Jakarta Sulutreview.com – Pemanfaatan teknologi digital kini semakin vital dalam memacu produktivitas, memperluas jangkauan pasar, dan mendorong Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk naik kelas di era ekonomi digital.
Bank Indonesia (BI) melalui serangkaian strategi akselerasi digitalisasi yang menyasar sektor riil hingga ke daerah, termasuk di Sulawesi Utara (Sulut) melihat pentingnya terobosan tersebut.
Melalui rangkaian gelaran Innovation Talk Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 bertema “Akselerasi Transformasi Digital UMKM: Integrasi Inovasi Digital Menuju UMKM Naik Level” yang berlangsung di Hall A dan B JICC Jakarta, baru-baru ini, BI menekankan pentingnya adopsi teknologi secara menyeluruh.
Integrasi inovasi ini diyakini mampu meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperkuat daya saing produk lokal di tingkat nasional maupun internasional.
Hal ini, sejalan dengan perkembangan digitalisasi UMKM di Sulut menunjukkan tren yang sangat positif. Langkah ini diwujudkan melalui tiga pilar utama, yakni penerapan e-farming, ekspansi e-commerce, dan pemanfaatan e-financing.
Penerapan teknologi smart greenhouse serta drone sprayer pada enam kelompok tani yang tergabung dalam Petani Unggulan Sulawesi Utara (PATUA) terbukti efektif menekan biaya produksi dan meningkatkan hasil panen untuk komoditas cabai, bawang merah, dan padi.
Selain di sektor pertanian, penguatan ekosistem digital juga berdampak langsung pada ratusan pelaku usaha binaan di wilayah Sulut. Lebih dari 150 UMKM kini telah terhubung ke platform e-commerce dan memanfaatkan aplikasi pencatatan keuangan SIAPIK agar pengelolaan usaha menjadi lebih transparan dan memudahkan akses pembiayaan perbankan.
Tak hanya itu, penetrasi pembayaran digital juga mencatat lonjakan tajam dengan hadirnya 388 ribu merchant QRIS di Sulut, di mana mayoritas di antaranya merupakan pelaku UMKM dengan total akumulasi transaksi mencapai Rp3,5 triliun.
Kepala Perwakilan BI Provinsi Sulut, Joko Supratikto, mengatakan bahwa pencapaian ini merupakan buah dari kolaborasi berkelanjutan dalam memperkuat ekosistem usaha lokal.
”Transformasi digital bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mutlak bagi UMKM di Sulawesi Utara agar mampu beradaptasi dan bersaing di pasar yang lebih luas. Melalui penerapan teknologi tepat guna dari hilir ke hulu, mulai dari digital farming hingga pembayaran berbasis QRIS, kita menyaksikan peningkatan produktivitas dan transparansi keuangan yang nyata pada pelaku usaha daerah,” ujar Joko.
Ia mengimbau agar seluruh pemangku kepentingan terus memperkuat sinergi demi menjaga keberlanjutan momentum pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif.
”Dengan memegang teguh semangat Mapalus atau gotong royong, kami optimistis digitalisasi ini akan melahirkan pelaku UMKM Sulawesi Utara yang tangguh, inovatif, dan siap menjadi tulang punggung perekonomian nasional,” tandasnya sembari menambahkan agar masyarakat secara luas dapat mendukung terobosan ini.
“Kami mengajak masyarakat luas untuk terus mendukung produk lokal dengan mengunjungi pameran KKI 2026, baik secara langsung di JICC Jakarta maupun melalu laman resmi digital yang tersedia,” tutur Joko.(hilda)






