Manado, Sulutreview.com – Realisasi kinerja perbankan di wilayah Sulawesi Utara, Gorontalo dan Maluku Utara (Sulutgomalut) pada Triwulan II, tepatnya hingga akhir Juni 2025 terpantau tumbuh dan stabil.
Realisasi tersebut didorong oleh sejumlah indikator utama, yakni untuk total aset di Sulut tumbuh sebesar 4,93 persen secara tahunan (yoy) dan 1,53 persen secara bulanan (mtm) dan year todate (ytd) sebesar 3,61 persen dengan capaian sebesar Rp102,93 triliun.
Untuk Provinsi Gorontalo tumbuh 2,81 persen (yoy), 0,94 persen (mtm) dan secara year todate (ytd) 1,74 persen dengan capaian sebesar Rp10,31 triliun atau (2,81 persen).
Selanjutnya, pertumbuhan aset di Maluku Utara Rp23,99 triliun (7,63 persen), dengan rincian secara tahunan 7,63 persen (yoy), 2,64 persen (mtm) dan 4,24 persen (ytd).
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulutgomalut Robert HP Sianipar menyebutkan, aset perbankan di wilayah Sulutgomalut menunjukkan pertumbuhan yang stabil. Hal itu tercermin dari soliditas sektor perbankan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi lokal.
“Secara keseluruhan kinerja perbankan di wilayah Sulutgomalut tetap tumbuh dan stabil,” ungkap Sianipar saat menyampaikan laporannya dalam Media Update Kantor OJK Provinsi Silugomalaut, di hotel Luwansa Manado, Selasa (16/09/2025).
Laporan kinerja Dana Pihak Ketiga (DPK) di wilayah Sulutgomalut juga menunjukkan tren positif, untuk Sulut Rp34,30 triliun atau (4,92) persen, Gorontalo Rp6,79 triliun atau 0,61 persen dan Malut Rp15,36 triliun atau tumbuh 12,07 persen.
“Realisasi DPK sebagai daya tahan permodalan menunjukkan kinerja positif, yang mencerminkan adanya kepercayaan masyarakat terhadap sektor perbankan, di mana masyarakat lebih aktif dalam menabung dan berinvestasi,” ucapnya.
Menariknya, untuk indikator Loan to Deposit Ratio (LDR) realisasi di Sulut cukup positif di posisi 157,96 persen, kemudian Gorontalo sebesar 260,30 persen dan Malut 106, 21 persen.
“Indikator ini menunjukkan bahwa likuiditas perbankan di Sulut tetap sehat, bahkan mampu memenuhi permintaan kredit. Dengan demikian pertumbuhan aset dan DPK yang stabil, maka sektor perbankan di semakin siap mendorong pembiayaan, baik sektor riil maupun pembangunan daerah,” ungkap Sianipar.
Berkaitan dengan indikator Non-Performing Loan (NPL), yakni rasio yang mengukur seberapa besar jumlah kredit bermasalah, dilaporkan untuk Sulut ada di level 2,55 persen, Gorontalo 3,74 persen dan Malut 2,84 persen.
Tak kalah pentingnya, untuk realisasi kredit di semester II tahun 2025, di wilayah Sulut telah tersalurkan sebesar 4,64 persen atau Rp54,16 triliun, Gorontalo sebesar 1,13 persen atau Rp17,68 triliun dan Malut 5,96 persen atau Rp10,32 triliun.(hilda)













