Angka Kemiskinan Penduduk di Sulut 2021 Turun 0,01 Persen, Ini Indikatornya

Rilis profil kemiskinan di Sulut disampaikan melalui zoom meeting
IMG-20210818-WA0009

Manado, Sulutreview.com – Persentase penduduk miskin di Sulawesi Utara (Sulut), pada Maret 2021, mencapai 7,77 persen dengan jumlah 196,35 ribu orang atau turun sebesar 0,01 persen poin dibanding September 2020 yang sebesar 7,78 persen atau 195,85 ribu orang.

Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut dalam rilisnya menyebutkan jumlah penduduk miskin pada Maret 2021 sebesar 196,35 ribu orang, bertambah 0,5 ribu orang dibanding September 2020 dan bertambah 3,98 ribu orang dibanding Maret 2020.

Bacaan Lainnya

“Persoalan kemiskinan bukan hanya sekedar jumlah dan persentase penduduk miskin. Dimensi lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan,” ungkap Kepala BPS Provinsi Sulut Asim Saputra melalui live streaming Youtube dan juga Zoom Meeting, Kamis (15/07/2021).

Berdasarkan perkembangan tingkat kemiskinan tahun 2014-2021, secara umum angka kemiskinan di Sulut cenderung fluktuatif dengan tren yang menurun sejak tahun 2016.

“Jumlah penduduk miskin di Sulut pada Maret 2021 sebanyak 196,35 ribu orang. Terjadi kenaikan jumlah penduduk miskin sebanyak 500 orang dibandingkan dengan September 2020. Sementara jika dibandingkan dengan Maret tahun sebelumnya, jumlah penduduk miskin naik sebanyak 3,98 ribu orang,” jelas Asim.

Dilihat dari daerah tempat tinggal, pada periode September 2020-Maret 2021, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan naik 1,51 ribu orang sedangkan di daerah perdesaan turun 1,02 ribu orang.

Persentase kemiskinan di perkotaan naik dari 5,31 persen menjadi 5,36 persen. Sementara itu, di perdesaan turun dari 10,64 persen menjadi 10,61 persen.

Selama periode Maret 2014-Maret 2021, persentase penduduk miskin Sulut selalu berada di bawah angka kemiskinan nasional, yaitu berada di kisaran 7,51 – 8,98.

Dimensi kemiskinan lainnya yang perlu diperhatikan, sambung Asim adalah indeks kedalaman dan indeks keparahan dari kemiskinan.

Indeks kedalaman kemiskinan menggambarkan ketimpangan rata-rata pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Indeks keparahan kemiskinan mengindikasikan ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin.

Asim merinci sejumlah indikator yang menjadi pendorong turunnya angka kemiskinan di Sulut.

Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kemiskinan selama periode September 2020-Maret 2021 antara lain :

– Nilai Tukar Petani (NTP) pada Maret 2021 mengalami peningkatan 4,63 poin dibanding September 2020, yaitu dari 97,64 pada September 2020 menjadi 102,27 pada Maret 2021. Hal ini mengindikasikan terjadinya perbaikan kesejahteraan petani.

– Indeks upah buruh pertanian mengalami kenaikan sebesar 1,92 persen, yaitu dari 106,15 pada September 2020 menjadi 108,19 pada Maret 2021.

– Ekonomi Sulawesi Utara triwulan I-2021 terhadap triwulan I-2020 tumbuh sebesar 1,87 persen.

– Selama periode September 2020 – Maret 2020, besarnya inflasi umum tercatat cukup rendah yaitu sebesar 1,53 persen.

– Pada Februari 2021, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun sebesar 0,09 persen poin yaitu dari 7,37 persen pada Agustus 2020 menjadi 7,28 persen pada Februari 2021.

– Pada Februari 2021, penduduk usia kerja yang terdampak Covid-19 berkurang sebanyak 143.426 orang atau 49,86 persen dibandingkan dengan Agustus 2020.

Menariknya, Asim menyebut untuk mengukur ketimpangan pengeluaran penduduk, BPS menggunakan indikator Gini Ratio dan Distribusi Pengeluaran menurut World Bank.

“Berdasarkan angka Gini Ratio, tingkat ketimpangan Sulut, baik di wilayah perkotaan maupun di wilayah perdesaan termasuk dalam kategori ketimpangan sedang.(srv)

banner 300x250