Bertambah 3.003 Kasus, Covid-19 di Indonesia, Masuk Fase Kritis

0
79
Ilustrasi

Sulutreview.com – Jumlah pasien positif Covid-19 di Indonesia, berdasarkan data yang diungkap pemerintah hingga Jumat (28/8/2020) pukul 12.00 WIB tercatat ada penambahan 3.003 kasus dalam 24 jam terakhir.

Angka itu, merupakan penambahan kasus paling tinggi sejak pasien pertama Covid-19 diumumkan Presiden Joko Widodo pada 2 Maret lalu.

Sampai sejauh ini, jumlah pasien Covid-19 di Indonesia mencapai 165.887 orang.

Penambahan 3.003 kasus baru ini juga merupakan hasil dari pemeriksaan 33.082 spesimen.

Pada periode yang sama, ada 16.649 orang telah diambil sampelnya untuk pemeriksaan spesimen.

Pemerintah telah memeriksa 2.169.498 spesimen Covid-19 dari 1.250.135 orang. Di mana satu orang diperiksa spesimennya lebih dari satu kali. Hal itu dilakukan dengan menggunakan metode real time polymerase chain reaction (PCR) dan tes cepat molekuler (TCM).

Satuan Tugas Penanganan Covid-19 melalui data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang dikutip Kompas.com, rekor penambahan kasus dalam sehari pernah terjadi pada Kamis (27/8/2020) dengan 2.719 orang. Selanjutnya, pada 9 Juli 2020 dengan 2.657 orang dengan total kasus 70.736 orang.

Data pemerintah pun menunjukan, 3.003 kasus baru pasien positif Covid-19 tersebar di 31 provinsi.

Tercatat empat provinsi dengan penambahan kasus baru tertinggi, keempatnya yakni DKI Jakarta (869 kasus baru), Jawa Barat (526 kasus baru), Jawa Timur (417 kasus baru), dan Jawa Tengah (242 kasus baru).

Penularan Covid-19 secara keseluruhan hingga saat ini terjadi di 486 kabupaten/kota yang berada di 34 provinsi.

Selain itu, ada tiga provinsi yang tidak terdapat kasus baru Covid-19 dalam 24 jam terakhir. Ketiga provinsi itu yakni Bangka Belitung, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.

Pemerintah juga mencatat ada 77.857 suspek terkait Covid-19 di Indonesia.

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/413/2020 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease 2019 (Covid-19), suspek merupakan istilah pengganti untuk pasien dalam pengawasan (PDP).

Seseorang disebut suspek Covid-19 jika mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di negara/wilayah Indonesiayang melaporkan transmisi lokal.

Istilah suspek juga merujuk pada orang dengan salah satu gejala/tanda ISPA dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi/probable Covid-19.

Bisa juga, orang dengan ISPA berat/pneumonia berat yang membutuhkan perawatan di rumah sakit dan tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan.

Meski jumlah kasus Covid-19 terus bertambah, pemerintah menumbuhkan harapan dengan mengungkapkan semakin banyaknya pasien yang sembuh.

Pada periode yang sama, diketahui bahwa ada penambahan 2.325 pasien Covid-19 yang sembuh dalam sehari.

Mereka dinyatakan sembuh setelah pemeriksaan dengan metode PCR memperlihatkan hasil negatif virus corona.

Dengan demikian, total pasien Covid-19 yang sembuh dan tidak lagi terinfeksi virus corona mencapai 120.900 orang.

Kemudian, pada periode 27 – 28 Agustus 2020, ada penambahan 105 pasien Covid-19 yang tutup usia.

Sehingga, angka kematian akibat Covid-19 di Indonesia mencapai 7.169 orang.

Indonesia kritis Covid-19

Epidemiolog Griffith University Dicky Budiman pun mengingatkan agar Indonesia terus melakukan penguatan kuantitas dan kualitas testing virus corona.

Sebab, menurut dia, Indonesia saat ini telah memasuki fase awal kritis akibat Covid-19.

“Indonesia ini sudah memasuki fase kritis awal yang diperkirakan mengalami puncak di awal Oktober 2020, khususnya Jawa. Ini bisa berlangsung lama, bisa sampai akhir tahun,” kata Dicky, Rabu (26/8/2020).

Hingga saat ini, menurut Dicky, hanya DKI Jakarta yang bisa dinilai secara valid karena memiliki cakupan tes memadai dan memenuhi target Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yaitu satu tes per seribu per minggu.

“Untuk melihat secara valid berapa kasus baru harian, tentu harus diakukan dengan testing yang optimal, baik kuantitas maupun kualitas,” jelas dia.(kcm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here