Minahasa Utara, Sulutreview.com – Di bawah terik matahari pesisir Desa Tarabitan, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara, jemari terampil para ibu rumah tangga kini sibuk mengamati tangki-tangki air berdiameter sedang.
Di dalam air yang terus berputar lembut itu, jutaan mikroalga berwarna hijau pekat bergerak mengikuti arus.
Bagi warga Tarabitan, cairan hijau yang dikenal sebagai spirulina ini bukan lagi sekadar tumbuhan air biasa. Komoditas superfood ini telah menjelma menjadi harapan baru untuk memperbaiki ekonomi keluarga dan masa depan anak-anak mereka.
Langkah perubahan ini bermula dari kepedulian PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo (Suluttenggo).
Lewat program Electrifying Agriculture, PLN masuk ke desa ini membawa sentuhan teknologi kelistrikan untuk membantu warga mengolah “emas hijau” dari kolam-kolam buatan mereka.
”Dulu kami tidak tahu apa itu spirulina, apalagi cara mengolahnya. Tapi sekarang, lewat pendampingan dan pasokan listrik dari PLN, kami bisa melihat peluang masa depan yang lebih cerah langsung dari halaman rumah kami,” ungkap Ketua Kelompok Spirulina Farm Desa Tarabitan dengan mata berbinar penuh optimisme.
Bagi kelompok tani setempat, kehadiran listrik yang andal dari PLN laksana aliran darah baru. Listrik digunakan secara produktif untuk menjaga pompa sirkulasi air dan sistem pencahayaan buatan agar mikroalga kaya nutrisi ini dapat tumbuh optimal 24 jam penuh tanpa terganggu cuaca buruk.
Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN ini memang dirancang tidak hanya untuk memberi bantuan instan, melainkan membangun kemandirian yang berkelanjutan (Creating Shared Value).
General Manager PLN UID Suluttenggo, Usman Bangun, mengutarakan bahwa teknologi kelistrikan harus mampu menyentuh aspek paling mendasar dari kehidupan masyarakat, yaitu kemandirian ekonomi dan ketahanan pangan.
”Kami ingin listrik PLN tidak sekadar menerangi rumah di malam hari, tetapi juga menjadi motor penggerak mimpi-mimpi masyarakat desa. Melalui budidaya spirulina ini, kami memastikan keandalan pasokan listrik hadir untuk memberikan nilai tambah nyata bagi produktivitas dan pendapatan warga Tarabitan,” jelas Usman hangat.
Tak tanggung-tanggung, warga tidak hanya diajarkan cara memelihara alga, tetapi juga dibimbing langsung oleh para ahli tentang bagaimana mengolah hasil panen menjadi produk bernilai jual tinggi, mengemasnya dengan apik, hingga memasarkannya secara digital ke luar daerah.
Ketua Forum IKM-UMKM Kota Manado, Santje Pontoh, yang turut mendampingi warga, melihat potensi luar biasa dari ketekunan para ibu di desa ini. Menurutnya, spirulina adalah komoditas premium berharga tinggi di pasar kesehatan dan kecantikan global.
”Mereka belajar dengan sangat cepat. Dari yang awalnya ragu, kini mereka sudah memahami pentingnya standardisasi produk dan pengemasan yang menarik agar bisa bersaing di pasar modern,” kata Santje bangga.
Komitmen untuk tidak membiarkan warga berjalan sendiri ditegaskan kembali oleh Manager PLN UP3 Manado, Revi Aldrian. Baginya, keberhasilan program ini diukur dari seberapa tangguh masyarakat setelah pelatihan usai.
”Kami tidak ingin ini menjadi program seremonial belaka. Kami berkomitmen untuk terus mendampingi mereka sampai kelompok ini benar-benar mandiri. Kami ingin melihat lahirnya ekosistem usaha baru yang mandiri secara ekonomi di Desa Tarabitan,” tutur Revi.
Kini, dari sebuah desa pesisir di Minahasa Utara, riak air di kolam-kolam spirulina yang digerakkan oleh listrik PLN tidak hanya memutar mikroalga, tetapi juga sedang memutar roda perekonomian warga menuju kehidupan yang lebih sejahtera secara mandiri dan berkelanjutan.(hilda)












