Manado, Sulutreview.com – Kesejahteraan petani di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) makin membaik, indikatornya terukur dari Nilai Tukar Petani (NTP) pada bulan Oktober 2025 yang mengalami kenaikan 2,25 persen menjadi 134,24 dibandingkan dengan bulan September 2025 yang bernilai 131,29.
Dijelaskan Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Sulut, Aidil Adha, peningkatan NTP disebabkan kenaikan Indeks Harga yang diterima Petani (It) yang lebih besar dibandingkan kenaikan Indeks Harga yang dibayar Petani (Ib). Nilai It di Oktober naik sebesar 2,57 persen, sedangkan nilai Ib naik sebesar 0,32 persen.
“NTP secara Year to Date (YTD) atau tahun kalender mengalami kenaikan sebesar 12,34 persen. Searah dengan itu, NTP secara Year on Year (YoY) atau tahun ke tahun juga mengalami kenaikan sebesar 18,51 persen,” ujarnya Senin (03/11/2025),” tukasnya.
Pada bulan Oktober 2025, Aidil menjelaskan terdapat dua subsektor yang mengalami kenaikan NTP dan tiga subsektor lainnya mengalami penurunan NTP.
“Subsektor yang mengalami kenaikan NTP yaitu subsektor Hortikultura sebesar 20,30 persen, dan subsektor Perikanan sebesar 0,27 persen. Subsektor yang mengalami penurunan NTP yaitu subsektor Tanaman Pangan yang turun sebesar 2,59 persen; subsektor Tanaman Perkebunan Rakyat sebesar 0,88 persen dan subsektor Peternakan yang turun sebesar 0,12 persen,” rincinya.
Selanjutnya, dri enam provinsi di Pulau Sulawesi, hanya dua Provinsi mengalami kenaikan NTP yaitu Provinsi Sulawesi Utara dan Gorontalo dengan kenaikan masing-masing sebesar 2,25 persen dan 0,04 persen, sementara empat provinsi lainnya mengalami penurunan dengan penurunan terbesar terjadi di Provinsi Sulawesi Tengah dengan penurunan sebesar 4,97 persen.
“Indeks Konsumsi Rumah Tangga Sulawesi Utara secara bulanan mengalami kenaikan sebesar 0,40 persen. Sub kelompok pengeluaran dengan kenaikan indeks terbesar adalah subkelompok Perawatan Pribadi Dan Jasa Lainnya yang naik sebesar 0,72 persen. Sementara subkelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga mengalami penurunan sebesar 0,03 persen,” pungkasnya.(hilda)













