Sulut Alami Deflasi Terdalam, Pencetusnya Tomat dan Cabai Rawit

Manado, Sulutreview.com – Inflasi menjadi fenomena ekonomi yang diikuti dengan terjadinya kenaikan harga barang maupun jasa yang terus-menerus dalam jangka waktu tertentu.

Inflasi diukur dengan menggunakan Indeks Harga Konsumen (IHK), yang menunjukkan perubahan rata-rata harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat.

Perkembangan inflasi Sulawesi Utara (Sulut) pada bulan Agustus 2025, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) mencatat terjadinya deflasi terdalam sebesar 1,11 persen (month to month).

Terjadi penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 109,50 pada Juli 2025 menjadi 108,28 pada Agustus 2025. “Secara tahunan terjadi inflasi sebesar 0,94 persen dan secara tahun kalender terjadi inflasi sebesar 0,93 persen,” jelas Kepala BPS Sulut, Aidil Adha pada Senin (01/09/2025).

Kelompok pengeluaran penyumbang deflasi bulanan terbesar adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami deflasi sebesar 3,94 persen dan memberikan andil deflasi sebesar 1,34 persen.

Kelompok transportasi mengalami deflasi sebesar 0,40 persen dengan andil 0,05 persen. Kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga megalami deflasi sebesar 0,33 persen, kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan mengalami deflasi sebesar 0,10 persen.

Kedua kelompok tersebut memberikan andil deflasi masing-masing 0,01 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil deflasi Agustus 2025 antara lain tomat yang memberikan andil 0,79 persen, cabai rawit memberikan andil 0,60 persen, daging babi memberikan andil 0,27 persen, cabai merah memberikan andil 0,08 persen dan angkutan udara dengan andil 0,04 persen.

Andil pendorong inflasi, akademi atau perguruan tinggi 0,19 persen, bawang merah 0,13 persen, beras 0,10 persen, ikan malalugis 0,07 persen, ikan deho 0,04 persen.

“Menurut wilayah, dari empat kabupaten/kota cakupan IHK di Sulut tercatat seluruhnya mengalami deflasi secara bulanan. Deflasi terdalam terjadi di Kabupaten Minahasa Selatan sebesar 2,46 persen,” ucapnya.

Berdasarkan fenomena perkembangan harga, komoditas tomat, cabai rawit dan cabai merah mengalami penurunan pada bulan Agustus 2025 karena stok yang melimpah akibat musim panen di daerah sentra produksi.

Harga daging babi mengalami penurunan pada bulan Agustus 2025, karena stok daging babi yang banyak baik di pedagang maupun di tingkat peternak.

Selanjutnya, kenaikan biaya pendidikan, khususnya jenjang akademi dan perguruan tinggi disebabkan adanya peningkatan biaya operasional sekolah.

“Pada bulan Agustus 2025 harga beras masih mengalami peningkatan karena pasokan beras yang berkurang dari wilayah Sulut dan sudah mulai berkurangnya hasil panen di wilayah Sulut,” tukasnya.(hilda)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *