Bitung, Sulutreview.com– Tahun 2026 ini Pemerintah Kota Bitung Sulawesi Utara (Sulut) bakal akan melaksanakan Ivent Pariwisata Festival Pesona Selat Lembeh (FPSL) meski dengan anggaran yang bisa dibilang pas-pasan.
Pasalnya, dalam Kebijakan Umum APBD dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) yang sementara dibahas di Kantor DPRD Bitung bersama TPAD (Tim Anggaran Pemerintah Daerah) Pemkot Bitung bersama DPRD pihak Pemkot telah mengusulkan anggaran sebesar 500 juta untuk pelaksanaan FPSL di Oktober mendatang.
Sekretaris Daerah Bitung Ir Ruddy Theno ST MT MAP, tak menampik bahwa untuk anggaran FPSL telah diusulkan anggaran 500 juta, mengingat saat ini masih dalam fase efisiensi anggaran.
“Memang dalam beberapa tahun ini anggaran FPSL kian menurun dari angaran sebelumnya 1 miliar turun menjadi 750 juta dan 500 juta, apalagi saat ini kita diperhadapkan dengan situasi yang kian pelik yaitu efisiensi anggaran,” ujar Sekda usai mengikuti pembahasan KUA-PPAS yang begitu alot dan menegangkan Kamis malam (03/09/2026).
Menurutnya, kondisi efisiensi tidak hanya menyentuh sektor pariwisata.akan tetapi hampir semua partikel dalam ekosistem Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) ikut merasakan pengetatan anggaran.
Dalam menyeimbangkan dengan kondisi yang ada saat ini.
Ditanya akan informasi yang disampaikan Kadis Pariwisata bahwa jika dengan keternatasan anggaran yang ada, maka opsi mengandalkan sponsorship dalam penambahan anggaran FPSL akan dimaksimalkan.
Menurut Sekda hal itu memang perlu sebab melihat situasi keadaan saat ini.
Diketahui sebelumnya Kadis Pariwisata Pingkan Kapoh MAP mengatakan bahwa ivent Pariwisata FPSL akan dihelat pada 8-10 Oktober mendatang dan jika tak ada aral melintang ivent FPSL ini akan bersamaan dengan Ivent International Regional Marine Polution Exercise (Marpolex) 2026.
Dengan adanya fenomena keterbatasan anggaran ini, kini bukan sekadar berapa besar anggaran FPSL 2026, tetapi bagaimana Pemkot Bitung mampu mengemas festival tersebut agar tetap memiliki daya tarik meski harus berhadapan dengan keterbatasan fiskal.
Sebab angka 500 juta mungkin bukan angka fantastis. Namun, dari angka itulah publik akan melihat sejauh mana kreativitas Pemkot Bitung mampu mengubah keterbatasan anggaran menjadi sebuah festival yang tetap berkelas dan menggigit sederhana namun memiliki karakteristik yang kian menarik yang menjadi magnet tersendiri dalam mengangkat Pariwisata di Kota Multi Dimensi ini. Semoga.(zet)






