Manado, SULUTREVIEW – Geliat sektor pariwisata ternyata memberikan secercah harapan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Utara (Sulut), yang optimis dapat mencapai level 6,6 persen hingga 7,1 persen.
Kondisi ini menjadi jawaban di tengah lesunya sektor pertanian, perikanan bahkan ekspor. Karenanya, untuk mendorong pertumbuhan ekonoml Sulut hingga ke level potensialnya, pemerintah perlu fokus pada pengembangan sumber-sumber ekonoml baru. Terutama dari sektor tersier atau jasa, serta optimalisasi pemanfaatan keunggulan geografis daerah akan menjadi suport potensi sumber daya alam yang melimpah.
“Sejak Juli 2016, perkembangan jumlah kunjungan wisman (wisatawan mancanegara-red) ke Sulut mengalami peningkatan signifikan sejalan dengan dlbukanya rute penerbangan atau charter flight dari 8 kota di Tiongkok ke Manado. Peningkatan ini diperkirakan akan terus berlanjut hingga mencapal 526 ribu wisman dl tahun 2030,” ungkap Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulut, Soekowardojo di sela Forum Diskusi Ekonomi, Keuangan dan Fiskal Daerah (Fordisefda) yang bertajuk Asesmen dan Outlook Sulawesi Utara 2018, di aula BI Provinsi Sulut, Kamis (22/3/2018) baru-baru ini.
Dari sisi potensi pengolahan Sumber Daya Alam (SDA) di Sulut, Soekowardojo menilai cenderung stagnan. Hal ini diakibatkan oleh kerergantungan pada komoditas bahan mentah. Dalam artian belum mengupayakan diversifikasi industri pengolahan dengan skala besar. Sehingga, ketika pasokan komoditas pertanian cenderung menurun, pertumbuhan industri pengolahan ikut mengalaml stagnasi. Sehingga diperlukan beberapa fokus pengembangan dalam meningkatkan pembangunan ekonoml daerah, diantaranya adalah hilirisasi industri dan inovasi untuk meningkatkan produktIvitas serta mendorong produksi VCO yang merupakan produk turunan kelapa yang bernilai jual paling tunggi,” beber Soekowardojo sembari menambahkan permintaan VCO di Singapura mencapai 20 ton per tahun, di mana pada tahun 2015 Sulut baru dapat memenuhi sebanyak kurang leblh 1. 000 kilogram.

“Hilirisasi industri diharapkan mampu meningkatkan gairah sektor industri pengolahan di Sulut,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Perekonomian dan SDA Provinsi Sulut, Franky Manumpil mengatakan bahwa Pemprov Sulut terus menggenjot industri pariwisata. Karena hal ini akan berdampak pada sektor pertanian, perikanan bahkan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). “Kalau wisatawan yang masuk di Sulut banyak, maka semua sektor akan ikut terdongkrak. Demikian juga dengan infrastruktur terus kita dorong, sehingga dapat menarik investasi. Dan pastinya ini akan menjaga pertumbuhan ekonomi. Ditambah dengan membaiknya kualitas dan volume ekspor,” tandasnya.
Lagi kata Manumpil, untuk soal perizinan, Pemprov Sulut akan memberikan banyak kemudahan. “Kita siap berikan ‘karpet merah’ bagi investor. Ini tandanya investasi adalah prioritas,” tukasnya.(hilda)













