Tondano, Sulutreview.com – Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) memberikan perhatian serius pada pembangunan gereja-gereja lokal yang ada.
Tanpa memandang denominasi gereja, karena Pemprov Sulut siap mengucurkan Dana sebesar Rp 1 miliar untuk kemajuan pembangunan Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI).
Dikatakan Wakil Gubernur Sulut Steven OE Kandouw, saat ini, terdapat 7 ribuan tempat ibadah yang ada di Sulut, yang di dalamnya terdapat 4 ribuan gereja.
“Pak Gubernur Olly Dondokambey tahu persis peran gereja, makanya diberikan Rp1 miliar bantuan untuk GPdI, ini belum masing-masing gereja,” ungkap Kandouw saat menghadiri ibadah di Jemaat GPdI Victory Tonsewer Tompaso, Minggu (14/1/2024).
Lanjut kata wagub, kontribusi yang diberikan gereja bagi kelangsungan pemerintahan sangat besar. Itu menjadi bukti bahwa gereja menjalankan peran politiknya.
“Gereja mendukung pemerintah dengan bayar pajak hingga pencatatan sipil, itu adalah bagian dari berpolitik. Sesungguhnya, politik adalah hal yang baik bukan kotor apalagi menjijikan. Jadi seiring sejalan gereja dan politik,” ujarnya sembari mencontohkan kiprah penginjil Pdt Billy Graham, yang kemudian mengabdikan diri sebagai seorang penasihat presiden Amerika, mulai dari tahun 40-an sampai Presiden George W Bush. “Jadi selama 50 tahun Billy Graham menjadi penasihat presiden,” tukasnya.
Ia juga mengajak jemaat yang hadir, untuk senantiasa mengucap syukur kepada Tuhan.
“Kita semua harus bersyukur dengan berkat waktu dan tenaga yang diberikan Tuhan. Sebab tanpa berkat Tuhan, semua tidak ada artinya,” ujarnya.
Kandouw menyampaikan gereja harus mampu mengingatkan jemaat untuk bekerja keras, hidup hemat dan memiliki literasi untuk mampu mengatur keuangan.
“Gereja harus jadi sumber damai sejahtera dan sumber berkat, saya ingatkan untuk menjaga gereja, supaya jadi sumber sukacita berkat dan literasi. Gereja sekarang cara berpikirnya harus luas, berperan aktif, mampu mengingatkan anak-anak untuk sekolah, mengingatkan jemaat untuk kerja-kerja dan kerja, ingatkan untuk hemat, tahu mengatur keuangan dan literasi keuangan,” jelasnya.
Gereja juga, sebutnya, wajib mengingatkan Jemaat untuk berorientasi tinggal sendiri, khususnya bagi keluarga muda. Mengingat kultur di Minahasa, masyarakatnya lupa bikin rumah sendiri.
Gereja, tukasnya, juga harus mampu mengingatkan keluarga muda untuk meningkatkan jumlah generasi. Karena berdasarkan pertambahan penduduk di Minahasa, lebih banyak yang meninggal dari yang lahir.
“Dengan kondisi seperti sekarang ini, 100 tahun ke depan bisa lenyap. Ini perlu disikapi dengan baik,” pungkasnya.(eda).













