BI Sulut Warnai Tomohon International Flower Festival 2026, Bertema Ekonomi Digital

Float cantik KPw BI Sulut. Foto:ist

Manado, Sulutreview.com — Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Utara (Sulut) memanfaatkan momentum perhelatan Tomohon International Flower Festival (TIFF) 2026 di Kota Tomohon untuk memperluas percepatan digitalisasi sistem pembayaran nasional dan mengedukasi masyarakat terkait stabilitas harga.

Melalui ajang tahunan berskala internasional ini, BI secara masif mengampanyekan penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) serta mendorong belanja bijak demi menjaga laju inflasi daerah tetap terkendali.

​Kepala KPw BI Sulut, Joko Supratikto menjelaskan bahwa festival internasional yang mempertemukan ribuan wisatawan domestik dan mancanegara merupakan ruang yang sangat efektif untuk memperluas literasi serta inklusi keuangan digital. Kehadiran turis serta peserta mancanegara di TIFF 2026 dinilai menjadi momentum tepat untuk memperkenal fitur QRIS Antarnegara.

“Saat ini, skema pembayaran lintas negara tersebut telah terintegrasi dengan sejumlah negara mitra strategis di kawasan Asia, antara lain Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok. Hal ini memungkinkan wisatawan asing maupun warga lokal bertransaksi secara praktis, cepat, dan aman tanpa perlu membawa uang tunai dalam jumlah besar,” katanya Senin (10/8/2026).

​Pemanfaatan QRIS selama TIFF 2026, sambung Joko, tidak hanya terbatas pada transaksi jual beli di lapak UMKM dan kuliner, tetapi juga diterapkan dalam mekanisme pemungutan suara (voting) interaktif bagi peserta pameran.

“Langkah ini diharapkan mampu merangsang daya adaptasi para pelaku usaha serta masyarakat umum agar semakin terbiasa menggunakan pembayaran nontunai dalam kegiatan ekonomi sehari-hari,” ujarnya.

​Di sisi lain, edukasi ekonomi yang dibawa BI dalam festival bertema bunga ini juga menyasar isu stabilitas harga pangan. Berdasarkan data BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sulut, dinamika inflasi di wilayah Sulut kerap dipicu oleh gejolak harga komoditas hortikultura utama, khususnya cabai rawit (rica) dan bawang merah.

“Kenaikan harga kedua komoditas ini sering kali dipengaruhi oleh faktor cuaca, pola tanam, hingga tingginya permintaan pasar menjelang hari-hari besar,” sebut Joko.

​Guna menyampaikan pesan edukasi publik secara menarik, BI turut memeriahkan parade kendaraan hias (float) di jalan utama Kota Tomohon dengan mengusung tema pengendalian inflasi.

Kendaraan hias tersebut dirancang khusus menggunakan rangkaian bunga segar yang membentuk replika komoditas pemicu inflasi, seperti cabai rawit dan bawang merah.

“Melalui visualisasi tersebut, BI mengimbau masyarakat untuk menerapkan pola konsumsi yang bijak, tidak melakukan panic buying, serta mendukung ketahanan pangan lokal agar tingkat inflasi di Sulawesi Utara senantiasa terjaga pada rentang target sasaran,” ungkap Joko.(hilda)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *