Manado, Sulutreview.com – Ketergantungan generasi muda terhadap energi listrik di era digital saat ini ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi mendukung produktivitas, namun di sisi lain menyimpan potensi bahaya besar jika disertai kelalaian.
Merespons fenomena tersebut, PT PLN (Persero) melalui Unit Layanan Pelanggan (ULP) Manado Utara membidik SMA Negeri 4 Manado dalam program “PLN Goes to School”.
Langkah ini sengaja diambil untuk mencetak para siswa menjadi pelopor sekaligus agen perubahan dalam mencegah risiko kecelakaan listrik di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Manager PLN ULP Manado Utara, Yuga Marlindrah, menyoroti bagaimana aktivitas anak muda zaman sekarang yang nyaris tidak bisa lepas dari paparan gawai dan listrik.
“Listrik sangat dekat dengan aktivitas anak muda saat ini, namun potensinya juga berbahaya jika kita lalai. Melalui edukasi ini, kami ingin para siswa tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pelopor keselamatan yang ikut mengingatkan lingkungan sekitar mereka,” ujar Yuga.
Aktivitas edukasi yang digelar di Kelurahan Perkamil ini berlangsung interaktif dan jauh dari kesan membosankan. Tim K3L (Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan) PLN membeberkan sejumlah kebiasaan sepele di tingkat rumah tangga yang kerap menjadi pemicu kebakaran besar, seperti, kebiasaan menumpuk colokan listrik (stopkontak) secara berlebihan, penggunaan kabel atau peralatan elektronik yang tidak berstandar SNI dan aktivitas luar ruangan yang berisiko, seperti bermain layang-layang di dekat jaringan transmisi serta membiarkan pohon rimbun menyentuh kabel PLN.
Tidak sekadar memaparkan teori, para siswa dan tenaga pendidik SMAN 4 Manado juga ditantang melakukan simulasi langsung penanganan darurat, mulai dari cara mematikan Miniature Circuit Breaker (MCB) utama saat terjadi korsleting, hingga simulasi memadamkan percikan api.
Sementara itu, General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Sulawesi Utara, Tengah, dan Gorontalo (Suluttenggo), Usman Bangun, menegaskan bahwa masuk ke sekolah adalah strategi hulu PLN untuk membangun budaya keselamatan yang preventif sejak dini.
”Generasi muda adalah agen perubahan yang sangat efektif. Kami berharap para siswa dapat menjadi perpanjangan tangan PLN dalam mengedukasi keluarga dan lingkungan sekitar mereka mengenai bahaya listrik,” ungkap Usman.
Senada, Manager PLN UP3 Manado, Revi Aldrian, menambahkan bahwa kolaborasi dengan instansi pendidikan ini krusial untuk menekan angka kecelakaan listrik akibat minimnya informasi teknis di masyarakat.
”Kami berkomitmen tidak hanya mendistribusikan energi listrik yang andal, tetapi juga memastikan masyarakat aman dalam menggunakannya,” kunci Revi.
Di akhir acara, selain dibekali pemahaman mitigasi bencana, para siswa juga diperkenalkan dengan digitalisasi layanan lewat aplikasi PLN Mobile, agar mereka dapat menjadi garda terdepan yang responsif dalam melaporkan potensi bahaya listrik di sekitar tempat tinggal mereka.(hilda)













