Gorontalo, Sulutreview.com – Masyarakat Sulawesi Utara (Sulut), sepanjang 2023 ini, ternyata lebih suka kredit atau pinjam uang ketimbang menabung.
Fakta ini, tentu saja mengkhawatirkan. Karena mengindikasikan bahwa literasi keuangan belum sampai menyasar sampai di masyarakat.
Catatan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulutgomalut menyebutkan, tren pertumbuhan kredit perbankan Sulawesi Utara (Sulut), hingga Oktober 2023, mencapai Rp50.29 triliun, atau mengalami kenaikan 11.03 persen jika dibandingkan dengan Desember 2022 yang naik 6.54 persen.
Sedangkan untuk BPR tercatat 2.89 persen atau sebesar Rp1.59 triliun.
Analis Senior Deputi Direktur Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, Pelindungan Konsumen, dan Layanan Manajemen Strategis, OJK Sulutgomalut, Rizky Betadi Putra mengatakan, Dana Pihak Ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun oleh perbankan di Sulut, sebesar Rp31.72 triliun, atau turun 3.08 persen dibandingkan dengan Desember 2022 dengan catatan angka 1.03 persen.
“Berdasarkan data tersebut, menunjukkan bahwa pertumbuhan kredit lebih tinggi dibandingkan dengan DPK,” ujarnya saat menyampaikan materi pada Media Gathering bersama jurnalis di Hotel Aston Gorontalo, pada Selasa (28/12/2023).
Kredit jenis penggunaan, sebut Rizky terbagi dalam tiga kategori, yakni modal kerja 28 persen, investasi 15 persen dan konsumsi 57 persen.
“Share terhadap total kredit adalah 27.88 persen atau sebesar Rp13.85 triliun. Untuk non UMKM sebesar 72.12 persen atau sebesar Rp36.43 triliun,” ujarnya.
Selanjutnya, kredit pwr sektoral di Provinsi Sulut, didominasi oleh rumah tangga sebesar 24.82 persen, bukan lapangan usaha 20.22 persen, perdagangan 16.57 persen, pemilikan rumah 10.94 persen dan pertambangan 9.72 persen.
Menyikapi fakta tersebut, Rizky menyampaikan perlunya dilakukan literals I keuangan. Khususnya kepada generasi muda agar gemar menabung.
“OJK terus mendorong agar masyarakat yang masih belum tersentuh literasi keuangan terus diedukasi,” katanya.
Pemimpin Cabang BSG di Gorontalo, Syahron Botutihe, yang juga turut hadir sepakat dengan Rizky, terkait pentingnya sosialisasi literasi keuangan kepada masyarakat.
“Menabung itu sangat penting, karena masyarakat akan lebih bijak dalam mengatur keuangan.Namun untuk mencapainya diperlukan literasi keuangan,” ujarnya sembari mengajak untuk menabung di BSG.
“BSG adalah bank milik rakyat yang memberikan kontribusi kepada daerah. Dalam bentuk deviden dan pendapatan asli daerah untuk pembangunan. Jadi mari tingkatkan menabung,” imbaunya.(hilda)













