Belém, Sulutreview.com — Komitmen Indonesia dalam mempercepat transisi energi kembali ditegaskan melalui langkah strategis PT PLN (Persero).
Direktur Teknologi, Engineering dan Keberlanjutan PLN, Evy Haryadi, mengungkapkan bahwa PLN kini membuka peluang kerja sama forward offtake bagi tiga proyek penurunan emisi yang telah memperoleh sertifikasi Gold Standard, dengan total potensi reduksi mencapai 1,5 juta ton CO₂e.
Salah satu proyek unggulan yang ditawarkan adalah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) ground-mounted berkapasitas 50 megawatt (MW) yang dilengkapi dengan sistem baterai di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN). Proyek ini didesain untuk menjadi model implementasi energi bersih di kota masa depan Indonesia, sekaligus mendukung target emisi nol bersih (Net Zero Emission) pada 2060.
Evy menjelaskan bahwa peluang forward offtake ini menjadi bagian dari strategi PLN untuk memastikan proyek-proyek energi baru terbarukan (EBT) mendapatkan kepastian pasar sejak tahap awal, sehingga memperkuat minat investasi dan mempercepat realisasi pembangunan.
“Peluang ini kami hadirkan sebagai bagian dari transformasi sektor ketenagalistrikan Indonesia menuju ekosistem energi yang lebih berkelanjutan, kompetitif, dan berdaya saing internasional. Dengan dukungan investor dan mitra teknologi, kita dapat mempercepat realisasi proyek-proyek strategis yang memberikan dampak nyata bagi pengurangan emisi,” ujar Evy.
Menurutnya, langkah ini sejalan dengan fokus PLN untuk membangun portofolio proyek hijau yang bukan hanya memenuhi kebutuhan listrik, tetapi juga memberikan nilai tambah berupa kredit karbon yang dapat diperdagangkan secara global. Sertifikasi Gold Standard menjadi jaminan bahwa setiap ton emisi yang berhasil ditekan memenuhi standar pengukuran dan verifikasi internasional yang ketat.
Selain proyek PLTS di IKN, dua proyek lainnya yang termasuk dalam paket forward offtake disebut memiliki skala dan dampak serupa dalam mendukung dekarbonisasi sektor energi. Ketiga proyek ini diharapkan menjadi katalis percepatan pencapaian bauran energi terbarukan nasional dan memperkuat posisi Indonesia dalam pasar karbon global.
PLN menegaskan bahwa keterlibatan berbagai pihak—mulai dari investor, pengembang teknologi, hingga lembaga pembiayaan—akan menjadi kunci keberhasilan pengembangan proyek-proyek EBT tersebut. Dengan adanya skema forward offtake, investor memperoleh kepastian atas nilai ekonomi dari kredit karbon yang dihasilkan, sementara PLN dapat menjaga kesinambungan proyek hijau yang telah direncanakan.
Upaya ini menjadi langkah konkret PLN dalam mendukung komitmen pemerintah mencapai target penurunan emisi Gas Rumah Kaca, sekaligus menjadikan Indonesia sebagai salah satu pemain utama dalam pengembangan energi bersih di kawasan Asia Tenggara.(hilda)













