Anggota DPRD Billy Lombok Berduka, Ayahanda Tutup Usia

Manado, Sulutreview.com – Dunia pendidikan di Sulawesi Utara (Sulut) kembali kehilangan salah satu tokoh terbaiknya.

Rektor pertama Universitas Negeri Manado, Prof. Dr. Jan Lukas Lambertus Lombok, tutup usia setelah menjalani perjuangan panjang melawan penyakit yang dideritanya, di usia 81 tahun.

Kepergian sosok yang dikenal sebagai salah satu peletak fondasi kemajuan pendidikan tinggi di Sulut itu meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, civitas akademika, para alumni, serta masyarakat luas.

Sepanjang hidupnya, Prof. Jan Lombok dikenal sebagai akademisi yang mendedikasikan tenaga, pikiran, dan waktunya untuk memajukan dunia pendidikan.

Duka mendalam juga dirasakan putranya, yang juga anggota DPRD Sulut Billy Lombok.

Di mata keluarga, almarhum bukan hanya seorang ayah, tetapi juga pendidik sejati yang menjadikan pengabdian kepada dunia pendidikan sebagai panggilan hidup.

Ditemui di rumah duka di kawasan Kleak, Kecamatan Malalayang, Manado, Billy mengenang perjuangan sang ayah selama sekitar satu setengah tahun terakhir. Meski kondisi kesehatan terus menurun, semangat dan kepedulian Prof. Lombok terhadap pendidikan tidak pernah surut.

“Papa sudah drop sejak 1,5 tahun lalu. Namun tidak selalu di rumah sakit. Jadi saya dan keluarga tidak bisa tinggalkan papa. Dijaga terus,” ungkap Billy dengan penuh haru.

Menurutnya, selama masa perawatan, keluarga secara bergantian mendampingi dan merawat almarhum. Kebersamaan itu menjadi bagian dari perjuangan panjang yang dijalani keluarga hingga akhir hayat sang tokoh pendidikan.

Yang paling membekas dalam ingatan keluarga adalah kecintaan Prof. Jan terhadap kampus yang pernah dipimpinnya. Bahkan ketika berada dalam kondisi sakit, pikirannya tetap tertuju pada perkembangan pendidikan dan aktivitas akademik di kampus.

Billy menceritakan, sang ayah pernah menyampaikan keinginannya untuk segera pulang dari rumah sakit agar bisa kembali mengunjungi kampus di Tondano.

“Papa bilang ingin pulang dari rumah sakit dan akan pergi ke Tondano karena mau lihat kelas di sana,” kenangnya.

Semangat pengabdian tersebut terus terlihat hingga hari-hari terakhir kehidupannya. Meski berada dalam keterbatasan fisik, Prof. Jan masih aktif berkomunikasi dengan sejumlah dosen untuk memastikan proses belajar mengajar tetap berjalan dengan baik.

“Papa masih telepon dosen-dosen, tanya bagaimana kelas, siapa dosen yang masuk, apakah tugas-tugas berjalan lancar,” tutur Billy.

Dedikasi itu menjadi cerminan komitmen almarhum terhadap kemajuan pendidikan tinggi. Bagi banyak orang, Prof. Jan Lombok bukan sekadar akademisi, melainkan sosok pemimpin yang memiliki visi besar dalam membangun kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan.

Sebagai rektor pertama Universitas Negeri Manado, ia berperan penting dalam perjalanan awal dan perkembangan institusi tersebut. Warisan pemikiran, kepemimpinan, serta kontribusinya dalam dunia pendidikan terus menjadi bagian dari sejarah dan identitas kampus hingga saat ini.

Rencananya, jenazah almarhum akan dibawa terlebih dahulu ke kampung halamannya di Desa Kumelembuai, Kabupaten Minahasa Selatan, untuk memberikan penghormatan terakhir dari keluarga dan masyarakat setempat. Setelah itu, jenazah akan kembali ke Manado untuk prosesi pemakaman.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari pihak keluarga, ibadah pemakaman akan dilaksanakan pada Sabtu, 6 Juni 2026, di Pekuburan Arimatea.

Kepergian Prof. Jan Lukas Lambertus Lombok menjadi kehilangan besar bagi dunia pendidikan Sulawesi Utara. Namun semangat, dedikasi, dan pengabdiannya akan terus hidup melalui generasi-generasi yang pernah disentuh oleh pemikiran dan perjuangannya.

Selamat jalan, Prof. Jan Lombok. Jejak pengabdianmu akan tetap dikenang sebagai bagian penting dari perjalanan pendidikan di Bumi Nyiur Melambai.(hilda)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *