Lunturnya Rasa Kebangsaan, FH Unsrat Galang Doa dan Konser Rohani

Lunturnya Rasa Kebangsaan, FH Unsrat Galang Doa dan Konser Rohani

Manado, SULUTREVIEW

Puncak peringatan Hari Sumpah Pemuda, yang dilaksanakan Senin (29/10/2018) menjadi momen penting bagi civitas Fakultas Hukum (FH) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat).

Pada kesempatan itu digelar sejumlah kegiatan, yakni seminar nasional, Focus Group Discussion (FGD) dan doa bersama serta konser rohani.

Menariknya dalam momen Doa bagi Negeri dan Konser Rohani yang mengangkat tema ‘Kotaku, Negara & Bangsaku Berkenan Kepada Tuhan’ merupakan upaya untuk membawa persoalan bangsa pada fase pemulihan.

Dekan Fakultas Hukum Unsrat, Dr Flora Pricilla Kalalo SH MH, dalam pidatonya mengataka rasa kebangsaan akan tanah air sudah mulai luntur. hal ini tak lepas dari derasnya era globalisasi yang diikuti dengan luntumya budaya ketimuran.

“Di era ini, semakin sulit ditemukan anak muda yang mempunyai sopan santun khas budaya Timur, sebagaimana dulu pernah dicontohkan oleh para pendahulu kita. Juga semakin sulit pula kita menemukan para generasi muda yang hafal butir-butir dari sila Pancasila,” sebutnya.

“Jika kita ambil sampel di tempat umum, apakah |00% generasi muda kita hafal lagu Indonesia Rays? Coba tanyakan pula siapa pencipta lagu Bagimu Negeri. Tapi coba tanyakan siapa yang mcnyanyikan lagu I Heart You, maka mereka akan dengan cepat menjawabnya,” sambung Kalalo.

Meskipun kadar kebangsaan seseorang tidak semata-mata diukur dengan bisa tidaknya ia menyanyikan lagu kebangsaan. Tetapi dengan mengetahui Iagu-lagu wajib, paling tidak hal ini dapat menjadi tolak ukur dan suatu peringatan untuk mencintai tanah air.

“Memang kita menyadari bahwa terjadi penurunan pamahaman dan pengaplikasian akan rasa kebangsaan Indonesia, namun dengan realita yang demikian, kita tak perlu berkecil hati. Karena dengan berbagai upaya Iainnya, kita dapat mempertahankan rasa cinta akan bangsa ini dan tentunya dengan terus menggali potensi yang ada,” tandasnya.

Dr Flora Pricilla Kalalo SH MH.

Di sisi lain, jelas Kalalo, Indonesia tidak membutuhkan generasi pemalas, yang mudah terpengaruh dampak negatif globalisasi, dan tidak mengindahkan nilai-nilai luhur bangsa. Tetapi Bangsa Indonesia sangat membutuhknn generasi muda yang memiliki jiwa nasionalis, religious, semangat tinggi, dan generasi muda yang berani, berpendirian, berani benindak, dan berani bertanggung jawab.

“Banyak hal yang harus dibenahi dalam diri kita, mulai dari hal-hal kecil, hingga ke hal-hal yang besar. Dari cara kita berpakaian, bertutur kata, bergaul dan lainnya. Marilah lihat di sekeliling kita, banyak saudara kita yang telah mengenal rokok, narkoba, pergaulan bebas, dan tindak kriminal lainnya. Banyak hal yang menyebabkan itu semua, salah satunya adalah kurangnya kepedulian kita untuk berfikir sebelum bertindak. Indonesia kini juga dirundung persoalan bangsa, di mana kita sabagai sesama anak bangsa harus saling memiliki kepedulian.

Pada kesempatan ini juga dinaikkan doa bersama oleh pimpinan agama yang ada di Sulawesi Utara untuk keselamatan dan kelangsungan bangsa Indonesia dalam satu ikatan NKRI.(eda)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply