HATI Alfred Satari (42), pagi itu melimpah dengan kegembiraan dan ucapan syukur yang tak terbendung. Matanya berbinar-binar menyambut kedatangan Kapal Motor (KM) Praying yang tiba dari perairan Batang Dua, tepatnya antara laut Ternate dan Maluku yang berjarak belasan mil dari lepas pantai Manado.
Para Anak Buah Kapal (ABK) yang terdiri dari delapan orang, bergerak cepat untuk menambatkan kapal berukuran 5 Gross Ton (GT) tersebut di Pelabuhan Perikanan Pantai Tumumpa. Semuanya diliputi dengan rasa puas dan bangga, karena kerja keras yang dilakukan selama sepekan di lepas pantai berhasil menangkap 60 ekor ikan tuna, mulai dari ukuran 20 kilogram hingga 92 kilogram per ekor.
“Hasil tangkapan ikan ini, adalah berkat Tuhan yang luar biasa. Kami tidak menggunakan jaring untuk mendapatkan ikan tuna, melainkan hanya dengan hand-line (alat kail tradisional-red),” tutur Alfred pada Kamis (26/10/2023).
Agar berada di perairan yang ada kawanan ikan, ucap Alfred, kapten kapal harus cerdas untuk berkomunikasi dengan nelayan lain, antara lain dengan menggunakan radio single side band (SSB) atau radio 11 meteran.

“Koordinasi harus dilakukan kapten kapal dengan para nelayan lainnya, sehingga diketahui di perairan mana saja yang ada ikannya, dengan begitu, nelayan tidak pulang tangan kosong,” ujar Alfred yang saat ini mengandalkan kapten kapal Pebensio Mahaling (57).
Praktis hasil tangkapan ikan kali ini, ungkap Alfred, mampu menutupi seluruh kebutuhan para nelayan dan pemilik kapal yang satu kali melaut pulang pergi, sedikitnya membutuhkan biaya sebesar Rp 30 juta-an. Antara lain, untuk biaya Bahan Bakar Minyak (BBM) solar bersubsidi sebesar 1 ton atau 1.000 liter, pertalite sebanyak 500 liter untuk mesin genset dan kebutuhan logistik makanan selama melaut.

“Hasil yang didapatkan akan dibagikan sesuai dengan kesepakatan bersama. Artinya,siapa yang memancing banyak dan rajin pastinya akan mendapatkan upah yang setimpal. Cukup lah untuk membuat dapur mengepul dan biaya pendidikan anak-anak,” sebut Alfred.
Alfred yang terus mengawasi proses pengecekan kualitas ikan tuna oleh pihak perusahaan yang siap menampung hasil tangkapan, selanjutnya, didistribusi ke Kota Bitung tersebut, menyampaikan bahwa keberuntungan yang berpihak kepada KM Praying tak lepas dari dukungan ketersediaan BBM solar bersubsidi, yang difasilitasi Pertamina melalui infrastruktur Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Nelayan.
“Dua hari sebelum melaut, kami sudah mengajukan pembelian BBM. Karena ada proses dan tahapan yang sudah diatur. Jadi semakin cepat mengurusnya maka semakin baik. Dengan begitu bisa langsung melaut lagi,” kata Alfred sambil menambahkan untuk pengurusan BBM sudah diatur tersendiri.

Adalah Barus Manurung (39) yang rutin menyiapkan kebutuhan BBM dari KM Praying, untuk mendapatkan BBM harus masuk dalam antrian. Karena ada ratusan nelayan juga yang membutuhkan energi untuk melaut. “Dulu harus pakai Surat Layak Operasi (SLO) dari Syahbandar. Tetapi sekarang cukup dengan masuk dalam kelompok nelayan yang sudah terdata. Tujuannya supaya lebih memudahkan nelayan,” ujarnya.
Barus berharap kebutuhan BBM untuk nelayan dapat ditambah kuotanya dan diatur kembali proses antriannya agar lebih efektif dan efisien. “Kami sebagai nelayan berharap proses antrian dapat dipangkas agar lebih memudahkan. Karena tahapan menunggu BBM sampai dua hari itu termasuk lama. Yah hitung-hitung sambil menunggu itulah nelayan bisa istirahat. Tapi maunya nelayan yah kerja terus,” tukasnya.

Senada disampaikan Yos Pahe (43) bahwa dengan ketersediaan BBM yang cukup, akan sangat menunjang semangat aktivitas nelayan untuk melaut. “Kalau BBM cepat didapatkan maka nelayan tidak perlu harus menunggu sampai dua hari untuk melaut. Ini yang menjadi harapan para nelayan,” tandasnya.
SPBUN Sediakan BBM Bersubsidi
Pihak Kepala Balai Pengelola Pelabuhan Perikanan Pantai Tumumpa Manado, Tommy Posumah menjelaskan BBM bersubsidi yang disediakan untuk para nelayan, memang dilakukan per kelompok, yakni untuk nelayan dengan perahu atau katinting di bawah 5 GT.
“Kami yang mengeluarkan rekomendasi untuk nelayan mendapatkan BBM. Itu sesuai prosedur yang layak, khususnya untuk kapal di ukuran di bawah 5 GT harus pakai SLO. Itu syarat untuk mendapatkan BBM untuk operasional. Sekaligus juga surat izin berlayar. Sangat penting, karena nelayan juga harus dijaga keselamatannya,” katanya.

Ketersediaan BBM bersubsidi, tutur Tommy, yang disediakan di SPBUN Tumumpa per bulannya dipasok sebesar 339 ribu liter. “Kuota itu untuk sebulan dengan hitungan tanggal 1 hingga tanggal 25. Jadi ada jeda lima hari untuk menunggu BBM masuk. Nah, biasanya nelayan akan membeli BBM di SPBU yang lain. Atau dapat memanfaatkan BBM jenis Dexlite, dari pada harus menunggu,” tuturnya.
Ketersediaan BBM bersubsidi untuk nelayan, sebut Senior Supervisor Comrel Pertamina Regional Sulawesi Romi Bachtiar, bahwa kuota BBM untuk tahun 2023, sudah sesuai kebutuhan, yakni Pertalite sebanyak 536 kilo liter, Dexlite 8 kilo liter dan solar 8.618 kilo liter.
“Ketersediaan kuota BBM di SPBUN di Sulawesi Utara sudah sesuai dengan kebutuhan. Harapannya, ketersediaan BBM dapat menunjang operasional nelayan,” ujar Romi.
Sulawesi Utara Koleksi 71.468 Nelayan
Sampai saat ini, jumlah nelayan yang ada di Sulawesi Utara, menurut catatan yang ada, mencapai 71.468. Jumlah tersebut tersebar di sejumlah wilayah, yakni Bolaang Mongondow 4.320, Bolaang Mongondow Selatan 4.650, Bolaang Mongondow Utara 2.137, Bolaang Mongondow Timur 3,500, Sangihe 6,247, Talaud 7.489, Siau Tagulandang Biaro 3,246, Minahasa 5.725, Minahasa Selatan 4.320, Minahasa Utara 8.720, Minahasa Tenggara 5.843, Bitung 13.056 dan Manado 2.215.
“Para nelayan yang telah terdata ini dilengkapi dengan kartu nelayan yang dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan BBM bersubsidi, bahkan bantuan-bantuan lainnya yang diberikan pemerintah, tujuannya untuk meningkatkan ekonomi nelayan,” ungkap Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulut, Tineke Adam.
Jumlah yang terdata, tutur Tineke, masih akan terus bertambah. Sebab, sampai sejauh ini, pihaknya terus melakukan verifikasi dan validasi data. “Jumlahnya masih akan bertambah, karena sampai saat ini, masih dilakukan pendataan,” tandasnya.
Nilai Tukar Nelayanan
Terkait kesejahteraan nelayan, Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi (BPS) Sulawesi Utara, Asim Saputra mengungkapkan bahwa Nilai Tukar Nelayan (NTN) pada September 2023 sempat turun sebesar 0,47 persen. Hal itu terjadi karena indeks harga yang diteima nelayan turun sebesar 0,25 persen, sedangkan indeks harga yang dibayarkan nelayan mengalami kenaikan sebesar 0,23 persen.
“Penurunan indeks harga yang diterima nelayan disebabkan oleh turunnya indeks harga yang dibayarkan nelayan pada kelompok penangkapan di perairan umum. Khususnya, komoditas ikan gabus dan ikan lais sebesar 0,05 persen indeks harga yang diterima nelayan kelompok penangkapan di laut, khususnya komoditas ikan layang dan ikan kembung sebesar 0,23 persen,” urainya.(Hilda)













