Rare dan DKP Sulut Berdayakan Masyarakat Pesisir dengan Program PAAP

0
366

Manado, SULUTREVIEW

Konservasi Internasional, Rare Conservation bersama Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sulawesi Utara (Sulut) sepakat untuk memberdayakan masyarakat pesisir melalui program Pengelolaan Akses Area Perikanan (PAAP).

Konsep pemberdayaan masyarakat pesisir tersebut sejalan dengan percepatan program Operasi Daerah Selesaikan Kemiskinan (ODSK), yakni untuk melestarikan sumber daya perikanan.

Kepala DKP Provinsi Sulut, Tinneke Adam mengatakan program PAAP adalah konsep baru yang sangat tepat bagi masyarakat pesisir. Bukan hanya bagaimana mengoptimalkan sumber daya perikanan tetapi untuk jangka panjang dapat meningkatkan perekonomian.

“Masyarakat pesisir, yakni para nelayan lokal akan diedukasi dan didampingi, bahkan diubahkan mindset-nya agar mengelola dan merawat kawasan laut sebagai sumber pencaharian utama. Bahkan lebih dari itu adalah bagaimana menjaga kelestarian laut,” kata Adam.

Tineke menjelaskan, program PAAP memberikan keluasan kepada masyarakat pesisir untuk mengelola area laut.

“Silahkan nelayan mengelola area, dengan aturan yang diterbitkan dan disepakati bersama,” ujarnya sambil menambahkan bahwa sebelumnya sudah ada kebijakan Daerah Perlindungan Laut (DPL). Hanya saja, hal itu belum optimal pengelolaannya.

“Sebelumnya sudah ada DPL, tetapi melalui PAAP akan lebih dituntaskan. Karena tujuannya agar berdampak mengubah perilaku serta menghindari aktivitas yang tidak ramah lingkungan. Yakni menjaga dan mengelola kawasan untuk kelestarian,” tandasnya.

Untuk program tersebut, PAAP akan menyasar 9 kabupaten/kota yang disasar. “Setelah diidentifikasi ada 23 lokasi yang akan disasar PAAP, dan 12 lokasi akan jadi percontohan,” tukasnya.

Untuk mendampingi mereka, Tineke menyebutkan telah membentuk pelatihan selama tiga tahun.

“Untuk merubah perilaku itu tidak mudah, dibutuhkan waktu. Hal ini juga tidak lepas dari pemerhati NGO lingkungan. Sebagai tindak lanjut sudah dibentuk kelompok kerja (pokja) yang dikoordinir oleh Sekprov Sulut Edwin Silangen,” sebut Tineke.

Selain itu, pada kesepakatan yang dibuat akan diatur supaya masyarakat pesisir mengetahui kawasan larang ambil, yang merupakan tempat bertelur ikan.

“Nelayan boleh ambil tetapi di luar area yang telah disepakati,” ujarnya.

Senada disampaikan Program Director Rare, Hari Kushardanto bahwa PAAP merupakan program yang membangun kapasitas masyarakat pesisir supaya bisa mengelola dan memanfaatkan serta menjaga kawasan laut.

“Bagaimana kawasan tangkap dapat mereka jaga, dan jika tidak ada kendala akhir tahun ini sudah jalan,” tandasnya.

Dipilihnya Sulut, katanya, karena kondisi perikanan yang dinilai baik.

“Sulut masuk kategori dari 10 daerah dengan perikanan yang baik,” ujarnya.

Sementara itu terkait support dana, Hari menambahkan mendapat dukungan dari Bloomberg Fondation.(eda)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here