Cuaca Ekstrim, BMKG Larang Nelayan Melaut

0
144
Angin kencang di Teluk Manado Minggu (18/10/2020)

Manado, Sulutreview.com – Cuaca ekstrim yang disertai angin kencang dan gelombang tinggi menjadi tanda awas bagi nelayan yang melaut.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas II Maritim Bitung melalui peringatan dini gelombang tinggi menyerukan kepada nelayan untuk tidak melaut.

Pertimbangannya, gelombang tinggi terjadi di Laut Sulawesi, Perairan Kepulauan Sangihe, Perairan Kepulauan Talaud, Perairan Kepulauan Sitaro, Perairan Bitung – Likupang, Perairan Utara Sulawesi Perairan Selatan Sulut dan Laut Maluku Bagian Utara

Tinggi gelombang diperkirakan mencapai
2,5 hingga 4,0 Meter.

“Harap diperhatikan risiko tinggi terhadap keselamatan pelayaran,” ungkap Kepala Seksi Observasi dan Informasi Ricky Daniel Aror dan Prakirawan Niken Kusumawardani, Minggu (18/10/2020).

BMKG memperingatkan agar memperhatikan keadaan cuaca ekstrim ini, berikut poin pentingnya :

I. Perahu Nelayan (Kecepatan angin lebih dari 15 knot dan tinggi gelombang di atas 1.25 meter).
II. Kapal tongkang (Kecepatan angin lebih dari 16 knot dan tinggi gelombang di atas 1.5 meter).
III. Kapal Ferry (Kecepatan angin lebih dari 21 knot dan tinggi gelombang di atas 2.5 meter).
IV. Kapal Ukuran Besar seperti Kapal Kargo/Kapal Pesiar (Kecepatan angin lebih dari 27 knot dan tinggi gelombang di atas 4.0 m).

“Masyarakat dan kapal-kapal yang melakukan aktivitas di daerah yang tercantum dalam daftar Peringatan Dini tersebut, harap mempertimbangkan kondisi tersebut,” kata Aror dan Niken.

Berdasarkan analisa, terjadinya hujan
sedang-lebat yang disertai angin kencang di wilayah Sulawesi Utara untuk hari ini dan beberapa hari terakhir disebabkan
terdapat pusat tekanan rendah 1007 hPa di
Samudera Pasifik sebelah timur
Filipina.

Hal ini menyebabkan penumpukan angin (konvergensi) di Laut Sulawesi Bagian Timur. Kondisi tersebut menyebabkaan
peningkatan kecepatan angin terutama di atas wilayah bagian utara Sulawesi Utara (wilayah Kepulauan) dan banyaknya
pertumbuhan awan-awan hujan (konvektif) yang di mulai dari wilayah perairan sebelah
utara Sulawesi Utara (wilayah Kepulauan).

Adanya perbedaan suhu udara yang cukup signifikan antara lautan dan daratan pada
siang, sore, dan menjelang malam hari, maka hal ini menyebabkan awan-awan yang membawa hujan dengan bentangan yang luas datang dari arah lautan menimbulkan hujan sedang-lebat disertai angin kencang dan turbulensi udara di wilayah daratan terutama di wilayah pantai.(hil)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here