Jakarta, Sulutreview.com – Proyek waste-to-energy yang dipelopori oleh PT PLN (Persero) diharapkan menjadi jawaban atas tantangan lingkungan yang dihadapi Indonesia, sekaligus membuka peluang besar dalam menyediakan energi bersih dan terbarukan.
Airlangga menyatakan bahwa pembangunan PLTSa ini sangat penting untuk mendorong perkembangan sektor pariwisata Indonesia. Ia menilai bahwa kota yang bebas dari sampah akan membantu memperbaiki ekosistem pariwisata.
Selain itu, tambah Airlangga, pembangunan pembangkit EBT ini juga sejalan dengan arahan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang menargetkan agar pembangunan PLTSa sebagai proyek waste-to-energy ini sudah dapat terealisasi di seluruh provinsi di Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.
“Presiden Prabowo Subianto menargetkan pada 2029, sebanyak 33 PLTSa sudah terbangun dan tersebar di berbagai provinsi Indonesia, khususnya untuk daerah-daerah yang memiliki permasalahan sampah,” tuturnya.
Menurut Managing Director Investment Danantara Indonesia, Stefanus Ade Hadiwidjaja, inisiatif ini akan memberikan dampak signifikan terhadap pengelolaan sampah dan keberlanjutan energi di Indonesia.
“Indonesia memiliki potensi besar untuk mengelola sampah melalui konsep waste-to-energy. Namun, keberhasilan proyek ini hanya bisa dicapai jika ada kerja sama yang solid antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, sektor bisnis, dan masyarakat,” ujar Stefanus dalam keterangannya.
Sebagai bagian dari proyek ini, Danantara Indonesia telah menggandeng PLN untuk berperan sebagai offtaker dalam penyerapan energi yang dihasilkan dari pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa). Stefanus menekankan pentingnya kolaborasi dalam menciptakan sistem yang terintegrasi dan terukur, guna mendukung keberlanjutan ekonomi dan kehidupan masyarakat ke depan.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menegaskan bahwa pihaknya sangat mendukung percepatan pembangunan PLTSa di Indonesia. PLN akan memastikan seluruh proyek ini terhubung dengan sistem kelistrikan nasional, sekaligus menjaga stabilitas pasokan listrik yang bersumber dari pengolahan sampah.
“PLN siap untuk bertindak sebagai offtaker yang menjamin daya serap listrik dari pembangkit waste-to-energy ini. Kami juga akan memperkuat infrastruktur kelistrikan, baik transmisi maupun distribusi, agar setiap PLTSa bisa terhubung dengan lancar dan optimal,” ujar Darmawan.
Lebih lanjut, Darmawan menyampaikan bahwa PLN tengah fokus pada penguatan sistem kelistrikan di wilayah yang menjadi prioritas pengembangan proyek PLTSa, dengan harapan dapat mempercepat proses integrasi energi dari sampah ke dalam jaringan nasional. Upaya ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada sumber energi fosil, serta menciptakan solusi jangka panjang dalam pengelolaan sampah dan energi bersih.
Dengan adanya kolaborasi antara berbagai pihak, Stefanus optimistis bahwa proyek waste-to-energy ini akan sukses, dan dapat memberikan manfaat ganda bagi lingkungan serta ketahanan energi nasional Indonesia.(hilda)













