BI Sulut Optimistis Inflasi Sepanjang Tahun 2018 Terjaga

BI Sulut Optimistis Inflasi Sepanjang Tahun 2018 Terjaga

Manado, SULUTREVIEW

Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulut, memperkirakan bahwa sepanjang tahun 2018, inflasi akan berada pada rentang 3,5±1% (yoy) dengan kecenderungan bias ke bawah.

Hal itu diperkuat melalui sinergitaa yang terus dilakukan antara pemerintah daerah dan Bank Indonesia melalui wadah Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang menjadi kunci untuk mencapai target rentang inflasi.

“TPID akan terus memantau secara ketat dan akan melakukan tindakan yang dianggap perlu untuk mengendalikan harga, terutama pada kelompok bahan Makanan serta kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan yang berpotensi memberikan tekanan yang cukup tinggi pada inflasi Sulut,” kata Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Sulut, Soekowardojo Kamis (1/11/2018).

Selain itu, untuk menjaga inflasi, TPID Sulut juga melakukan rapat tim teknis dalam mempersiapkan pengendalian inflasi menjelang Natal dan Tahun Baru. Berikut menjaga keterjangkauan harga yang dilakukan melalui gerakan BARITO 2 menjelang Natal dan Tahun Baru serta operasi Pasar Bulog dan pasar murah Disperindag menjelang Natal dan Tahun baru.

“TPID juga senantiasa menjaga ekspektasi masyarakat melalui kampanye gerakan mengurangi konsumsi menjelang natal dan tahun baru melalui talkshow dan tayangan iklan. Sebagai bentuk forward looking, TPID Sulawesi Utara juga sudah membahas roadmap
Pengendalian Inflasi 2019-2021,” jelas Soekowardojo.

Diketahui, pada Oktober 2018, inflasi Sulawesi Utara tercatat sebesar 0,08% (mtm). Inflasi tahun kalender sebesar 1,17% year todate (ytd) dan inflasi tahunan sebesar 1,59% (yoy). Secara bulanan, tekanan inflasi pada bulan Oktober 2018 kembali meningkat setelah 3 bulan sebelumnya mencatatkan deflasi.

Inflasi pada bulan Oktober 2018 masih lebih rendah jika dibandingkan dengan rata-rata inflasi Sulut pada 5 tahun terakhir (0,42%, mtm) dan inflasi Nasional (0,28%, mtm). Secara tahunan, inflasi sulut pada bulan Oktober tercatat lebih tinggi dari bulan sebelumnya (1,49%, yoy) namun masih lebih rendah dari rata-rata inflasi 5 tahun terakhir (4,93%, yoy) dan inflasi Nasional (3,16%, yoy).

Secara spasial, Kota Manado merupakan Kota dengan inflasi terendah No.5 dari 11 Kota di Sulawesi yang hampir seluruhnya mencatatkan inflasi.

Berdasarkan kelompoknya, inflasi terjadi pada kelompok bahan makanan, makanan jadi, minuman, rokok & tembakau, perumahan, Air, listrik, gas, & bahan bakar, sandang dan pendidikan, rekreasi dan olahraga sementara kelompok kesehatan dan transpor, komunikasi & jasa keuangan menahan laju inflasi dengan mencatatkan deflasi.

Laju inflasi pada bulan Oktober 2018, terutama disebabkan oleh laju inflasi kelompok bahan makanan yang mencatatkan inflasi sebesar 0,96% (mtm) dengan menyumbangkan andil inflasi sebesar 0,22% (smtm*).

Inflasi kelompok bahan makanan terutama disebabkan oleh kembali meningkatnya harga komoditas tomat sayur yang sempat menyentuh harga terendahnya pada tahun ini.

Komoditas tomat sayur sendiri menyumbangkan andil inflasi sebesar 0,10% (smtm*). Penyebabnya adalah berkurangnya suplai di pasar menjadi salah satu alasan komoditas cabai rawit dan tindarung masing-masing menyumbangkan andil inflasi sebesar 0,09% dan 0,06% (smtm*).

Di sisi lain, komoditas bawang merah, anggur dan pisang menahan laju inflasi dengan menyumbangkan andil deflasi masing-masing sebesar -0,07%, -0,04% dan -0,04% (smtm*).

Inflasi juga didorong oleh kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar yang menyumbangkan inflasi sebesar 0,17% (mtm) dengan menyumbangkan andil inflasi sebesar 0,05% (smtm*).

Inflasi pada kelompok perumahan, air, listrik, gas & bahan bakar disumbangkan oleh inflasi yang terjadi pada komoditas seng yang andil inflasi bulanan sebesar 0,05 (smtm*).

Tingginya permintaan seng diperkirakan menjadi sebab meningkatnya harga komoditas seng pada bulan Oktober 2018.

Sementara itu, kelompok Transpor, Komunikasi, dan Jasa Keuangan tercatat mengalami deflasi sebesar 1,33% sehingga menyumbangkan andil deflasi sebesar -0,22% (smtm*).

Normalisasi harga Angkutan Udara yang menyumbangkan andil deflasi sebesar -0,25% (smtm*) disebabkan oleh kembali dibukanya salah satu rute penerbangan langsung ke Bali sehingga permintaan tiket ke Jakarta sebagai salah satu tujuan transit berkurang.

Sementara itu, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau; kesehatan, sandang dan pendidikan, rekreasi & olahraga relatif menyumbangkan andil inflasi dan deflasi yang relatif kecil.(eda/*)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply