Manado, Sulutreview.com – Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Pemprov Sulut) bersama Bank Indonesia (BI) Sulut memperkuat strategi percepatan investasi daerah melalui pengembangan Regional Investor Relations Unit (RIRU).
Langkah ini ditempuh untuk mengejar kinerja investasi Sulut yang masih berada di bawah rata-rata nasional pada triwulan I tahun 2026.
Kepala Kantor Perwakilan BI Sulawesi Utara (KPw BI Sulut), Joko Supratikto, menyampaikan bahwa meski ekonomi daerah tetap tumbuh positif, capaian investasi masih perlu ditingkatkan. Pertumbuhan ekonomi Sulut tercatat 5,54 persen, sedikit di bawah nasional yang mencapai 5,61 persen.
“Pertumbuhan ekonomi kita tetap solid, tetapi investasi masih harus didorong lebih kuat agar tidak tertinggal dari nasional,” ujar Joko dalam kegiatan Capacity Building RIRU di Minahasa Utara, pada Rabu (17/6/2026).
Dari sisi investasi, Sulut mencatat perbaikan dibandingkan periode sebelumnya. Pertumbuhan investasi naik menjadi 3,25 persen pada triwulan I 2026 dari sebelumnya 0,7 persen pada triwulan III 2025. Namun, angka ini masih berada di bawah pertumbuhan investasi nasional yang mencapai 5,96 persen.
Data yang dipaparkan menunjukkan realisasi investasi daerah baru mencapai sekitar 18 persen dari target tahunan sebesar Rp12,13 triliun. Kondisi ini mendorong pemerintah daerah mempercepat penyusunan dan promosi proyek-proyek investasi yang lebih siap ditawarkan kepada investor.
Penguatan RIRU dilakukan dengan melibatkan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP Sulawesi Utara) di tingkat provinsi hingga kabupaten/kota. Unit ini berperan menyiapkan proyek investasi yang telah melalui proses kurasi ketat dan memenuhi standar clean and clear sebelum ditawarkan ke investor.
Pemprov Sulut bersama BI juga menargetkan pengembangan proyek pada sektor strategis seperti Kawasan Ekonomi Khusus, kawasan industri, skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), serta penguatan peran BUMD sebagai penggerak proyek daerah.
Sejumlah proyek unggulan yang tengah didorong antara lain pengembangan kawasan industri perikanan di Kepulauan Sangihe, pelabuhan perikanan di Kepulauan Talaud, layanan kesehatan hemodialisis, serta proyek transportasi publik Buy The Service (BTS) di Manado.
Menurut Joko, proyek BTS Manado menunjukkan perkembangan paling progresif. Tim pengembang telah melakukan studi banding ke Jakarta untuk mempelajari pengelolaan transportasi publik modern, termasuk peluang kerja sama dengan operator kendaraan listrik.
Selain itu, proyek-proyek unggulan tersebut juga telah difasilitasi untuk berkonsultasi dengan berbagai lembaga nasional seperti PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII), Bappenas, Kementerian Keuangan, dan Kementerian Dalam Negeri guna memperkuat struktur pembiayaan dan kesiapan proyek.
Pengembangan RIRU juga diperkuat melalui forum investasi internasional, termasuk North Sulawesi Investment Forum 2025, yang mempertemukan pengembang proyek dengan calon investor dari berbagai negara seperti Filipina, Australia, dan Nigeria.
Joko mengatakan bahwa peningkatan kualitas proyek menjadi kunci agar investasi lebih menarik ke depan. “Masih banyak hal yang harus disempurnakan, tetapi pengalaman saat ini menjadi dasar agar proyek tahun berikutnya lebih siap dan kompetitif,” ujarnya.
Dengan penguatan koordinasi antara pemerintah daerah, BI, dan berbagai pemangku kepentingan, Sulawesi Utara diharapkan mampu meningkatkan realisasi investasi sekaligus memperkuat kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.(hilda)












