MRJ Law Ungkap Dugaan Kejanggalan Pada Hasil Visum Kasus KDRT Yang Ditanganinya

IMG-20210818-WA0009

Michael Remizaldy Jacobus SH MH CLA

Bitung, Sulutreview.com– Lawyer Kondang Sulawesi Utara (Sulut) Michael Remizaldy Jacobus SH MH CLA (MRJ Law) menegaskan bahwa ada kasus yang ditanganinya yakni persolan dugaan tindak Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) atas Klienya AL alias Andre terhadap perempuan LR alias Landi yang menurutnya diduga banyak memiliki kejanggalan.

Bacaan Lainnya

Pasalnya Michael membeberkan, bahwa pada kasus dugaan KDRT yang ditanganinya saat ini, ada beberapa catatan untuk sidang yang telah berjalan beberapa minggu ini.

“Yang pertama yaitu, hasil Visum Et Repertum diduga kuat bermasalah. Karena dalam diagnosa, ditulis Luka Gores+lebam dan Memar, sedangkan kesimpulan dokter, luka-luka disebabkan ruda paksa benda tajam,” ujar Michael kepada sejumlah wartawan Sabtu (10/07/2021).

Menurutnya dengan adanya hal tersebut diatas, muncul pertanyaan bahwa, dapatkah benda tajam menyebabkan memar dan bengkak? Sementara dari hasil pemeriksaan saksi bahkan saksi korban menyebutkan tidak ada benda tajam yang dibawa terdakwa.

Ditambahkanya bahwa, semua saksi dijelaskan, bahwa kalau terdakwa mencekik leher korban. Dan perbuatan kekerasan yang nampak dan sinkron hanya itu, tapi dalam visum tidak ada luka dileher, bahkan tidak ada lebam dileher.

Lantas luka didahi, luka di pelipis, luka ditangan dan didada, siapa yang sebabkan? “Sementara penyebab luka tidak terang benderang dalam fakta persidangan. Besar dugaan kami, korban melukai diri sendiri. Apalagi sesuai saksi, meringankan yang kami ajukan, saat hari yang sama saat kejadian ternyata korban datang dan bertemu di polisi dalam keadaan aman-aman saja. Baik-baik saja dan tidak terlihat luka. Ini kan aneh,” ujarnya.

Terungkap juga, lanjut Michael bahwa korban sengaja membuat dirinya tidak bekerja dan seolah terhambat melakukan pekerjaan saat setelah kejadian.

“Atas dasar korban menyampaikan ijin ke atasannya untuk tidak bekerja, bukan atas dasar keterangan dokter. Nah, yang menilai korban sakit parah dan tidak bisa beraktivitas, harusnya dokter bukan diri korban sendiri. Untuk itu saya menduga ada rekayasa untuk membuat kasus ini terlihat berat,” pungkas Michael.(zet)

banner 300x250