web analytics

Dua WNI Survive dari Ganasnya Laut, Hanya Minum Air Hujan dan Makan Kelapa

Dua WNI Survive dari Ganasnya Laut, Hanya Minum Air Hujan dan Makan Kelapa
Marfrenly dan Altin saat tiba di VVIP Bandara Sam Ratulangi

MANADO, SULUTREVIEW

Dua Warga Negara Indonesia (WNI) asal Sulawesi Utara (Sulut), yakni Marfrenly Sampul (14) dan Altin Awawangi (38) yang sempat terombang-ambing di laut selama satu bulan 10 hari, pada akhirnya tiba dengan selamat di VVIP Bandara Sam Ratulangi, pukul 17.20 WITA, Senin (19/8/2019).

Sebelumnya, Altin dan Marfrenly mendapat perlindungan di penampungan KBRI Papua Nugini-Port Moresby. Selanjutnya diterbangkan dari Pulau Rabaul menuju Port Moresby pada tanggal 15 Agustus 2019. Dan pada tanggal 18 Agustus 2019,  keduanya diterbangkan ke Vanimo.

Dari Vanimo, keduanya dibawa oleh KRI Vanimo ke Jayapura, pada tanggal 19 Agustus 2019 pagi via perjalanan darat. Kemudian keduanya diberangkatkan dari Bandara Sentani, Jayapura menuju Manado.

Setibanya di Manado, guratan sukacita nampak jelas terpancar dari keduanya yang dijemput oleh Kedubes Dubes RI untuk Serbia dan Montenegro Harry Kandouw, jajaran Pemprov Sulut dan Pemerintah Talaud.

Baik Altin dan Marfrenly yang merupakan paman dan keponakan ini, mengatakan bahwa kalau mereka dapat survive selama ditengan laut tanpa pasokan makanan itu karena pertolongan Tuhan.

“Tuhan sangat baik, karena sudah menyelematkan kami,” kata keduanya.

Altin dan Marfrenly mengatakan musibah itu bermula saat masa liburan. Di mana mereka dari Talaud melakukan kunjungan ke rumah salah satu saudara yang berada di negara Filipina dengan menggunakan kapal boat.

Saat itu mereka bersama dengan oma, opa dan tante dari Marfrenly. Mereka tiba di Filipina dengan selamat dengan waktu tempuh sehari. Mereka pun tinggal selama tiga pekan di Filipina.

Marfrenly (kiri) dan Altin (kanan) saat menceritakan musibah yang dialami.

Namun rencana mereka untuk pulang ke Talaud pupus dan musibah itu terjadi saat perahu (sejenis  katinting) dengan persediaan tiga galon bahan bakar, habis untuk menghadapi arus gelombang yang kuat.

“Sebenarnya kami hanya menumpang di kapal yang memuat tujuh orang, yaitu oma, opa, tante, Marfrenly dan saya (Altin) bersama dua orang dari Fillipina. Dan saat kehabisan bahan bakar maka kami terombang ambing di tengah laut,” kisah Altin.

Marfrenly juga menimpali, oma, opa dan tantenya tidak mampu bertahan hidup karena sudah tidak ada sesuatu yang dapat dimakan.

“Mereka bertiga meninggal dan kami kuburkan ke laut dengan berdoa terlebih dahulu,” ucap Marfrenly dengan mata berkaca-kaca.

Sebenarnya mereka juga sudah tidak sanggup melawan ganasnya lautan, tetapi mereka terus berdoa berharap mujizat akan menghampiri mereka.

“Kami dapat bertahan hanya dengan minum air hujan dan makan kelapa yang hanyut di laut. Sambil sesekali ada ikan yang masuk ke perahu, itu kami makan mentah,” jelas Altin sembari mengingatkan Marfrenly agar tetap setia kepada Tuhan.

Torang dua Tuhan so tolong (kita berdua sudah ditolong Tuhan-red) kalau sampai di Talaud jangan malas masuk gereja,” kata Altin disambut anggukan Marfrenly.

Altin yang tinggal di  Alude Talaud tepatnya di Salibabu dan Marfrenly yang masih sekolah di SMA Negeri 1 Lirung mengaku akan berupaya untuk tidak trauma dengan apa yang sudah dilaluinya.

“Iyah, kami harus menerima semua musibah ini dengan ucapan syukur, kami tidak boleh trauma. Tetap punya pengharapan bahwa Tuhan selalu menyertai,” pungkasnya.

Pada kesempatan ini, Dubes RI untuk Serbia dan Montenegro Harry Kandouw kepada wartawan mengatakan agar WNI yang ada di Indonesia ketika menghadapi masalah agar tidak segan-segan untuk meminta pertolongan di KBRI maupun KJRI.

“Semula hilangnya dua WNI ini dilaporkan oleh salah satu wartawan di group Sulut Hebat. Bahwa ada kapal boat berpenumpang enam orang. Tetapi menurut keterangan dua WNI ini ternyata tujuh orang. Hal iti langsung ditindaklanjuti Direktorat Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri berkoordinasi dengan KBRI Papua Nugini setelah mengetahui kedua korban berada di Papua Nugini,” ungkapnya.

“Kemenlu dan Pemprov Sulut, kita sama-sama berkoordinasi sehingga dapat memberikan perlindungan. Karena ini menjadi tugas kami. Makanya masyarakat yang memiliki masalah di luar negeri datanglah ke pemerintah,” tandasnya.

Turut hadir menjemput Marfrenly dan Altin, Kepala Biro Protokol dan Humas Setdaprov Sulut Jemmy Kumendong, Kepala Badan Kesbangpol Meiky Onibala dan Kepapa Badan Kesbangpol Talaud.(eda)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply