Atasi Covid-19, Asrama Haji Manado Difungsikan Jadi Rumah Singgah

0
153

Manado, Sulutreview.com – Jumlah kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Manado yang terjadi  sejak 14 Maret 2020 sampai saat ini terus bertambah.

Sejumlah langkah cepat pun dilakukan Pemerintah Kota Manado. Hal itu diawali dengan keputusan meliburkan kegiatan persekolahan.

Tujuannya untuk menyelamatkan para siswa dan guru yang rentan, dilanjutkan dengan penguatan organisasi, pengadaan peralatan medis, hingga penyediaan rumah singgah untuk penanganan pasien terkait Covid-19.

Meski demikian ada sejumlah kendala yang dihadapi pemerintah, salah satunya, penyediaan rumah singgah oleh Pemerintah Kota Manado yang mengalami dinamika yang cukup tinggi.

Beberapa kali titik atau lokasi yang sudah direncanakan untuk dijadikan rumah singgah, akhirnya dibatalkan karena berbagai alasan.

Paling sering argumen yang dijadikan alasan ternyata berujung stigma terhadap pasien meskipun hanya berstatus orang dalam perjalanan, orang dalam pemantauan, atau pasien dalam pengawasan.

Dinamika ini, sempat dialami di lokasi Asrama Haji milik Kementerian Agama RI.

Lokasi ini sebenarnya sudah dipersiapkan sejak awal April 2020, tetapi karena stigma dan proses penggunaan aset, pemanfaatannya baru dapat dilakukan pasca penandatanganan Memorandum of Understanding atau Nota Kesepahaman yang dilakukan oleh Walikota Manado, G.S. Vicky Lumentut dan Kepala Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Utara. Tepatnya, setelah mendapatkan persetujuan Gubernur Sulawesi Utara, Olly Dondokambey pada Rabu (01/07/2020).

Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Dinkes Kota Manado sekaligus Sekretaris Dinas Kesehatan, dr. Marini Kapojos ketika dikonfirmasi di kantornya menjelaskan, salah satu perwujudan dari refocusing dan relokasi APBD Kota Manado sebagai bagian dari strategi penanganan kesehatan adalah kehadiran Rumah Singgah sebagai fasilitas bagi pasien terkait Covid19.

“Atas dukungan Pak Wali Kota, kami menyiapkan 305 tempat tidur, kamar dengan fasilitas air panas, televisi pada bagian tertentu, serta pendingin ruangan. Khusus pendingin ruangan, mengingat karakter virus, tidak digunakan. Warga yang melakukan isolasi di rumah singgah juga kami siapkan makanan 3 kali sehari dan makanan ringan 2 kali sehari untuk menunjang asupan gizi dan imun,” jelasnya
Senin (03/08/2020).

Sejak awal penggunaan hingga saat ini, seluruh pasien terkait diterima di rumah singgah dan menjalani perawatan sesuai protokol Covid-19 yang ditetapkan.

Dokter Marini juga menambahkan bahwa sejak dioperasikan sebulan lalu, hingga saat ini Rumah Singgah tidak pernah menolak warga yang datang dan melakukan isolasi.

“Semua warga yang datang dan secara medik dapat dipertanggungjawabkan sebagai Kontak Erat Risiko Tinggi (KERT), pasien suspek, dan terkonfirmasi Positif, semua diterima. Kategori yang tidak dapat diterima untuk diisolasi di rumah singgah adalah tidak bergejala, karena kalau bergejala harus diisolasi ke rumah sakit,” ujar Marini.

Walikota Manado, GS Vicky Lumentut selaku Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid19 saat dimintai tanggapannya soal Rumah Singgah Pemkot Manado di Asrama Haji menjelaskan bahwa pemanfaatan tersebut tidak mudah.

”Tidak mudah bagi Pemkot Manado untuk mendapatkan fasilitas Rumah Singgah seperti di Asrama Haji Tuminting. Atas rekomendasi Pak Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey, Kementerian Agama melalui Kantor Kemenag Sulawesi Utara akhirnya menyetujui pemanfaatan Asrama Haji sebagai Rumah Singgah,” jelas Lumentut.

“Sejak 1 Juli, kita sudah mengoperasikan rumah singgah dengan berbagai fasilitas di empat lantai yang ada serta kebutuhan makanan dan minumannya. Karena fasilitas ini sangat penting, Rumah Singgah Asrama Haji, terbuka untuk semua warga Manado yang membutuhkan karantina atau isolasi akibat terkait Covid-19,” tandasnya.(jelina)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here