Manado, Sulutreview.com – Angin laut berembus lembut di pesisir Teluk Manado Sulawesi Utara (Sulut), Kamis (12/2/2026) pagi.
Ombak kecil bergulung pelan, namun di antara pasir putih yang indah, terlihat plastik dan botol bekas yang terbawa arus.
Di sanalah, sejumlah pegawai berseragam dinas terlihat memunguti satu per satu sampah yang tercecer dan dimasukkan dalam kantong.
Jajaran Sekretariat DPRD Sulut (Setwan), yang kesehariannya disibukkan dengan agenda rapat atau pembahasan regulasi, kali ini terjun langsung melakukan aksi bersih pantai yang menjadi bagian dari dukungan terhadap program ASRI.
Di tengah mereka, nampak Sekretaris DPRD Sulut, Niklas Silangen, yang tanpa risih atau takut kotor ikut memungut sampah tanpa sekat jabatan.
“Kalau bukan kita yang mulai, siapa lagi?” ucap Silangen sambil memasukkan plastik kresek ke dalam kantong besar yang dibawanya.
Bagi sebagian pegawai, kegiatan ini menghadirkan pengalaman berbeda. Maria, salah satu staf, mengaku baru kali itu ia benar-benar menyadari betapa banyaknya sampah yang terdampar di pesisir.
“Selama ini kita menikmati pantai hanya dari keindahannya. Tetapi ketika melihat langsung sampah yang menumpuk, rasanya sedih. Pantai ini bukan cuma tempat wisata, tapi ruang hidup kita bersama,” katanya.
Di sela-sela aktivitas memungut sampah, beberapa pegawai menyempatkan diri menyapa warga yang tengah berolahraga pagi. Mereka mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga kebersihan dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Tak sedikit warga yang akhirnya ikut membantu, menciptakan suasana gotong royong yang hangat.
Bagi Silangen, aksi ini lebih dari sekadar rutinitas simbolis. Ia percaya perubahan besar berawal dari langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten. “Program ASRI harus terasa dampaknya. Bukan hanya bersih hari ini, tetapi membangun kesadaran untuk seterusnya,” ujarnya.
Sulut dikenal dengan kekayaan wisata baharinya. Pantai-pantainya menjadi kebanggaan sekaligus tumpuan ekonomi masyarakat. Karena itu, menjaga kebersihannya bukan hanya soal estetika, tetapi juga masa depan.
Menjelang siang, kantong-kantong sampah mulai terkumpul. Wajah lelah terlihat, namun tergantikan oleh senyum puas. Di balik seragam dinas yang biasa identik dengan ruang formal, hari itu ada cerita tentang kepedulian, tentang tangan-tangan yang rela kotor demi lingkungan yang lebih bersih.
Aksi tersebut bukan hanya meninggalkan garis pantai yang lebih rapi, tetapi juga jejak kesadaran: bahwa menjaga bumi adalah tanggung jawab bersama, tanpa memandang jabatan.(hilda)













