Jakarta, SULUTREVIEW
Anggota Fraksi PDI Perjuangan (F-PDIP) MPR RI, Muchammad Nabil Haroen mengatakan situasi yang tidak menentu seperti ini, bagaimana seluruh elemen bangsa ini berupaya melakukan nilai-nilai kepahlawanan yang pernah dilakoni oleh para pahlawan yang gugur mempertahankan Negara Kesatuan Republik Inesia (NKRI) dari para penjajah.
Sesuai asal katanya, pahlawan berasal dari kata Pala, atau buah pala, yang berarti orang yang melakukan sesuatu, atau berbuat sesuatu. Karena itu, sudah tepat jika istilah pahlawan disematkan kepada orang yang melakukan sesuatu buat orang lain. Ini sesuai dengan hadis nabi, yang berarti, setiap kamu adalah pemimpin. Dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungan jawabannya.
“Makanya aneh, kalau ada umat Islam tidak mau berbuat apapun untuk orang lain, karen nanti dia akan dimintai pertanggungan jawab,” kata Gus Nabiel sapaan akranya ini dalam diskusi Empat Pilar MPR RI di Media Center Gedung Nusantara III di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (11/11/2019).
Menurutnya upaya melakukan nilai-nilai kepahlawanan itu seperti yang pernah dlakukan para santri di Nandhlatul Ulama (NU), misalnya pada setiap Natal mereka (santri NU), menjaga gereja supaya tidak ada gangguan.
“Memang itu tidak boleh disebut pahlawan, tetapi kita bisa menyebutnya bahwa santri atau Banser itu sedang melaksanakan nilai-nilai kepahlawanan,” tukasnya
Ketua Umum Pagar Nusa itu juga mengatakan bahwa yang tidak pernah berubah dari dulu hingga saat ini dan tidak dimiliki oleh negara-negara lain adalah Pancasila dengan nafas gotong royongnya, sebagaimana disebut oleh Bung Karno (Presiden pertama RI).
“Kenapa di sebut Gotong Royong, sebab kita tidak bisa kuat, tidak bisa solid kalau sendirian. Dan tentunya, bagaimana kita bisa menjalankan itu semua dengan sebaik-baiknya, dengan menjalankan nilai kepahlawanan di lini kita masing-masing,” kuncinya.(rizal)













