Manado, Sulutreview.com – Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dipersiapkan untuk siap bekerja, berwirausaha, atau melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya.
Namun sayang, di Sulawesi Utara (Sulut) terdapat 32 persen lulusan SMK yang justru didapati tidak bekerja atau menganggur.
Kondisi tersebut, menurut orang nomor satu di Sulut ini harus disikapi secara serius. Karena ini, demi masa depan generasi selanjutnya sebagai pemegang tongkat estafet pembangunan daerah.
“Dari 32 persen siswa itu, ada yang berhenti karena nikah, ada yang bekerja dan lanjut kuliah. Nah, yang menganggur ini
harus dievaluasi kenapa sampai tidak bekerja. Padahal siswa SMK bisa berwiraswasta,” ucap gubernur.
Gubernur bilang, Sulut memiliki sumber daya alam yang melimpah, baik laut maupun darat.
“Sumber daya alam kita melimpah. Kalian yang lulusan SMK punya keahlian untuk mengolahnya. Apakah itu berbahan ikan yang digabungkan dengan teknologi atau buka bengkel,” ungkap gubernur mencontohkan.
Gubernur minta siswa SMK dapat mengasah kemampuan dan ketrampilan, agar setelah lulus dapat digunakan, yang tentunya akan menjadi peluang usaha yang menguntungkan.
Kepala Dinas Pendidikan Daerah Provinsi Sulut, Femmy Suluh melaporkan bahwa pelaksanaan SMK Expo sebagai bukti bahwa belajar bukan hanya dibatasi di dalam ruang kelas, melainkan dapat mengembangkan kreativitas dan praktik sebagai bentuk kompetensi serta menjawab dunia kerja.
“Melalui kegiatan SMK Expo tahun 2025 ini, telah menjadi ruang bagi siswa untuk membuktikan ketrampilan sesuai bidang keahlian, kompetensi dan konsentrasi keahlian,” katanya.
Sesuai data yang dihimpun, terdapat 192 SMK yang tersebar di Sulut, dengan rincian 192 sekolah negeri dan 98 sekolah swasta, dengan jumlah siswa sebanyak 39 ribuan siswa.
Gubernur yang hadir menutup kegiatan SMK Expo, sebelumnya, berkeliling di booth pameran, sembari berdialog dengan siswa dan guru maupun kepala sekolah. Dengan telaten ia mengamati dan menanyakan setiap karya yang ditampilkan para siswa.
Salah satunya di booth SMK Negeri Tumpaan, yang menampilkan pembuatan body dan service mesin mobil.
Siswa Fernando Tutkey, kelas XI dan
Clavis Tamuno kelas 10, didampingi
Kepsek Drs Fredy N Lengkong merasa bangga bisa berdialog dengan gubernur. Keduanya menceritakan tentang bagaimana pendidikan yang didapatkan di sekolah dapat dipraktikkan, untuk kepentingan ketika kelak mereka lulus atau lanjut kuliah.(hilda)













