Manado, Sulutreview.com – Jelang hari raya Idul Adha, harga komoditas bawang merah, cabai atau rica dan tomat (barito) terpantau mengalami kenaikan.
Namun, tren harga barito pada minggu pertama Juli mulai turun.
“Pada minggu pertama Juli 2022, cabai rawit tercatat turun dari Rp82.150 pada minggu ke-4 Juni 2022 menjadi Rp71.350. Sama halnya dengan bawang merah yang tercatat turun dari Rp 73.150 di minggu ke-4 menjadi Rp71.750 di minggu ke-1 Juli 2022,” kata Deputi Kepala Perwakilan Divisi Perumusan dan Implementasi Kekda Bank Indonesia Sulut, Fernando Butarbutar kepada wartawan Rabu (6/7/2022).
Lebih khusus di Kota Manado, rata-rata harian komoditas barito juga telah menunjukkan tren penurunan. Sebagai salah satu kesepakatan pertemuan TPID pada tanggal 29 Juni 2022 dan persiapan menjelang HBKN Idul Adha, tepatnya pada tanggal 6 Juli 2022 TPID Sulut turun ke pasar utama di Kota Manado untuk memantau kondisi dan kendala di lapangan secara langsung.
“Hal ini dilakukan sebagai pertimbangan apabila diperlukan respons lebih lanjut dari TPID untuk melakukan intervensi distribusi dan pasokan dari luar daerah,” ujar Fernando.
Sinergi dan koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) baik pada tingkat Provinsi Sulawesi Utara ataupun kabupaten/kota, intens dilakukan.
“TPID Provinsi Sulut dalam menanggapi pergerakan harga barito telah menyelenggarakan rapat koordinasi pada tanggal 29 Juni 2022. Berdasarkan informasi dari Dinas Pertanian, pasokan Barito terutama tomat lokal Sulut diperkirakan baik hingga akhir tahun. Namun karena harga jual di wilayah sekitar Sulut cenderung lebih tinggi, daerah pemasok memilh untuk mengirimkan pasokannya ke luar Sulut,” jelasnya.
Dari hasil rapat koordinasi pada tanggal 29 Juni 2022 tersebut, TPID Sulut menindaklanjuti dengan pemantauan pasar secara langsung pada tanggal 6 Juli 2022. Selain itu, telah disepakati beberapa penguatan akan dilakukan oleh TPID Sulut antara lain melalui pemantauan volume perdagangan barito ke luar Sulut berkoordinasi dengan Balai Karantina, pemetaan potensi pertanian di Sulut, pemetaan rantai pasok barito, pemetaan harga di tingkat petani hingga pedagang eceran, penguatan Satgas Pangan untuk mengantisipasi adanya ketidakwajaran baik pada pasokan, harga, ataupun distribusi.
Peningkatan tekanan inflasi secara umum masih akan terjadi pada bulan Juli 2022.
Namun demikian, inflasi Juli 2022 diperkirakan akan lebih rendah karena adanya normalisasi terutama pada komponen Volatile Food dari komoditas Barito. Meski demikian, kelompok inflasi inti dan Administered Price diperkirakan masih membenkan tekanan inflasi dari kebijakan peningkatan tarif dasar listrik bagi pelanggan rumah tangga mampu non subsidi golongan 3.500 Volt Ampere (VA) ke atas per 1 Juli 2022, pencabutan subsidi pupuk ZA, SP36, dan Organik per 1 Juli 2022, serta potensi pembatasan pembelian BBM jenis Pertalite.
Melalui perkembangan harga dan tingkat inflasi terkini, Bank indonesia memperkirakan tekanan inflasi Sulut cenderung meningkat meski masih akan terjaga pada rentang sasaran inflasi 321% (yoy).(srv)













