Manado, Sulutreview.com – Virgin Coconut Oil (VCO) yang merupakan produk turunan kelapa dalam asal Sulawesi Utara (Sulut), terbukti memiliki keunggulan yang berkhasiat melumpuhkan virus hingga menjaga daya tahan tubuh manusia.
Akademisi Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Lucia C Mandey dan Dantje Tarore, sangat getol melakukan penelitian dan meningkatkan kualitas VCO, hingga dipercaya di tingkat nasional dan internasional.
Menurut Mandey, keunggulan yang menonjol pada produk VCO, atau lebih dikenal dengan minyak kelapa murni, mengandung 45,1- 53,2 % lauric acid atau asam laurat dengan 12 rantai karbon atau Medium Chain Fatty Acid (MCFA), adalah suatu kerahasiaan alam yang terkandung dalam buah kelapa yang sangat bermanfaat bagi kesehatan manusia.
Buah kelapa yang digunakan, menurut Mandey adalah dari pertanaman kelapa dengan produk alami dan produk organik.
Selanjutnya, kandungan asam laurat yang ada pada VCO, sama dengan yang ditemukan pada Air Susu Ibu (ASI). Senyawaan ini akan berubah menjadi dua monolourin dalam perut yang merupakan zat anti agen bakteri dan virus (antiviraland antibacterial agent) serta anti protozoa.
Dengan demikian zat ini dapat menanggulangi penyakit-penyakit bakteri patogen seperti bakteri Listeriamonocytogeus, dan Helicobacter pyloryd, serangan Virus (HIV, Herpes Sumplex Virus-1, HSV dan Vesicular Somatitis Virus (VSV), Visna Virus Cytomegalo, Virus (CNV) serangan protozoa (Gladia lamblia).
Kandungan monoglycerides (Caproic, Caprylic, Capric, Lauric and Myristic acid) di samping mematikan virus, juga berguna untuk mengontrol berat badan (obesitas),
penyakit jantung dan osteoporosis atau keadaan yang diakibatkan rendahnya tingkat metabolisme tubuh manusia.
“Dibutuhkan insulin, agar glukosa dapat masuk ke dalam sel dan bila umur manusia sudah lanjut, maka biasanya produksi insulin sudah sangat terbatas,” ujarnya.
Medium Chain Fatty Acid (MCFA) dari VCO, mempunyai sifat yang unik, karena tidak membutuhkan enzim untuk menembus dinding mitokondria dalam menghasilkan energi dengan cepat dan efisien.
“Dengan mengonsumsi VCO menyebabkan tubuh manusia mempunyai energi besar dalam membentuk dan membangun sel-sel baru dan badan mempunyai daya tahan lebih kuat dan lama,” ungkapnya.
VCO ternyata dapat berfungsi untuk peningkatan gizi masyarakat, sehingga
permintaan akan produk ini berkembang sangat cepat, seperti India, Filipina dan
Pasifik Selatan.
Perubahan produk-produk kelapa konvensional ke produk yang mempunyai kecenderungan diminati masyarakat internasional yakni produk Virgin Coconut Oil (VCO) dan Virgin Coconut Coking Oil (VCCO) yang merupakan suatu bisnis yang menarik serta menguntungkan pada masa sekarang ini dan yang akan datang. Hal ini disebabkan produk ini mempunyai manfaat yang besar untuk kesehatan.
Produk Difusi Kementerian Ristek BRIN RI
Mandey yang merupakan dosen pada Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi Manado ini, menjelaskan, dari hasil penelitian sebelumnya, yang dilakukan pada 2020, melalui Riset Konsorsium Covid-19 oleh Kemenristek BRIN RI.
Produk VCO ini terpilih masuk produk inovasi Indonesia untuk menjadi produk Difusi Kementerian Ristek BRIN RI dan telah diberikan kepada pasien Covid-19 di sejumlah Rumah Sakit (RS) di Indonesia yang menangani pasien Covid-19. Yakni, RS Kepresidenan RSPAD Gatot Soebroto Jakarta, RS Covid-19 Wisma Atlet, RS Covid-19 Pulau Galang Batam juga RS di Bandung, Bogor, Yogjakarta, Bali, dan lainnya.
Melihat potensi dan peluang pengembangan produk VCO di Wilayah Provinsi Sulut sangat besar, yakni dengan adanya potensi sumberdaya alam yang tersedia, karena kelapa di wilayah ini, masih banyak.
Perlu adanya upaya pengembangan melalui usaha pembangunan perkelapaan melalui suatu bisnis home industri VCO secara terintegrasi, sekaligus memanfaatkan bagian-bagian kelapa lainnya seperti air kelapa, ampas kelapa, skim kelapa, blondo, tempurung kelapa, sabut kelapa, untuk dijadikan berbagai produk olahan teknologi kelapa pada umumnya.
“Prospek agribisnis VCO di Indonesia sangat baik, khususnya pengembangan di daerah perkelapaan di pedesaan dan kebutuhan VCO beberapa tahun terakhir ini terjadi peningkatan yang pesat,” tutur Mandey.
Potensi Kelapa di Sulut
Provinsi Sulut dengan wilayahnya sebagian besar daerah pegunungan, dengan gunung berapi (volcanoes area) ternyata iklimnya sangat cocok dengan crop ecology dan agro ekosistim kelapa yang hamparannya membentuk coconut belt melingkari semenanjung pulau Sulawesi dengan luas pertanaman kelapa 262.980 Ha, yang tersebar di Kabupaten Minahasa, Minahasa Utara , Minahasa Selatan dengan luasan lebih dari 141,724 Ha; Bolmong 56.780 Ha, Sangihe Talaud 46.054 Ha, Kota Manado 5.362 Ha dan Bitung 13.209 Ha.
Pemerintah Provinsi Sulut, dengan kebijakannya untuk meningkatka taraf hidup masyarakat, telah melaksanakan Program Mari Jo Bakobong salah satunya adalah komoditi kelapa berupa Minayk Kelapa Murni VCO.
Penetapan kebijakan tersebut, mempunyai dasar yang kuat dengan adanya potensi dan kemampuan serta dukungan dari masyarakat baik petani, pengusaha tani dan pengusaha agribisnis kelapa sehingga perlu diwujudkan dalam berbagai program pembangunan kelapa terpadu dan berkelanjutan.
Secara konvensional dan membudaya, VCO telah dibuat oleh petani kelapa sejak dari
dahulu dengan nama Lana Umpopo Limeno yang diambil dari bahasa Toulour atau minyak kelapa jernih, yang digunakan sebagai minyak makan dan ramuan obat tradisional.
Begitu juga minyak kelapa klentit yang diolah secara konvensional oleh masyarakat di Kabupaten Minahasa Utara (Tonsea) sejak dahulu kala.
Dengan adanya potensi sumberdaya yang perlu digali, dikembangkan dan dimanfaatkan, sehingga dapat mengangkat kembali citra perkelapaan di Sulut yang dikenal sebagai daerah Nyiur Melambai.(hilda)













