto mengajak masyarakat konsumen untuk berpikir dan bertindak bijak dengan menggunakan energi baik, yakni produk BBM ramah lingkungan, seperti Premium Ron 88, Pertalite Ron 90, Pertamax Ron 92, Pertamax Turbo Ron 98, Pertamina Bio Solar Cetane 48, Dexlite Cetane 51 dan Pertamina Dex Cetane 53.
“Dengan menggunakan BBM berkualitas, akan memberikan manfaat yang besar. Contohnya seperti Pertalite Ron 90, lebih hemat dan irit serta performa mesin akan lebih baik dari Premium. Demikian juga dengan Pertamax Ron 92 akan membersihkan dan melindungi mesin pembakaran lebih optimal sehingga irit dan tentu saja eco friendly atau ramah lingkungan,” ungkapnya dalam desi Talkshow yang digelar di Hotel Aston Manado, Rabu (10/02/2021).
Dengan dipandu oleh Muhammad Iqbal Hidayatulloh Jr. Officer Communication & Relations Pertamina Regional Sulawesi, kembali disebutkan bahwa BBM yang ramah lingkungan, sebut Sandi akan berpengaruh terhadap peningkatan kualitas udara yang sehat.
“Langit dan udara di Manado memang masih sangat baik, dibandingkan dengan kota besar lainnya di Indonesia. Namun kita harus tetap menjaga dengan menggunakan energi yang baik,” tukasnya sembari merinci tentang peran Pertamina bagi masyarakat, bahwa dalam menjalankan bisnisnya memiliki dua peran utama yang harus berjalan selaras yaitu sebagai perusahaan yang melakukan punlic service dan menjamin pemenuhan BBM bagi seluruh masyarakat. “Pertamina juga dituntut mempunyai performa bisnis yang baik atau profitable. Dengan demikian Pertamina harus dapat menjaga keberlanjutan bisnisnya dengan selalu mempertimbangkan aspek yang terkait dengan people, planet dan prosperity,” tandasnya.
Sebelumnya, dalam Talkshow, Pertamina menghadirkan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), Ir Marly Gumalang MSi, yang mengulas tentang sumber emisi yang mencemari udara, yang berasal dari kendaraan bermotor, kereta api, pesawat terbang, kapal laut dan kendaraan berat lainnya. Berikut dari sumber emisi cerobong, industri, genset, incenerator. Bahkan dari kebakaran hutan dan pembakaran sampah.

Marly menyebutkan, bahwa nilai kualitas udara di Sulut masih sangat baik dengan catatan angka 92, jauh di atas standar yang ditetapkan sebesar 80.
Dia juga merinci bahwa Sulut memiliki alat pengukur udara yang dapat diandalkan seperti AQMS adalah untuk mengetahui zat pencemar udara seperti HC, CO, 03, NO2, SO2, PM10, PM2,5 secara real time dalam rangka penetapan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU).
Alat ini menggambarkan kondisi udara di lokasi dan waktu tertentu yang didasarkan kepada dampak kesehatan manusia, nilai estetika dan makhluk hidup lainnya.
Di Sulut stasiun pengukurannya berada di samping kanan Kantor Gubernur Sulawesi Utara tepatnya di Kantor Camat Wanea, dengan display indoor berada di Kantor DLHD Prov. Sulut dan display outdoor berada di seputaran lapangan tikala.
“AQMS dapat mengetahui data kualitas udara setiap 1 jam,” ujarnya.
Selanjutnya, Passive Sampler adalah metode sederhana yang digunakan untuk pengukuran kualitas udara ambien dengan menggunakan parameter ukur NO2 dan SO2. Pelaksanaan kegiatan ini tersebar pada 15 Kabupaten/ Kota se Provinsi Sulawesi Utara pada lokasi sampling mewakili lokasi perkantoran, pemukiman transportasi dan industri.
Kemudian GENT Sampler, adalah alat pencuplik untuk mendapatkan partikulat udara dengan ukuran PM2,5 dan PM10 yang nantinya melalui analisis laboratorium bisa mendapatkan konsentrasi logam berat di udara ambien. Pelaksanaan kegiatan sampling ini bekerjasama dengan Pusat Sains dan Teknologi Nuklir apan BATAN dan KLHK.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulut, Dr Debie Kalalo MSc.PH mengungkapkan bahwa data WHO monitoring terhadap 3000 kota dan estimasi dari kematian dan penyakit akibat polusi udara di beberapa negara disebutkan 92 persen populasi masyarakat kota dan desa tinggal di tempat dengan udara di atas batasan standar WHO.
“56 persen dari kota mempunyai level 3,5 persen kali lebih banyak di atas standar WHO. Dan 87 persen kematian dari polusi udara luar terjadi di negara dengan income rendah dan sedang,” urainya.(hilda)













