Manado, SULUTREVIEW
Kunjungan wisatawan baik domestik maupun mancanegara (wisman) di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), terus mengalami lonjakan.
Terbukti wisman yang datang sampai dengan bulan Agustus 2018, melalui pintu keimigrasian tercatat 86,201orang. Jumlah tersebut tidak termasuk turis yang datang dari Bali, Jakarta atau tempat lainnya.
Sulut dengan berbagai unggulan eksotis, seharusnya dapat lebih melejit. Contohnya saja Banyuwangi yang ada di Provinsi Jawa Timur, dalam waktu singkat mampu mendatangkan 216 ribu wisatawan.
“Kalau kita lihat secara nasional, dalam konteks wisman yang berkunjung ke Sulut itu baru mencapai sekitar 0,8% sampai 1%. Sulut masih jauh tertinggal dengan Banyuwangi,” kata Deputi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulut, MHA Ridhwan baru-baru ini.
Sulut, terutama Kota Manado, kata Ridhwan diberkati oleh alam yang geografisnya cantik, kemudian hospitality masyarakat. Tetapi isu masalah pariwisata ini masih relatif kurang perhatian.
“Sejauh ini sudah menjadi perhatian pemerintah daerah namun banyak hal yang masih perlu dikembangkan lebih lanjut,” ujarnya sambil menambahkan bahwa BI sangat concern terhadap pariwisata.
Secara nasional pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini sedang menghadapi kondisi turbulensi yang dipicu oleh perang dagang Amerika Serikat dengan Tiongkok, diikuti kenaikan suku bunga bank.
Untuk tetap bisa mempertahankan pertumbuhan ekonominya tetap tinggi salah satu upaya adalah mendorong sektor pariwisata.

“Pariwisata adalah sektor yang saat ini sangat eksotis dan seksi. Kenapa sektor ini adalah potensial tapi belum dikembangkan dengan optimal,” sebut Ridhwan.
“Salah satu solusi yang ingin kami sampaikan di sini bagaimana bisa meningkatkan atau menambah jumlah wisman masuk ke Sulut. Salah satunya adalah membuka interkonektivitas antar pariwisata di Sulut dengan daerah-daerah lainnya di Indonesia Timur,” jelasnya.
Terbukanya akses akan memberikan peluang meningkatnya kunjungan wisman, antara lain dari Kalimantan Timur dengan destinasi Derawan kemudian Morotai Maluku Utara, Raja Ampat, Sulawesi Tenggara Wakatobi Makassar dan seterusnya.
Tak kalah pentingnya adalah halal travel. Karena memang selama ini wisatawan domestik kita kalau akan makan sering bertanya-tanya. “Ini menunjukkan kurangnya informasi,” ujarnya.
Masalah kelembagaan, sambung Ridhwan yang menyangkut 22 aspek. Antara lain kepedulian pemerintah, transportasi, kesiapan infrastruktur hingga pengembangan bandara.(eda)













