Manado, Sulutreview.com – Kinerja industri jasa keuangan di wilayah Sulawesi Utara Gorontalo dan Maluku Utara (Sulutgomalut) terbilang masih stabil dan tangguh di tengah situasi perekonomian global yang diliputi ketidakpastian.
Pengawas Senior Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulutgomalut, Graha Anggar mengatakan kinerja sektor jasa keuangan (SJK) di Sulutgomalut masih solid.
“Beberapa indikator menunjukkan pertumbuhan positif, kendati jika dibandingkan tahun sebelumnya memang agak melambat. Tetapi secara keseluruhan itu, tumbuh dan terjaga,” ungkapnya pada Media Update Kinerja SJK yang dilaksanakan di hotel Roger’s Manado, pada Selasa (27/05/2025).
Lanjutnya, pertumbuhan perbankan Sulut sesuai data yang tercatat per Maret 2025, untuk aset tumbuh sebesar 3,07 persen year on year (yoy) dengan nilai Rp100,24 triliun. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 1,14 persen dengan nilai Rp32,49 triliun dan kredit tumbuh 5,70 persen dengan nilai Rp53,84 triliun. Untuk Loan Deposit Ratio (LDR) mencapai 165,72 persen dan Non Performance Loan (NPL) sebesar 2,38 persen.
Untuk Gorontalo, aset tumbuh 3,13 persen dengan nilai Rp19,284 triliun, DPK minus 1,85 persen dengan nilai Rp6,57 triliun. Demikian juga kredit ada di posisi minus 0,65 persen atau sebesar 17,6 triliun. LDR sebesar 267,97 persen dan NPL 3,55 persen.
Selanjutnya Malut, untuk Aset tumbuh 9,44 persen yoy dengan nilai Rp23,274 triliun, DPK 3,05 persen dengan nilai Rp13, 561 triliun, dan kredit tumbuh 6,97 persen atau sebesar Rp16,302 triliun. Untuk LDR sebesar 120,21 persen dan NPL 2,58 persen.
“Perbankan tumbuh positif, baik aset, DPK dan kredit. Di mana untuk kredit didominasi multiguna dan konsumtif, dengan prosentase jenis penggunaan didominasi konsumsi, modal kerja dan investasi,” jelas
Anggar.
Di Provinsi Gorontalo, pada Bank Umum, sebut Anggar, untuk sektor ekonomi Peralatan Rumah Tangga/Kredit Multiguna, dan Sektor Jasa Kemasyarakatan mengalami peningkatan NPL terbesar dengan peningkatan masing-masing sebesar Rp1,20 miliar (1,17% mtm), dan Rp1,12 miliar (4,81% mtm). Pada BPR, peningkatan nominal NPL terjadi pada sektor Perdagangan Besar dan Eceran sebesar 35,80 juta (15,47% mtm).
Selanjutnya di Malut, pada Bank Umum, sektor ekonomi Peralatan Rumah Tangga/Pinjaman Multiguna, mengalami peningkatan nominal NPL tertinggi yaitu sebesar Rp19,77 miliar (3,15% mtm). Pada BPR, peningkatan terbesar terdapat pada sektor jasa kemasyarakatan dengan peningkatan NPLsebesar Rp108,62 juta (9,76% mtm).
Menyikapi keadaan yang penuh tantangan tersebut, perbankan pun melakukan terobosan dengan meningkatkan kinerja. Salah satunya dengan menambah DPK. Hal ini yang ditempuh pihak Bank Sulutgo (BSG).
“Kami terus menghimpun DPK dari luar, selanjutnya meningkatkan kredit. Bahkan BSG juga menggenjot kinerja melalui kantor cabang yang ada di luar daerah, seperti Jakarta, Surabaya dan Malang,” sebut Dirut BSG Revino Pepah.(hilda)













