Varian Baru COVID-19 Diduga Masuk Sulut, Masyarakat Diimbau Waspada

Bandara Sam Ratulangi perketat keluar masuk orang, dengan mewajibkan tes antigen bagi pelaku perjalanan yang tiba
IMG-20210818-WA0009

Manado, Sulutreview.com – Hasil update kasus terkonfirmasi positif COVID-19 di Sulawesi Utara (Sulut) meningkat dengan catatan 143 kasus.

Trend peningkatan kasus harian mencapai 200% pasca libur hari raya. Padahal sebelumnya dideteksi rata-rata 5 kasus perhari, namun sesudah hari raya meningkat 15 kasus per hari.

Bacaan Lainnya

“Pelipatgandaan kasus terjadi dengan cepat dan dalam periode waktu yang lebih pendek. Rata-rata per hari 5 kasus berlipat menjadi 10 kasus perhari dalam 21 hari. Kemudian meningkat menjadi 20 kasus perhari dalam kurun waktu 12 hari,dan naik menjadi rata rata 40 kasus perhari dalam waktu 9 hari,” ungkap Juru Bicara Satgas COVID-19, dr Steaven P Dandel MPH, Sabtu (03/07/2021).

Muncul kecurigaan fenomena tersebut disebabkan adanya penyebaran Variant of Concern (VoC), yakni Alfa,Beta, Delta dan Kappa. “Sampai saat ini belum bisa dipastikan karena pemeriksaan genomik sequencing yang telah dikirimkan oleh Balai Teknik Kesehatan Lingkungan Pencegahan Penyakit Manado ke Pusat Litbangkes Kemenkes RI, sampai saat ini belum ada hasil,” ujarnya.

Akan tetapi pada beberapa cluster yang terjadi di Sangihe,Tomohon, Manado dan juga Bitung menunjukkan kecepatan transmisi yang menyerupai variant of Concern ini.

Mencermati fenomena tersebut, Satgas Covid 19 Pempov Sulut, menyatakan walaupun secara laboratorium belum ada bukti adanya keberadaan variant of Concern di Sulawesi Utara, tetapi perkembangan kondisi epidemiologik dan kecepatan transmisi dari beberapa kasus menunjukkan adanya kemungkinan bahwa yang sementara beredar di Sulawesi Utara pada saat ini adalah VoC ini.

“Pola transmisi dari VoC ini berdasarkan laporan investigasi dari negara dan daerah lain di Indonesia adalah lebih cepat, menjangkiti lebih banyak orang dan adanya kemungkinan yang sangat tinggi bahwa transmisinya bersifat aerosol/ airborne,” ungkapnya.

Penularan aerosol/airborne, sebut Dandel
adalah penularan yang disebabkan karena menghirup partikel virus yang mengambang di udara.

“Pada penularan airborne, orang yang infeksius mengeluarkan partikel virus ini lewat batuk atau bersin yang melayang di udara dan bisa bertahan sampai 16 jam. Sehingga mereka yang tidak memakai masker akan sangat mudah terinfeksi,” jelasnya.

Dengan pola transmisi seperti ini maka masyarakat dihimbau untuk menaikkan kewaspadaannya ketitik tertinggi.

“Pemakaian masker menjadi hal yang wajib dilakukan. Pola kerja dari rumah diimplementasikan kembali. Sirkulasi udara ruangan kerja harus diperbaiki. Menghindari makan bersama, karena pada saat makan bersama otomatis masker akan dibuka,” tukasnya.

Selanjutnya, langkah antisipasi yang wajib dilakukan adalah, menghindari acara acara di tempat tertutup dan padat.

“Menghindari kerumunan kemana pun kita pergi. Acara acara resepsi dengan kehadiran lebih dari 30 orang sebaiknya dihindari. Demikian juga dengan pelaksanaan ibadah dan perayaan sebaiknya melalui daring,” imbau Dandel.(eda)

banner 300x250