Manado, Sulutreview.com – Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Pemprov Sulut) terus mendorong sektor pariwisata dan kebudayaan sebagai mesin pertumbuhan ekonomi daerah. Salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah revitalisasi Museum Negeri Provinsi Sulut yang kini tampil lebih modern, edukatif, dan berbasis teknologi.
Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan Ngobrol Pintar Bareng Jurnalis Independen Pemprov Sulut yang digelar di Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara, Jumat (19/6/2026).
Kepala Dinas Kebudayaan Daerah Provinsi Sulawesi Utara, Yorry Rommy Lesawengan, M.Tr.A.P menjelaskan bahwa museum saat ini sedang diarahkan menjadi salah satu destinasi unggulan yang direkomendasikan bagi wisatawan mancanegara, khususnya dari Korea Selatan, Tiongkok, Jepang, hingga negara-negara Eropa.
“Museum sekarang tampil dengan wajah baru yang lebih estetik. Kami menata kembali koleksi yang ada dengan pendekatan teknologi. Pengunjung cukup memindai barcode untuk mendapatkan narasi koleksi, tersedia ruang digital, animasi perjalanan sejarah museum, hingga ruang musik yang menampilkan perkembangan musik dari masa ke masa,” ujarnya.
Sejak diluncurkan kembali pada Jumat (22/05/2026) hingga Rabu (17/06/2026), museum mencatat kunjungan sebanyak 4.399 orang. Pengunjung tidak hanya berasal dari Sulut, tetapi juga kalangan akademisi dan komunitas dari berbagai daerah.
“Dalam periode tersebut ada rombongan yang datang menggunakan 10 sampai 11 bus. Museum sudah dinikmati masyarakat Sulut sebagai sarana informasi, edukasi, sekaligus promosi budaya daerah,” ujar Yorry.
Ke depan, pengembangan museum akan terus dilakukan. Selain penambahan fasilitas edukasi, kawasan museum juga akan menghadirkan ruang bagi pelaku UMKM dan sanggar seni budaya.
“Nantinya pengunjung dapat mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di Sulawesi Utara untuk berfoto. Bahkan pada tahun 2027 kami menargetkan sudah tersedia fasilitas bagi pengunjung untuk memainkan alat musik kolintang secara langsung,” jelasnya.
Menurutnya, museum harus menjadi destinasi wajib yang masuk dalam paket kunjungan wisata di Sulut. Untuk itu, pihaknya terus membangun kolaborasi dengan sektor perhotelan, restoran, hingga pelaku industri pariwisata.
“Kami mengajak PHRI, HPI, serta pelaku usaha pariwisata lainnya untuk menjadikan museum sebagai bagian dari destinasi yang wajib dikunjungi wisatawan,” katanya.
Saat ini Museum Negeri Provinsi Sulut, lanjut Yorry, menyimpan sekitar 3,600 koleksi, tetapi yang ditampilkan baru 400-an koleksi yang merekam perjalanan sejarah, budaya, dan kekayaan alam Sulawesi Utara.
Meski masih dapat dikunjungi secara gratis, pemerintah sedang memproses penetapan retribusi museum sebagai bagian dari upaya peningkatan layanan. Museum dibuka setiap hari kecuali pada hari libur nasional dan akan diperkuat dengan penambahan tenaga edukator.
Selain revitalisasi museum, Pemerintah Provinsi Sulut juga menjalankan program penguatan kebudayaan melalui revitalisasi taman budaya serta pemberian satu set alat musik kolintang kepada 1.000 sanggar di berbagai wilayah.
“Kolintang sudah diakui sebagai warisan budaya dunia. Karena itu harus terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi berikutnya di seluruh daerah,” ujarnya.
Dalam upaya pemajuan kebudayaan, Sulut juga telah memiliki Peraturan Daerah tentang Pemajuan Kebudayaan. Namun hingga saat ini baru Kota Tomohon dan Kabupaten Kepulauan Sangihe yang memiliki regulasi serupa.
“Kami terus mendorong seluruh kabupaten dan kota menetapkan perda pemajuan kebudayaan karena itu menjadi arah dan landasan pembangunan kebudayaan daerah,” katanya.
Pemprov Sulut juga menjalin kemitraan dengan Balai Pelestarian Kebudayaan dalam pelestarian berbagai situs sejarah dan cagar budaya seperti sekolah anak bangsawan, Gereja Sentrum, Benteng Moraya, dan sejumlah peninggalan bersejarah lainnya.
Selain itu, komunitas budaya dan sanggar seni juga didorong mengakses Dana Indonesiana melalui fasilitasi Balai Pelestarian Kebudayaan. Namun masih terdapat kendala administratif yang perlu dipenuhi.
“Banyak komunitas dan sanggar yang berpotensi memperoleh bantuan Dana Indonesiana, tetapi sebagian belum memiliki akta pendirian atau legalitas yang menjadi persyaratan. Kami mendorong mereka untuk segera melengkapinya,” ujarnya.
Jejak Sejarah Museum Negeri Provinsi Sulut
Museum Negeri Provinsi Sulut berdiri berawal dari temuan berbagai artefak berupa keramik, bekal kubur, dan benda-benda bersejarah lainnya oleh warga Desa Rasi, Kecamatan Ratahan, Kabupaten Minahasa Tenggara, bernama Bola Lensun pada tahun 1967.
Besarnya nilai sejarah dari temuan tersebut mendorong pembangunan museum melalui Proyek Pengembangan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Utara pada periode 1974–1977 dengan luas awal sekitar 1.400 meter persegi. Pada 1977–1978, area museum diperluas hingga mencapai 11.048 meter persegi.
Berlokasi di pusat Kota Manado, museum ini kemudian diresmikan sebagai Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara pada 9 Januari 1991.
Museum menyajikan kekayaan budaya dari tiga kawasan utama Sulawesi Utara, yakni Bolaang Mongondow Raya, Minahasa Raya, dan Nusa Utara. Berbagai koleksi yang dipamerkan menggambarkan perjalanan panjang peradaban masyarakat Sulut, mulai dari masa prasejarah, sejarah kolonial, perkembangan agama, hingga terbentuknya Provinsi Sulawesi Utara sebagai entitas administratif dan kultural.
Koleksi unggulan museum antara lain temuan ikan purba Coelacanth yang menjadi simbol biodiversitas laut dalam Sulut, fosil Stegodon, berbagai artefak prasejarah, dokumentasi sejarah penyebaran agama, hingga warisan budaya yang mencerminkan nilai luhur masyarakat Sulut.
Melalui revitalisasi yang dilakukan saat ini, Museum Negeri Provinsi Sulut diharapkan tidak hanya menjadi pusat pelestarian sejarah dan budaya, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi kreatif, pendidikan, serta pariwisata berbasis budaya di daerah Nyiur Melambai.(hilda)













