Manado, Sulutreview.com – Posisi Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) sebagai Pacific Gateway of Indonesia, khususnya di era revolusi industri 4.0 (four point zero) saat ini, memiliki daya saing bahkan daya juang di semua aspek bidang.
“Sulawesi Utara di era revolusi industri empat titik nol saat ini telah membuktikan kemampuan daya saing dan daya juang pada hampir semua aspek sehingga kita terus bergerak cepat mencapai target pembangunan sekaligus mencetak prestasi,” kata Gubernur Olly Dondokambey dan Wakil Gubernur Steven Kandouw.
Menurutnya, eksistensi dan capaian Provinsi Sulut dari perjalanan waktu, sejatinya tidak terlepas dari perjuangan dan kerja keras para leluhur, pejuang terdahulu yang telah merancang dan meletakkan dasar-dasar pembangunan.
“Dr Sam Ratulangi sebagai tokoh multidimensional. Tahun 1937, mengarang buku Indonesia di Pasifik dan menuliskan konsep dasar Sulawesi Utara sebagai Pintu Gerbang Indonesia di Pasifik. Jadi, ide tentang geoposisi dan geostrategi sudah dibahas sejak 82 tahun lalu, bersama dengan falsafah Sitou Timou Tumou Tou,” kata Olly.
Lanjut Olly, posisi Sulut di bibir pasifik memberikan akses yang luar biasa sehingga keunggulan komparatif dan kompetitif sudah berada di Sulut.

“Sukses pembangunan Sulut Hebat juga ditopang oleh pendekatan dan strategi kebijakan yang mampu mendorong pengembangan ekonomi wilayah, mengangkat kesejahteraan rakyat serta didukung oleh kebutuhan, perkembangan dan kondisi eksternal negara mitra di kawasan pasifik,” tukasnya.
Keberhasilan yang dicapai sejauh ini, tidak terlepas dari sinergitas yang solid bersama pemerintah pusat dengan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, yang sangat menaruh perhatian pada Sulawesi Utara, bahkan menetapkan Sulut sebagai lokasi Super Prioritas pembangunan pariwisata serta sudah merancang begitu banyak proyek-proyek strategis dalam Rancangan Teknokratik RPJMN 2020-2024
“Dari kaca mata pemerintah pusat, Sulawesi Utara laksana permata merah delima dari timur bercahaya di ujung utara peninsula pulau Sulawesi dengan prestasi dan capaian yang sangat signifikan,” kata Olly.
Kapasitas Sulut yang semakin terbuka, juga memberi ruang untuk investasi. Sebut saja, Indonesia-Japan Business Network (IJB-NET) DPD yang diketua Ir Dedie Tooy, PHd, MSc menyatakan siap untuk ‘menjual’ potensi Sulut.
Duta Besar Republik Indonesia (designated) untuk Jepang yang baru, Heri Akhmadi, menegaskan, Indonesia Japan Business Network (IJB-Net) didukung pengurus aktif di Tanah Air dan juga pengurus yang berdomisili dan mempunyai usaha di Jepang, menyatakan untuk bekerja sama.
“IJB-Net akan siap membantu mewujudkan program-program kolaborasi di segala level, G-to-G, B-to-B, akademik dan lainnya. Adapun IJB-Net saat ini akan mengambil peranan dalam membantu promosi produk-produk unggulan dan pengembangan sumber daya alam Indonesia menjadi produk-produk yang diperlukan di pasar global, terutama terkait makanan-minuman dan energi terbarukan,” kata Ketua Umum dan Inisiator IJB-Net, Suyoto Rais.
Di samping itu juga membantu masuknya investasi Jepang ke Indonesia, mempromosikan teknologi baru dari Jepang, dan membuka jalan bagi perusahaan Jepang yang mencari mitra bisnis di Indonesia,” ujar Suyoto Rais.

Sementara Kepala IJB Net perwakilan Sulut Ir Dedie Tooy, MSc, PHd menyatakan Pemprov Sulut sangat gigih dan terbuka untuk Investasi Jepang di Sulut.Termasuk kerjasama lainnya dengan Jepang. Terkait SDA, SDM, pariwisata dan budaya dan Adopsi teknologi dan inovasi.
“IJB Net Sulut memberikan apresiasi tinggi Kepada Gubernur Sulut Olly Dondokambey dan jajarannya yang sangat terbuka dan sinergis dengan melibatkan IJB Net Sulut mulai dari perencanaan sampai koordinasi pelaksanaannya,” jelasnya.
Diketahui, IJB Net ini hadir untuk mewujudkan program-program kolaborasi di segala level, G-to-G, B-to-B, akademik dan lainnya.
Sementara itu, untuk menjamin kelancaran proses seluruh perizinan investasi, Pemprov Sulut siap untuk memberikan kemudahan.
“Kita memastikan setiap investasi di Sulawesi Utara yang diproses melalui perizinan bisa berjalan lancar,” kata Sekdaprov Sulut Edwin Silangen dalam rapat tindak lanjut Rakornas Investasi yang digelar di Kantor Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP), belum lama ini.
Investasi di Sulut, sambungnya terus mengalami peningkatan.
Pada 2019 lalu, investasi yang masuk di Bumi Nyiur Melambai mencapai Rp 11,5 triliun. Capaian realisasi investasi tersebut, mengalami kenaikan sebesar 308 persen dari target RPJMD sebesar Rp 3,7 triliun.
Selain itu, realisasi perizinan pada tahun 2019 mencapai 1581 izin sehingga melampaui target out put perizinan dan non perizinan dalam renstra DPMPTSP sebanyak 1400 izin.
“Di tahun 2020 ini, terkait perizinan investasi, pemerintah akan terus menjemput bola untuk menggairahkan perekonomian Sulut,” tandas Silangen.
Diketahui, bukan hanya target RPJMD yang mengalami peningkatan, namun juga target BKPM RI ikut merangkak naik sebesar 105 persen.
Jadi total realisasi investasi Sulut mulai dari Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar 3,307 triliun. Kebanyakan berasal dari listrik, gas dan air. Untuk negara terbanyak dari Tiongkok 42 persen, Singapura 23 persen, Hongkong 12 persen, Malaysia 8 persen, Luxemburg 5 persen
Dengan demikian secara kumulatif periode Januari–Desember 2019 realisasi investasi Sulut yang telah direalisasikan oleh investor sebesar 11,566 triliun 105 persen dari target pemerintah BKPM RI tahun 2019 dan 308 persen dari target RPJMD Sulawesi Utara tahun 2019. Jumlah proyek sebanyak 686. Terdiri dari PMDN 8,259 triliun atau 289 proyek dan PMA 3,307 triliun atau 397 proyek.
Sebelumnya, Presiden RI Joko Widodo saat menyampaikan bahwa investasi menjadi kunci utama yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
“Satu-satunya jalan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi hanya satu yaitu investasi,” kata Jokowi.
Ia mengatakan, saat ini tidak ada cara selain mendorong investasi ke dalam negeri. Lanjut Presiden, investasi berperan sangat signifikan terhadap ekonomi Indonesia. Pasalnya, APBN dan APBD hanya berkontribusi sebesar 23 persen terhadap ekonomi.
“Artinya 77 persen yang memengaruhi ekonomi kita adalah dunia swasta. Kita harus ngerti ini semua,” kuncinya.

Sementara itu untuk menunjang investasi, Provinsi Sulut terus berbenah, sejumlah infrastruktur penunjang pun terus disiapkan. Seperti jalan tol Manado Bitung hingga perluasan bandara Sam Ratulangi.
Bandara Sam Ratulangi Manado saat ini dalam proses pengerjaan proyek perluasan terminal dan fasilitas penunjangnya.
Proyek ini akan membuat kapasitas meningkat lebih dari dua kali lipat dari 2,6 juta menjadi 5,7 juta penumpang per tahun.
Pekerjaan proyek perluasan masih terus berjalan sesuai rencana dan ditargetkan selesai pada akhir tahun 2020 sehingga dapat menjadi hadiah akhir tahun yang menyenangkan bagi seluruh masyarakat Sulawesi Utara.(srv)











