Kendalikan Inflasi di Boltim, BI Fokus pada Cabai Rawit dan Berdayakan Petani

KPw BI Sulut Joko Supratikto. Foto:Hilda

Tutuyan Boltim, Sulutreview.com — Upaya pengendalian inflasi pangan di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) melalui berbagai program penguatan sektor pertanian dari hulu hingga hilir, diseriusi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara (KPw BI Sulut).

Program tersebut disampaikan Kepala KPw BI Sulut, Joko Supratikto, dalam kegiatan High Level Meeting (HLM) TPID dan TP2DD di Boltim, Selasa (19/5/2026).

Joko mengatakan, pengendalian inflasi pangan tidak hanya dilakukan melalui intervensi pasar jangka pendek, tetapi juga dengan memperkuat kapasitas petani, kelembagaan, akses pasar, hingga pembiayaan pertanian.

“Bank Indonesia mendorong penguatan ekosistem pertanian yang berkelanjutan agar produktivitas meningkat, pasokan pangan terjaga, dan stabilitas harga khususnya komoditas cabai rawit dapat dikendalikan,” ujar Joko.

Ia menjelaskan, pada 2025 program difokuskan pada pembentukan pondasi pengembangan petani unggulan Sulawesi Utara, termasuk di Boltim. Upaya tersebut dilakukan melalui pelatihan teknis dasar pertanian dan usaha tani atau PATUA Tahap I yang dilanjutkan dengan pendampingan sekolah lapang dan demplot pertanian untuk komoditas bawang dan cabai.

Selain itu, BI turut memperkuat kelembagaan melalui pembentukan Koperasi Wale Tani Mapalus sebagai agregator dan offtaker petani cabai se-Sulawesi Utara yang saat ini beranggotakan 21 kelompok tani, termasuk dari Boltim.

“Melalui koperasi ini, petani tidak hanya didorong meningkatkan produksi, tetapi juga memiliki akses pasar dan pembiayaan yang lebih baik,” katanya.

BI juga memfasilitasi business matching yang menghasilkan nota kesepahaman antara Koperasi Wale Tani Mapalus dengan ritel modern Trufarm untuk penyerapan hasil produksi petani.

Memasuki 2026, program diperluas dan diperdalam melalui Mindpreneur Bootcamp PATUA guna membangun pola pikir petani yang adaptif dan inovatif. Pelatihan PATUA juga dirangkaikan dengan pelatihan iklim bersama BMKG agar petani mampu menentukan metode tanam dan waktu tanam yang optimal.

“Penguatan kapasitas petani menjadi kunci dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan menjaga keberlanjutan produksi pangan,” ujar Joko.

Pendampingan sekolah lapang tahun ini juga dilaksanakan di salah satu demplot PATUA dengan edukasi pembuatan pupuk organik cair guna meningkatkan kesuburan tanah dan produktivitas tanaman secara berkelanjutan.

Di sisi lain, BI turut menyalurkan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) serta sarana produksi kepada Poktan Matuari yang fokus pada budidaya cabai rawit. Bantuan tersebut meliputi alkon, hand tractor, sprayer, bibit, pupuk, hingga pengendalian hama.

Tak hanya itu, perluasan akses keuangan juga diperkuat melalui pelatihan Sistem Aplikasi Pencatatan Informasi Keuangan (SIAPIK) untuk meningkatkan kapasitas pembiayaan formal para petani.

Dalam kesempatan tersebut, Joko juga menyoroti Program Championship Klaster Integrasi Pertanian Cabai Rawit Sulawesi Utara yang dikembangkan sebagai pilot project penguatan klaster cabai rawit melalui Koperasi Wale Tani Mapalus.

“Program ini menjadi langkah konkret untuk memperkuat stok pangan dan menjaga stabilitas harga cabai di Sulawesi Utara. Peran kelompok tani dari Boltim sangat penting sebagai garda terdepan penguatan produktivitas dan pasokan,” ujarnya.

Saat ini, koperasi tersebut telah memiliki 25 kelompok tani dengan sekitar 250 petani anggota yang tersebar di sembilan kabupaten/kota di Sulawesi Utara. Komoditas utama yang dikembangkan adalah cabai rawit, disertai komoditas pendukung seperti padi, tomat, bawang, jagung, jahe, dan buah-buahan.

Hingga 2025, produktivitas cabai rawit tercatat meningkat 20 persen dari 18 ton per hektare menjadi 22 ton per hektare. Total produksi cabai rawit yang berhasil dihimpun mencapai 50,3 ton per tahun.

Selain itu, koperasi juga memiliki potensi pengembangan lahan hingga 24,3 hektare dengan estimasi produksi mencapai 120 hingga 190 ton per siklus tanam. Sebanyak 60 persen hasil produksi dipasarkan ke pasar lokal, 35 persen ke luar pulau, dan 5 persen diserap ritel modern Trufarm.

Ke depan, pada 2026 Bank Indonesia merencanakan penguatan program melalui kerja sama pemasaran dengan BUMD, distributor, dan pelaku usaha di Sulawesi Utara guna memperluas rantai distribusi hasil pertanian petani lokal.(hilda)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *