Jejak Pelayanan GBI Menorah Manado, 17 Tahun dalam Pertolongan Tuhan

Sukacita iman mewarnai HUT GBI Menorah Manado ke-17 tahun

Manado, Sulutreview.com – Jejak langkah perjalanan pelayanan Gereja Bethel Indonesia (GBI) Menorah Manado sehingga dapat memasuki usia 17 tahun, merupakan berkat pertolongan dan perkenanan Tuhan.

Hal itulah yang menjadi landasan sukacita iman, bagi keluarga besar GBI Menorah Manado untuk menaikkan sukacita dan ucapan syukur kepada Yesus Kristus Sang Kepala Gereja, melalui perayaan sederhana yang digelar Minggu (7/3/2021).

Wali Kota Manado Dr GS Vicky Lumentut DEA turut hadir dalam sukacita iman, berbaur beribadah bersama jemaat.

Kehadiran orang nomor satu di Manado ini, untuk menyampaikan ucapan selamat atas penyertaan Tuhan sehingga GBI Menorah Manado dapat membilang di usia 17 tahun.

Menurut Lumentut yang mengetahui persis perjalanan GBI Menorah sejak peletakkan batu pertama mengatakan, kehadiran dan pelayanan gereja yang terletak di Kawasan Megamas ini, telah menjadi berkat bagi Kota Manado.

Wali Kota Manado GS Vicky Lumentut bersama Gembala dan pengerja

“GBI Menorah Manado hadir untuk kepentingan pekerjaan Tuhan. Bahkan telah menjadi berkat untuk Kota Manado. Gedung dengan daya tariknya, turut melengkapi Manado sebagai Kota Doa,” ujar Lumentut.

Lebih dari itu, Lumentut menjelaskan jejak berkat yang dibawa GBI Menorah Manado akan terus dilanjutkan. “Gereja ini sudah turut memberkati Kota Manado. Ke depan kiranya akan terus bertumbuh,” sebutnya.

Ia juga menambahkan agar kualitas jemaat, terutama iman dan sikap hati akan semakin memancarkan kasih Kristus. “Representasi GBI Menorah telah meninggalkan jejak bagi kota ini. Puji Tuhan Kota Manado menjadi kota toleran dan Kota Doa. Kiranya kita tetap kawal kota ini. Karena idenya dari GBI Menorah,” sebutnya kembali.

Lumentut juga mengapresiasi peran Gembala Sidang GBI Menorah Manado, Pdt Honny Supit Sirapanji MTh, sehingga gereja yang dipimpinnya menjadi berkat dan merukunkan kota. Bahkan andil Pdt Honny dalam menjaga kerukunan.

“Tidak lama lagi, Manado akan ada bangunan taman budaya yang menghadirkan rumah adat dari berbagai suku dan etnis. Beragam suku dan agama. Hal ini akan diawali dengan rumah adat Tongkonan di Mapanget yang diprakarsai keluarga Toraja di lahan 6 hektar. Taman ini akan menjadi etalase rukunnya Manado,” imbuhnya.

Sebelumnya, Pdt Honny dalam penyampaian firman Tuhan dengan tema ‘Remembering’ mengajak jemaat untuk mengingat dan merenungkan kembali akan kasih dan pertolongan Tuhan Yesus.

“Mari kita mengingat kembali akan kasih dan pertolongan Tuhan. Di usia gereja yang terus bertambah ini, namun banyak hal yang belum kita lakukan sebagaimana visi gereja, yakni prepare the church to be like Jesus,” ungkap Pdt Honny sembari menambahkan bahwa tema gereja dari tahun ke tahun tetap sama, yaitu ‘Yesus Maha Besar’. “Karena Dialah yang memberi kemampuan dan kekuatan. Yesus Maha Besar yang akan menolong,” tandasnya.

Dalam uraian kotbahnya, Pdt Honny menyampaikan tentang bagaimana sikap umat Kristen dalam menghadapi hidup ini.

Gembala Sidang GBI Menorah Manado Pdt Honny Supit Sirapanji MTh

Poin pentingnya adalah, meninggalkan jejak yang baik, jejak keselamatan bagi orang lain dan jejak korban persembahan.

Pdt Honny mengisahkan tentang seorang perwira di Kapernaum yang berperan dalam pembangunan rumah ibadah (Lukas 7: 1-5). Di mana Tuhan Yesus menyembuhkan hamba yang sangat dihargainya. Berikut kisah perempuan yang mengurapi Tuhan dengan minyak narwastu (Lukas 19: 1-10).(hilda)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *