web analytics

OJK Dorong Industri Jasa Keuangan SulutGoMalut Gulir Produk Variatif

OJK Dorong Industri Jasa Keuangan SulutGoMalut Gulir Produk Variatif
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) SulutGomalut Slamet Wibowo

Tomohon, SULUTREVIEW

Era teknologi digital yang terus berkembang diharapkan menjadi sarana terbaik bagi perbankan yang ada di Sulawesi Utara Gorontalo dan Maluku Utara (SulutGoMalut) untuk lebih meningkatkan kinerjanya.

Dikatakan Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) SulutGomalut Slamet Wibowo, hingga di triwulan akhir 2019, kinerja perbankan secara umum sudah membaik.

Namun demikian, berbagai upaya dan strategi harus terus dilakukan.

“Perbankan harus memberikan layanan yang lebih baik lagi. Tentunya sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Contohnya seperti layanan digital yang lebih cepat, mudah dan murah dan juga produk-produknya harus lebih variatif,” ungkap Slamet di sela-sela Media Talk yang dilaksanakan di Danau Linow Tomohon pada Jumat (29/11/2019) baru-baru ini

Menurut Slamet yang didampingi Kepala Bagian Edukasi dan Perlindungan Konsumen, Industri Keuangan Non Bank (IKNB) dan Pasar Modal OJK SulutGoMalut Ahmad Husein, bahwa perbankan juga harus lebih kreatif dalam menyasar pasar kredit. Khususnya bank-bank kecil maupun Bank Perkreditan Rakyat (BPR).

“Jika bank memiliki modal yang semakin besar otomatis mereka mempunyai kemampuan keuangan yang lebih besar. Dengan demikian peluang masyarakat untuk mendapatkan penyaluran pinjaman semakin terbuka,” tukasnya.

Slamet mengungkapkan kenaikan plafon Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Rp140 triliun menjadi Rp190 triliun di 2020 mendatang, harus dimanfaatkan. Kalau tidak, maka bank-bank kecil maupun BPR tidak berperan.

“Jangan hanya bank-bank besar saja seperti BRI dan Mandiri terus yang merealisasikan KUR. Dan tentunya
juga harus disesuaikan dengan plafon yang ada. Oleh karena itu OJK juga mendorong agar bank-bank kecil serta BPR mereview kembali strateginya, agar supaya plafon yang diterima di tahun depan itu bisa terserap dengan baik,” jelasnya.

“Strateginya adalah yang kalau dari kita mengarahkan agar mereka memakai klaster atau kelompok. Dan kalau bisa juga, terutama bank yang kecil-kecil bisa menyasar ibu rumah tangga yang basic-nya melakukan usaha, namun sulit untuk mengakses pinjaman. Bisa juga dengan sistem tanggung renteng,” tandasnya.

Slamet bilang, kalau lewat kelompok klaster akan lebih mudah. Karena dalam kelompok tersebut ada ketuanya ada anggotanya. Dalam mekanismenya pasti ada pola-pola edukasi dan pemberdayaan sehingga mudah untuk menyasar sesuai dengan bidang usahanya.

Slamet juga menambahkan saat ini posisi kinerja bank tumbuh positif. Untuk total aset sebesar 14%, sementara penyaluran kredit 6%, sedangkan dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 9%.

Untuk kinerja BPR di Sulut, total aset diketahui tumbuh sekitar 20%, kredit tumbuh 22%, dan DPK tumbuh 14%. Selanjutnya, untuk perusahaan pembiayaan tumbuh 10%.

“Penyaluran paling besar pastinya Manado, padahal kalau nggak salah posisi pertengahan tahun lalu adalah Kota Palu paling besar dan kedua Bolmong, dan segmennya didominasi pertanian,” ujarnya.

“Mungkin kita bisa evaluasi lagi, mengenai apa yang akan kita capai termasuk juga eksposurnya. Dengan pola-pola yang sistem klaster, juga diharapkan pola-pola strategi kemitraan dan kerja sama,” tukasnya.

Slamet berharap pola tersebut dapat diaplikasikan bank penyalur KUR agar dapat enggandeng BPR.

“Dengan demikian supaya mereka juga bisa bekerja sama dengan bank umum untuk menyalurkan KUR sehingga bisa digunakan sebagai sarana belajar dan sharing pengalaman BPR. Bisa juga dengan sistem channeling,” tandasnya.(eda)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply