Palu, Sulutreview.com – Site PLTA Poso yang dikelola oleh PT Poso Energy mampu menyangga kebutuhan listrik sebesar 315 MW.
Sesuai rencana pada bulan Desember 2021 mendatang, PLTA Extention Stage-2 akan siap beroperasi sebesar 200 MW.
PT Poso Energy mengungkapkan master plan-nya dalam pembangunan infrastruktur tahun 2025 hingga 2026 di daerah Poso adalah sebesar 430 MW yang jika digabungkan dengan seluruh rencana operasi pembangunan di sejumlah wilayah di Indonesia akan berjumlah sebesar 2.085 MW yang keseluruhannya adalah pembangkit EBT.
Wiluyo Kusdwiharto dalam kesempatan yang sama menyampaikan bahwa saat ini PLN sudah memiliki roadmap yang jelas sebagai bagian program transisi energi thermal menuju EBT.
“Jadi kita lakukan secara bertahap, Insya Allah di tahun 2025 ada satu pembangkit thermal kami yang kami replace menjadi pembangkit EBT terutama PLTA, PLTP, kemudian Bayu dan Photovoltaics. Kemudian 2028 sampai 2035, Insya Allah akan kita kembangkan PLTS Base Load”, ujarnya.
Wiluyo menambahkan, untuk program co-firing, yakni PLTU akan dikombinasikan dengan pelet yang berasal dari cangkang sawit. Ini adalah program mengganti sebagaian batu bara sehingga ketergantungan terhadap batu bara bisa berkurang.
“Ini menjadi program pemberdayaan masyarakat, karena kayu-kayu daripada dibuang bisa dibikin pelet dan disuplai kepada kami dan menggantikan sebagian batu bara,” tukasnya.
Dadan Kusdiana selaku Dirjen EBTKE membenarkan pernyataan Wiluyo terkait dengan program peningkatan bauran EBT di Indonesia, yang jika disimpulkan mengerucut pada tiga program yaitu Substitusi, Konversi, dan Penambahan. Di mana pada program Substitusi sumber bahan bakar pembangkit dicampurkan dengan bahan EBT tanpa perlu berinvestasi pada mesin pembangkit yang baru dan pada program Konversi adalah mengganti mesin-mesin pembangkit berbahan bakar fosil menjadi EBT. Program yang ketiga adalah penambahan pembangkit dengan bauran EBT.
“Jika melihat Sulawesi Tengah, semuanya ada, kalau angin memang belum diukur, tapi kalau panas bumi sudah ada, kalau tidak salah 155 MW potensinya, hydro di angka 3.400 MW”, tutup Dadan.
Menutup pertemuan di hari pertama, Sugeng Suparwoto selaku Ketua Komisi VII menyampaikan Energi Baru Terbarukan harus menjadi tiang penyangga energi di Indonesia. Penyediaan energi tidak hanya harus andal tapi juga harus bersih.
Sugeng menjelaskan, “Kita akan mengurangi karbon sejumlah 29% sampai tahun 2030 ekuivalen di energi kurang lebih 340 juta ton. Maka, energi-energi yang berbasis fosil yang itu menyumbang besar terhadap karbon mulai terus secara bertahap akan kita kurangi dan kita kedepankan energi baru terbarukan seperti PLTA ini.”
Pilar Green dalam Transformasi PLN juga terintegrasi dengan pilar Customer Focused, di mana PLN berusaha memberikan layanan terbaik dan berkualitas dengan pengalaman menggunakan listrik yang tidak hanya bersih tapi juga mudah untuk diakses. Hal ini dimungkinkan dengan aplikasi PLN Mobile yang bisa diunduh gratis dari Play Store dan App Store.(srv)













