Balita Suspect Corona di RSUP Prof Kandou, Alami Batuk Pilek

0
404

Manado, SULUTREVIEW

Menyikapi adanya WNA asal China, yakni balita berumur 2 tahun 6 bulan, yang diinformasikan suspect virus Corona, diklarifikasi pihak Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut).

Kepala Dinkesda Provinsi Sulut, dr Debie Kalalo dalam rilisnya menyatakan bahwa bayi dan kedua orang tuanya tidak bersembunyi sebagaimana isu yang berembus.

“Ada isu yang berkembang bahwa WNA asal China tengah bersembunyi di Hotel Four Points dan kemudian diberitakan tengah sakit bersama anaknya, yang kemudian diisolasi sehingga disarankan kepada masyarakat untuk menghindari datang ke Hotel Four Points dan Mantos. Untuk itu perlu kami klarifikasi,” ungkap Kalalo, Rabu (5/2).

“Tidak benar mereka dalam status bersembunyi. Mereka adalah wisatawan yang melanjutkan waktu liburan mereka di Provinsi Sulawesi Utara secara resmi dan dipantau oleh travel agent yang membawa mereka. Mereka tiba di Provinsi Sulawesi Utara tanggal 21 Januari 2020,” jelas Kalalo.

dr Debie Kalalo

Kalalo juga menepis bahwa satu keluarga tersebut sakit.

“Yang mengalami gejala demam adalah balita berumur 2 tahun 6 bulan pada tanggal 30 Januari 2020 dan pada tanggal 3 Februari 2020 mengalami gejala batuk pilek. Oleh indikasi ini maka yang bersangkutan masuk dalam kriteria pengawasan dan dimasukkan ke ruang isolasi di RSUP Prof Kandou,” sebutnya kembali.

Akan keberadaan balita tersebut, ungkap Kalalo, maka kedua orang tuanya juga harus ikut mendampingi.

“Sampel dari yang bersangkutan telah diambil dan duperiksa di Puslitbangkes Kemenkes dan dalam waktu yang tidak terlalu lama status yang bersangkutan sudah akan dukekahui,” ujarnya sambil menambahkan tidak ada bukti ilmiah bahwa penyakit 2019 nCoV menular Iewat sistem pendingin udara central.

“Karena diperlukan partikel bersin dan batuk yang cukup besar untuk virus bisa bertahan. Dan pemanasan oleh sinar matahari akan membuat virus menjadi aktif,” imbuhnya.

“Kami memohon masyarakat untuk tidak cepat percaya terhadap hoax dan tidak menyebarkannya tanpa ada klarifikasi,” kuncinya.(srv)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here