Puncak HIM 2026, OJK SulutGo Dorong 1.000 Pelajar Bangun Budaya Menabung

Puncak HIM 2026 berlangsung meriah. Foto:Hilda

Manado, Sulutreview.com — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Utara dan Gorontalo (SulutGo) melaksanakan Puncak Peringatan Bulan Literasi Keuangan dan Hari Indonesia Menabung (HIM) Provinsi Sulut 2026 di Graha Gubernuran Kamis (20/8/2026).

Kegiatan yang dihadiri oleh 1.000 pelajar dan mahasiswa dari 22 sekolah dan perguruan tinggi ini bertujuan untuk menanamkan budaya menabung dan meningkatkan pemahaman finansial sejak dini.

​Kepala OJK SulutGo, Robert Sianipar, menyampaikan bahwa penguatan literasi keuangan bagi generasi muda menjadi sangat krusial di tengah maraknya pengaduan konsumen, risiko kejahatan digital, serta berkembangnya produk keuangan baru seperti aset kripto.

Merujuk data BPS, terdapat sekitar 88 juta jiwa atau 31 persen generasi muda dari total 284,4 juta penduduk Indonesia yang memegang peran sentral dalam perekonomian mendatang.

​”Saat kita melihat sekeliling kita hari ini, kita melihat masa depan Indonesia. Adik-adik inilah kekuatan masa depan Indonesia yang akan menjadi pilar utama perekonomian di masa depan dengan potensi yang sangat besar. Namun, di tengah potensi itu, kita dihadapkan pada sebuah fenomena dan tantangan yang perlu menjadi perhatian bersama. Akses adik-adik terhadap produk keuangan sudah sangat tinggi, namun pemahaman untuk mengelolanya secara bijak masih perlu ditingkatkan,” ujar Sianipar.

​Tantangan pemahaman tersebut terlihat dari Hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026. Indeks inklusi keuangan pelajar dan mahasiswa tercatat sebesar 92,76 persen, sementara tingkat literasi keuangannya berada di angka 62,72 persen.

Angka ini masih berada di bawah rata-rata nasional yang mencatatkan tingkat inklusi 93,61 persen dan literasi 69,57 persen.

​Merespons kesenjangan tersebut, OJK terus mendukung komitmen nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 2019 tentang Hari Indonesia Menabung, yang diselaraskan dengan Visi Indonesia Emas 2045 dan program Asta Cita. Pemerintah menargetkan inklusi keuangan nasional dapat menyentuh 91 persen pada akhir 2025 dan meningkat hingga 98 persen pada 2045.

​Penyelenggaraan acara puncak ini terwujud berkat sinergi antara OJK, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD), satuan pendidikan, serta 16 industri jasa keuangan di Sulut.

​Sinergi berkelanjutan tersebut terbukti mendorong pertumbuhan Simpanan Pelajar (Simpel) di daerah. Hingga posisi Juni 2026, jumlah tabungan pelajar di Sulawesi Utara mencapai 568.965 rekening, atau tumbuh 10,88 persen (bertambah 55.817 rekening) secara tahunan. Sementara itu, volume tabungan pelajar naik 7,51 persen menjadi Rp218,08 miliar.

​”Capaian ini tentunya patut kita apresiasi. Namun, tugas kita tidak berhenti pada semakin banyaknya pelajar yang memiliki rekening. Yang lebih penting adalah bagaimana akses tersebut diikuti dengan pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan mengelola keuangan secara bijak, sehingga budaya menabung benar-benar tumbuh dan berkelanjutan di kalangan generasi muda Sulawesi Utara,” kata Sianipar.

Gubernur Sulut Yulius Selvanus mengatakan bahwa menabung bukan sekadar tindakan
menyisihkan sebagian uang sisa.

“Menabung adalah sebuah latihan
pembentukan karakter, yakni belajar membedakan antara kebutuhan primer dan keinginan impulsif, melatih kedisiplinan terhadap tujuan jangka panjang serta keberanian menunda kesenangan sesaat demi kepastian masa depan yang lebih kokoh,” ujarnya.

“Harus diingat, masa depan daerah dan bangsa ini tidak lahir dari kebetulan, melainkan dirajut secara tekun dari keputusan-keputusan kecil dan
bijak yang diambil setiap hari,” tandasnya.(hilda)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *