Bitung, Sulutreview.com – Penggunaan mata uang asing di wilayah kepulauan yang ada di Sulawesi Utara (Sulut), khususnya Pulau Miangas yang berbatasan langsung dengan negara Filipina, sudah kerap terdengar dengan alasan hubungan ekonomi dan sosial yang memang erat terjalin antara kedua negara tersebut.
Adanya interaksi yang erat, masyarakat Miangas sering menggunakan Peso Filipina selain Rupiah Indonesia dalam transaksi sehari-hari, baik di pasar maupun di toko-toko, namun keadaan tersebut serta merta ditepis oleh Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulut, Andry Prasmuko.
Menurutnya, pulau Miangas adalah wilayah yang berbatasan negara Filipina, namun sampai saat hampir tidak ada yang melakukan transaksi dengan mata uang asing.
“Sampai sejauh ini, hampir tidak ada transaksi yang menggunakan uang asing. Uang yang beredar di wilayah kepulauan adalah Rupiah,” ungkap Prasmuko saat melaksanakan melakukan pelepasan Ekspedisi Rupiah Berdaulat di Dermaga Utama Satuan Patroli (Satrol) Bitung, pada Rabu (20/05/2025).
Dikatakan Prasmuko, dalam pemenuhan ketersediaan uang layak edar, tak dapat dipungkiri bahwa BI memiliki tantangan yang tidak mudah. Antara lain yang berbatasan negara. “Di wilayah perbatasan, penggunaan mata uang asing yang terjadi, biasanya akibat kedekatan geografis dengan negara lain. Namun, menjawab tantangan itu, Bank Indonesia tak dapat bekerja sendiri. Kami bersinergi dengan TNI Angkatan Laut yang memiliki kemampuan menjangkau daerah-daerah terpencil menggunakan armada laut yang mereka miliki,” tukasnya.
Indonesia yang memiliki lebih dari 17.000 pulau, yang sebagian besar lokasi masih sulit dijangkau karena keterbatasan infrastruktur transportasi, juga menjadi tantangan tersendiri, sehingga perlu dilakukan edukasi, karena sebagian masyarakat masih kurang memahami cara memperlakukan uang dengan baik yang menyebabkan tingginya uang tidak layak edar.
Menyikapi berbagai tantagan yang ada, BI Sulut terus berupaya memastikan ketersediaan dan kebutuhan akan uang Rupiah layak edar di seluruh wilayah termasuk daerah Terdepan, Terluar, dan Terpencil (3T).
“Oleh karena itu, untuk memastikan ketersediaan uang Rupiah layak edar di seluruh wilayah, termasuk daerah 3T menjadi misi yang sangat penting,” ujarnya.
Prasmuko merinci, sejak tahun 2012, BI dan TNI Angkatan Laut, telah melaksanakan 127 kali kegiatan Kas Keliling 3T, dengan mengunjungi 655 pulau 3T. Pada tahun 2025, BI dan TNI Angkatan Laut bersepakat untuk memperluas jangkauan layanan kas keliling
dengan target 18 kali kegiatan di 18 provinsi, mengunjungi 90 pulau.
“Pada Ekspedisi Rupiah Berdaulat kali ini, BI dan TNI melakukan kunjungan ke lima pulau yaitu Pulau Miangas, Pulau Kakarotan, Pulau Kawio, Pulau Kawaluso, dan Pulau Tagulandang menggunakan KRI Pari-849. Kami membawa uang layak edar senilai Rp5,1 miliar, sekaligus mengadakan edukasi Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah kepada masyarakat di lima pulau tersebut,” katanya.
Kegiatan ini tidak hanya terkait distribusi uang, tetapi juga tentang menghadirkan peran negara ke seluruh wilayah. “Setiap lembar Rupiah yang kami bawa adalah pesan bahwa negara hadir, peduli, dan melindungi seluruh warga, termasuk yang tinggal di ujung Nusantara,” ujarnya.
Komandan Lantamal VIII Manado, Laksamana Pertama TNI May Franky Pasuna Sihombing, CHRMP mengatakan bahwa ekspedisi BI Sulut diharapkan dapat memberikan kemudahan masyarakat di 3T untuk mendapatkan uang layak edar.
“Melihat kondisi geografis Indonesia dengan banyaknya pulau-pulau terkecil menjadi tantangan dalam menjaga kedaulatan bangsa yang membutuhkan kesatuan dan persatuan elemen bangsa, di mana Bank Indonesia telah menjaga kestabilan nilai Rupiah,” tukasnya.(hilda)













