Dispar Sulut Hadirkan Pengalaman Wisata Baru, 127 Desa Wisata Jadi Daya Tarik Unggulan

Kepala Dispar Sulut, dr. Kartika Devi Tanos, MARS. Foto:Hilda

Manado, Sulutreview.com – Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Pemprov Sulut) terus berupaya memperkuat sektor pariwisata dengan menghadirkan pengalaman baru bagi wisatawan tanpa meninggalkan destinasi-destinasi unggulan yang selama ini menjadi daya tarik daerah.

Kepala Dinas Pariwisata Sulut, dr. Kartika Devi Tanos, MARS, mengatakan strategi tersebut dilakukan untuk menjaga minat wisatawan sekaligus mendorong mereka mengeksplorasi lebih banyak potensi yang dimiliki Sulawesi Utara.

“Kami berusaha memberikan sesuatu yang baru kepada wisatawan, tetapi tetap membawa mereka ke destinasi-destinasi yang sudah ada. Yang terpenting adalah memahami apa yang menjadi keinginan wisatawan. Karena itu koordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota terus dilakukan,” ujar Kartika saat hadir sebagai pembicara dalam agenda Ngobrol Pintar (Ngopi) Bareng Jurnalis Independen Pemprov Sulut, di Museum Negeri Provinsi Sulut, Jumat (19/06/2026).

Menurutnya, tren wisata terus berkembang sehingga inovasi menjadi hal penting dalam pengembangan destinasi. Meski demikian, pengembangan tersebut tetap harus mempertahankan keunggulan dan karakter khas yang telah menjadi identitas pariwisata Sulut.

Kartika menjelaskan, pembangunan sektor pariwisata di daerah ini tetap mengacu pada konsep 3A, yakni aksesibilitas, atraksi, dan amenitas. Ketiga aspek tersebut dinilai menjadi fondasi utama dalam menciptakan destinasi yang mampu bersaing dan memberikan kenyamanan bagi wisatawan.

“Pariwisata tidak bisa berkembang hanya dengan destinasi yang menarik. Harus didukung akses yang mudah serta amenitas atau fasilitas yang memadai,” katanya.

Selain intens mempromosikan destinasi yang sudah dikenal, Pemprov Sulut juga menjadikan desa wisata sebagai salah satu fokus pengembangan pariwisata berkelanjutan. Saat ini terdapat 127 desa wisata yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota di Sulawesi Utara.

Kartika mengungkapkan, dari jumlah tersebut beberapa desa telah masuk kategori mandiri, sementara lainnya berada pada kategori maju dan berkembang.

“Kami memiliki 127 desa wisata. Ada yang sudah masuk kategori mandiri, ada yang maju dan berkembang. Pemerintah kabupaten dan kota tentu lebih memahami kondisi di wilayah masing-masing sehingga desa-desa yang direkomendasikan akan kami promosikan secara lebih selektif. Jangan sampai destinasi tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh wisatawan,” jelasnya.

Ia menilai desa wisata memiliki peran strategis dalam memperluas pemerataan manfaat ekonomi dari sektor pariwisata. Melalui pengembangan desa wisata, masyarakat dapat terlibat langsung dalam penyediaan berbagai layanan dan produk wisata, mulai dari homestay, kuliner lokal, kerajinan tangan hingga atraksi budaya.

“Tujuannya agar manfaat pariwisata tidak hanya terpusat di kota atau destinasi utama, tetapi juga dirasakan langsung oleh masyarakat di desa-desa wisata,” pungkas Kartika.

Dengan penguatan destinasi, peningkatan kualitas layanan, serta pengembangan desa wisata, Pemprov Sulut optimistis sektor pariwisata akan terus tumbuh dan menjadi salah satu motor penggerak ekonomi daerah di masa mendatang.(hilda)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *